Mengenal 'Stunting' dan Bahayanya pada Pertumbuhan Anak


  • Mengenal 'Stunting' dan Bahayanya pada Pertumbuhan Anak
    Mengenal Stunting dan bahaya yang mengintai pada tumbuhkembang anak. (Foto: Freepik)

    Bayi stunting (bertubuh pendek) merupakan kondisi yang perlu dicegah para orang tua sejak dini. Sebab bila dibiarkan, kemampuan kognitif seorang anak akan menurun, dan ia punya kemampuan daya saing yang lemah di masa depan.

    Menurut dokter Damayanti R. Sjarif, Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM, stunting adalah masalah gizi terbesar di Indonesia. Data dari seluruh Indonesia, angka stunting >20% di seluruh provinsi, termasuk DKI Jakarta. Alhasil, saat ini  menyebabkan Indonesia menempati peringkat 5 stunting terbanyak di dunia.

    Tapi, tak semua anak pendek berarti stuntin, dan stunting bukan hanya soal tubuh yang pendek. “Stunting jadi masalah karena akan meningkatkan mortalitas. Anak stunting empat kali lebih mudah meninggal, dan IQ-nya turun 11,” tutur Damayanti, di Jakarta, baru-baru ini. 



    (Baca juga: Waktunya Peduli Gizi Anak Bangsa)

    Pendek bisa karena memang bawaan genetika, ada yang patologis. Kalau patologis terbagi lagi, yakni ada yang proporsional dan ada yang tidak proporsional. Untuk yang tidak proporsional misalnya cebol. Sedangkan stunting biasanya proporsional. 

    “Stunting adalah perawakan pendek yang disebabkan karena asupan nutrisi yang kurang adekuat, atau kondisi kesehatan yang kurang baik,” tegas Damayanti. “Atau dengan kata lain, stunting adalah persoalan gagal tumbuh atau anak tidak tumbuh optimal seperti seharusnya karena kekurangan gizi. Disebut stunting bila nilai Z-scor -2, dan disebut stunting berat (severely stunting) bila nilai Z-score -3,” urainya. 

    Lebih jauh, ia menjelaskan, stunting bisa diawali karena bayi lahir prematur, atau berat badan lahir rendah (BBLR). Jadi, ‘modal’ anak memang kurang sejak awal. Tapi yang paling banyak adalah post natal atau anak tidak mendapat asupan nutrisi yang adekuat setelah lahir.

    Hal itu terjadi bisa karena ekonomi keluarga yang kurang, bisa karena orangtua tidak tahu cara memberi makan yang benar, bisa karena persoalan abuse, atau karena sakit. Misal, anak sering demam. Meski asupan nutrisinya bagus, tapi akhirnya terpakai untuk mengatasi demamnya.

    (Baca juga: Mengembangkan Bakat Sepak Bola Anak-anak Indonesia)

    “Idealnya, petumbuhan anak berjalan linear. Pertambahan berat badan (BB) diikuti dengan peningkatan tinggi badan (TB). Pertumbuhan paling cepat terjadi dalam setahun pertama. Setelah itu mulai turun, lalu naik lagi saat anak puber. Yakni usia 10 tahun pada anak perempuan, dan 12 tahun pada anak lelaki. Dr. dr. Damayanti menegaskan, “Bawa ke dokter bila anak pendek. Harus dicari tahu apakah normal atau patologis. Hanya dokter yang bisa menentukan itu,” tegasnya.

    Penyebab stunting

    Namun hal yang pasti, stunting selalu diawali dengan BB kurang. BB perlahan turun namun dibiarkan saja sehingga masalah menjadi berlarut-larut. Jika anak sampai kekurangan asupan energi, yang pertama kali dikorbankan adalah otaknya. 

    Maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi seandainya asupan gizi anak jelek selama usia 1 tahun pertama. Penelitian menunjukkan, bayi yang pernah mengalami gizi kurang atau gizi buruk di usia <1 tahun, maka pada usia 40 tahun, 25% akan memiliki IQ <70, dan 40% memiliki IQ <90. 

