Agar Sukses di Usia Muda, Ini Caranya!


  • Agar Sukses di Usia Muda, Ini Caranya!
    Agar Sukses di Usia Muda, Ini Caranya!, (Foto:Freepik)

    SAAT seorang memasuki dunia pekerjaan, pasti ia berharap bisa menjadi sukses. Tapi, sayangnya banyak orang punya pemikiran tentang sukses yang salah.


    Benarkah? 




    Ya, menurut Meena K. Adnani, coaching carrier dan mentor dari Strong and Shine (Instagram/Facebook :@strongandshine), banyak orang punya pemikiran sukses tapi lebih ke financial success. Kita lebih senang mengejar sesuatu yang terukur atau terlihat, seperti punya rumah, mobil bagus, tinggal di perumahaan elit, setiap tiga tahun ganti mobil baru, atau punya tabungan ratusan juta.


    Padahal, kata Meena, kesuksesan dikatakan berhasil bila kita mencapai apa yang sudah kita targetkan di awal. Sesederhana, kamu punya target pergi ke gym sore ini, dan saat kamu bisa memenuhinya, kamu bisa dibilang sudah sukses.


    Pula bila kamu ingin menurunkan berat badan 10 kilogram, dan kamu bisa mencapainya. Atau, kamu bisa memberi kepuasan konsumen dari keahlian yang kamu miliki, itu juga bisa disebut sudah sukses.


    “Ya, sebenarnya, sukses itu adalah ketika kamu bisa mengerjakan pekerjaan sesuai target dan orang lain merasa puas. Itulah kesukesan,” tegas wanita yang menjadi executive vice president of content development and bussiness affairs First Media ini.




    Atau, kamu juga bisa menyimpulkan bahwa kesuksesan ialah saat seseorang berhasil memberi manfaat kepada orang lain. Jadi, tak serta merta financial success yang diincar. “Toh, kalau kita punya value yang baik dalam pekerjaan kita, uang bakal datang sendiri. Seperti Sandiaga Uno dengan Saratoga Investama-nya, Achmad Zaky dengan Bukalapak-nya, Nadiem Makarim dengan Go-Jek-nya, Andrew Darwis dengan Kaskus-nya, dan masih banyak lainnya.


    Satu benang merah dari mereka semua ialah mereka punya value yang membantu banyak orang. Bermanfaat bagi sesama sehingga perusahannya berkembang dan akhirnya kariernya jadi meningkat.


    Dan sudah tentu, kamu bisa juga seperti mereka. Tinggal ‘keker’ keahlian apa yang kamu miliki saat ini, dan apa yang kamu bisa perbuat agar kehidupan masyarkat jadi lebih baik. Itu sederhananya, saran Meena.


    Tapi, kalau kamu ingin penjelasan lebih, berikut kami ulas 5 pilar penting untuk sukses seperti hasil konsultasi dengan Meena.


    PILAR I: “Success without significance is superficial


    Berkembangnya teknologi saat ini memunculkan peluang bisnis baru. Banyak orang memanfaatkan peluang tersebut dan berhasil muncul ke permukaan. Sudah tentu, mereka punya value positif yang dibawa.


    Dan Nadiem Makarim merupakan contoh kekinian yang pas untuk menggambarkan spirit itu. Dengan ide ingin membawa seseorang atau barang dari tempat satu ke tempat lain dengan cepat, nyaman dan aman, ia melahirkan Go-Jek dengan valuasi 4 milliar dollar AS sampai saat ini.


    Selain itu, Achmad Zaky, CEO Bukalapak, yang memberikan semua orang kesempatan untuk punya lapak usaha secara online tanpa harus punya toko terlebih dahulu. Hingga akhirnya melahirkan marketplace yang menjadi salah satu terbesar di Indonesia.


    Dan lewat value yang mereka pegang, mereka bisa membantu banyak orang. Dengan upaya itu, karier mereka tak berhenti hanya di umur 55-60 tahun -- batas umur karyawan untuk pensiun. Karir mereka bisa terus lanjut, bahkan ketika mereka sudah meninggal.


    Karenanya, saat mengejar kesukesan sebaiknya yang harus dipandang : adakah value yang kita bawa agar usaha kita berdampak positif untuk orang lain? Menurut Meena, sekali kita dapat dan menemukannya, hal itu akan membuat kita punya karier lebih baik. Dan soal uang, ia bisa datang dengan sendirinya.


    Memang, meningkatnya tuntutan hidup di perkotaan membuat mindset anak muda saat ini berorientasi pada materi. Tapi, jangan sampai terjebak bahwa bekerja hanya untuk cari uang. Sukses tidak terukur dengan uang. Kalau seperti itu, itu namanya financial success. Dan usaha yang kita lakukan itu cuma sementara.


    Inilah maksud dari pilar pertama: Success without significance is superficial, kesukesesan tanpa bermanfaat pada sesama itu semu. “Misalnya, saya, punya gerakan sosial @strongandshine. Saya suka membuat tulisan motivasi untuk menjalani gaya hidup sehat di instagram dan facebook. Value-nya saya sederhana: saya ingin kehidupan seseorang jadi lebih bahagia.


    Karena semua yang membuat kita bahagia atau sedih itu ada di dalam pikiran, dan saya ingin mengubah hal itu. Oleh sebabnya, semenjak saat memutuskan gerakan sosial ini, saya jadi sering menulis artikel. Dan dengan apa yang saya jalani itu, saya beruntung sering dipanggil untuk jadi pembicara dan mentor – memberi sesuatu positif dalam diri saya. Secara rutin saya mementori pengusaha muda diberbagai bidang agar bisa sukses di Endeavour Indonesia, sebuah komunitas yang berfokus pada pertumbuhan ekosistem entrepreneur,” ungkapnya.


    PILAR II : “Remember one thing: you’re enough”

    Ya, itu karena banyak sekali orang meremehkan diri sendiri. Orang lain bilang “Ah, kamu kurang pengalaman” atau “Oh, kamu kurang berkualifikasi tuh”, seseorang akhirnya jadi ikut ‘terbawa’ omongan itu. Kemampuannya jadi stagnan. Padahal, karier kita tidak hanya selesai dengan anggapan tersebut. Sebab, setiap orang itu berkembang. “Toh, sekalipun pernyataan benar, kita bisa mengubah hal itu,” kata Meena.


    “Terus apa yang harus dilakukan orang dong?”


    Yang perlu kamu lakukan ialah dengan mengenal diri kamu sendiri. Apa kekuatan kamu sendiri – apa yang bisa kamu banggakan dari keahlian kamu? Jadi, pertanyaan yang perlu kamu jawab sekarang : apa keahlian yang kamu punya sampai orang memuji-muji? Setelah tahu jawabannya, tekuni-lah – sampai kamu mencapai kemahiran.


    Sebab, jika kamu bisa sampai di titik itu, jasa kamu akan dipakai banyak orang. Dan kamu kelak dibayar layak yang bisa memenuhi hidup – dan membuktikan kalau omongan orang salah.


    “Seseorang bisa sampai down karena omongan orang, itu karena ia tidak ngasih power dalam dirinya sendiri. Oleh karenanya, kita harus mengerti power kita di mana. Yang bikin kamu percaya diri ‘eh ini gue lho’. Jika kamu bisa mencapai itu, kamu tidak bisa dibuat orang gampang down.


    Karena sebenarnya nggak ada yang bisa bikin kamu down, selagi kamu nggak approve sama pernyataan tersebut. Bagaimana caranya? Kamu harus memberi power kepada diri kamu sendiri: keahlian. Biar orang nggak meremehkan dirimu, sekali lagi,” kata Meena.


    PILAR III: “Selektif terhadap orang yang mempengaruhi kamu”


    Itu karena -- disadari atau tidak, sosok kita hari ini dipengaruhi orang yang ada di sekitar kita. Sesederhana ungkapan "you’re what you eat". Jadi, ‘konsumsilah’ apa yang baik untuk diri kita yang membuat kita berkembang. Itu agar kemampuan kita makin matang dan banyak jasa yang memakai kita hingga akhirnya membawa karier kita naik atau makin tinggi.