    Saat anak lahir, bukan hanya BB yang perlu diukur, tapi juga TB. Jika menurut grafik pertumbuhan skor anak lebih dari +1 atau kurang dari -2, anak harus segera dirujuk ke Puskesmas. Selanjutnya harus diukur TB dan lingkar kepala anak. Pada anak <2 tahun, TB diukur dengan posisi anak telentang, dan berdiri bila usia anak >2 tahun. 

    “Bila ditemukan skornya -2, anak harus segera dirujuk ke dokter spesialis anak. Tidak boleh ditunda, karena kita hanya punya waktu sampai anak berusia 2 tahun untuk mengejar ketertinggalan. Bila ditemukan di awal, masih bisa diperbaiki,” kata dokter Damayanti.

    (Baca juga: 4 Manfaat Vitamin D yang Wajib Diketahui)

    Kecerdasan berkurang, TB pun terhambat pertumbuhannya. Hingga usia 1 tahun, bagian yang banyak tumbuh adalah batang tubuh, karena itu bayi tampak montok dan perutnya sedikit buncit. Setelah usia 1 tahun hingga remaja, yang tumbuh pesat adalah bagian kaki (tulang panjang). Pada ujung-ujung tulang panjang inilah terdapat lempeng pertumbuhan. Lempeng ini yang akan bertambah, sehingga tulang makin panjang. 

    Untuk membentuk lempeng ini dibutuhkan energi dan protein. Protein berperan untuk membawa hormon pertumbuhan atau growth hormone (GH) yang diproduksi di hati, ke lempeng pertumbuhan dan otot, sehingga tubuh makin panjang. 

    “Jadi bila tidak ada protein, tidak ada yang mengangkut. Bila defisiensi nutrisi dibiarkan berkepanjangan, pada akhrinya keseimbangan hormonal akan terganggu. Produksi GH terganggu, anak pun menjadi makin pendek,” terang dokter Damayanti

    Tak kalah penting, tambahnya, pola tidur anak juga harus baik. GH diproduksi saat anak tidur dalam, karenanya anak harus tidur nyenyak terutama di malam hari. “Produksi GH paling tinggi pada pukul 11 malam hingga dua pagi. Namun, ini tak akan terjadi bila tidur anak tidak nyenyak. Dan, GH baru keluar setelah anak tidur selama tiga jam,” papar Damayanti. 

    (Baca juga: Kesuksesan Program Reproduksi Berbantu di Indonesia)

    Oleh karenanya, anak harus tidur pukul 8 malam agar GH bisa diproduksi pukul 11 malam. Selain itu, produksi GH juga dipengaruhi oleh latihan fisik dan asupan asam amino yang adekuat.

    Dampak buruk 

    Dari semua itu, dampak buruk bayi yang mengalami stunting ialah kemampuan kognitif berkurang. Ini sangat krusial karena berhubungan dengan kemampuan mencari mata pencaharian di masa depan. Dalam temuan dokter Damayanti, dijelaskan bahwa pendapatan setelah mereka dewasa pun berkurang hingga 22%. Tersebab kemampuan kognitif mereka tidak terlalu baik, maka kemungkinan besar hanya bisa menjadi pekerja kerah biru. 

    Namun untuk menjadi karyawan di pabrik, tinggi badan tidak mencukupi karena pabrik tertentu memiliki persayatan tinggi badan minimal, disesuaikan dengan peralatan pabrik. Akhirnya menjadi buruh panggul. Lingkaran setan ini akan menurunkan nilai GDP (Gross Domestic Product) hingga 16%. “Dan MDG (Millennium Development Goals )untuk mengentaskan kemiskinan di muka bumi tidak akan tercapai dengan adanya stunting,” terang Damayanti.

    Lantas, bagaimana mencegah bayi stunting? 

    “Zat yang dibutuhkan agar tidak mengalami stunting ialah asam amino esensial. Nah, kamu bisa memberi makanan yang mengandung zat ini dalam masa pertumbuhannya. Kamu bisa mendapatkan dalam asupan protein. Tapi, konsumsilah lebih banyak protein hewani ketimbang nabati, katakanlah kacang kedelai. Itu karena asam amino esensial yang ada pada nabati tidak tidak lengkap,” pungkasnya.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below