    Menurut Meena, di Indonesia ketika kamu punya teman yang keren dan pintar, itu bisa membuat kamu mempercepat apa yang kamu impikan. Dan sebaliknya, kalau kamu berada di dalam lingkungan yang salah, cita-cita kamu bisa menjauh.


    Jadi, selain kamu punya ‘teman tongkrongan’ yang membuat hidup kamu berwarna, kamu harus punya teman yang membuat kamu bisa menjadi lebih baik.


    “Ini bukan bermaksud untuk selektif terhadap semua orang, hingga akhirnya kita jadi tidak ingin berteman yang sederhana. Tidak. Kita bisa berteman dengan semua orang. Tapi, yang saya mau jelaskan, teman itu ada dua: teman yang memengaruhi kamu dan teman yang kamu pengaruhi. Milikilah itu. Agar pilar pertama bisa mudah tercapai,” urainya.


    “Saya punya teman yang bisa ‘melihat ke atas’, yang dari mereka saya hormat dan bisa belajar banyak – untuk jadi lebih baik. Namun, saya juga punya teman yang kita bisa sedikit memberi pengaruh positif ke mereka. Ilustrasinya, saya ingin seperti lilin ditaruh di kamar gelap. orang-orang membutuhkannya saat gelap. Kenapa lilin dibutuhkan?"


    Karena disekelilingnya gelap, maka orang membutuhkan. Kita juga sebaiknya seperti itu: bermanfaat. Setidaknya, saya ingin mengingatkan teman saya kalau perilaku mereka ada yang melenceng. Tujuannya satu: bukankah sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat?”


    PILAR IV: “Hidup adalah belajar tanpa henti”


    “Belajar itu tak selesai ketika kita sudah mendapat ijazah di sekolah. Tidak. Life is a class. Jadi hidup adalah belajar tanpa henti. Kalau kita terbuka, kita bisa belajar dari mana pun. Misal, dunia sekarang yang berubah dengan cepat di mana semua tersambung dengan internet dan pakai gadget. Hal itu sebaiknya harus disikapi dengan bijak. Kita harus beradaptasi,” kata Meena.


    Seumpama kamu adalah manager pemasaran di suatu perusahaan, di saat kondisi semua bisa diakses lewat ponsel, kamu harus juga memikirkan memasarkan produk lewat ponsel. Apakah dengan membuat aplikasi, website, atau penetrasi lewat sosial media. Jadi, tidak semata lewat pemasaran konvensional dengan pembagian brosur atau pemasangan di billboar jalan. Acuan kita: gaya hidup konsumen.


    “Pun kalau kita bisa mencapai prestasi yang memukau, jangan terlena hingga jadi pribadi yang mengungkit atau membanggakan prestasi dulu. Jangan mau jadi seperti katak yang hidup dalam tempurung. Mengapa? Dunia terus berubah. Siapa yang bisa cepat beradaptasi atau menjawab tantangan dia yang menang, dan keberhasilan yang kita capai dulu hanya tinggal kenangan.


    Sebab, kita hidup di era sekarang – dengan tantangan yang berbeda-beda dan kompetitor yang selalu berinovasi di segala sisi. Jadi, kita harus bersedia berubah, menyediakan waktu untuk belajar, dan menaklukan tantangan.,” urai Meena.


    PILAR V : “Percaya sama Tuhan”

    Menjadi pilar terakhir ini bukan kurang penting, justru sangat penting. Itu karena banyak sekali dari kita tidak melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan. Padahal, kita diajarkan untuk yakin bahwa Tuhan adalah sang pengatur takdir dan masa depan kita.


    Pernahkah kamu punya perasan tenang saat menjalani sesuatu? Bila iya, biasanya keputusan itu berangkat dari melibatkan Tuhan di sana. Kita sudah mengadu dan meminta petunjuk mana jalan yang benar. Alhasil, kita seperti diberikan ‘tanda’ ‘ah ini nih yang baik, ah ini nih jalannya’.


    Efeknya, perjalanan demi perjalanan pasti bisa disyukurI, membuat kita puas, tidak menyesal dan percaya: pada akhirnya karier kita akan mencapai puncak yang tinggi – yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below