Kate Spade, Anthony & Chester Bunuh Diri, Apa Motifnya?


  • Kate Spade, Anthony & Chester Bunuh Diri, Apa Motifnya?
    Kate Spade, Anthony & Chester Bunuh Diri, Apa Motifnya?, (Foto: Freepik)

    BELUM lama kita dikejutkan kematian desainer ternama Kate Spade meninggal karena bunuh diri, eh kini muncul berita bunuh diri lagi oleh chef ternama Anthony Bourdain. Sebelum itu juga kita sudah dibuat menarik napas dalam-dalam atas kematian Chester Bennington vokalis Linkin Park, karena hal yang sama.  


    Mereka diduga mengalami depresi berat padahal kehidupan mereka terbilang berkecukupan dan juga punya popularitas. 




    Apa yang sebenarnya terjadi?

    Mengapa mereka bunuh diri? 


    Menurut Roslina Verauli, psikolog keluarga dan anak dari RS. Pondok Indah, mempertanyakan motif justru hanya akan menebarkan lebih banyak stigma tentang bunuh diri dan masalah mental daripada mengatasinya. 


    "Tak heran, mereka dengan masalah mental lebih memilih menutupi dan menyembunyikan masalah daripada mengatasinya demi agar tidak "dipandang" dan "digosipkan" dengan cara tertentu," katanya dalam keterangan foto yang diunggah di akun instagram pribadinya, ditulis Sabtu (9/6/2018)


    Karena, tambah Verauli, mempertanyakan motif dan alasan seseorang bunuh diri tak pernah terjawab terlalu mudah. Terlalu kompleks. 



    Pasalnya, seseorang yang punya masalah kesehatan mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, prilaku impulsif, tak sekonyong-konyong membuat orang berakhir bunuh diri. 



    Menurut Verauli, faktor pengalaman seseorang di masa lalu berperan penting dalam seseorang memutuskan untuk bunuh diri--meski hidupnya sudah berkecukupan secara ekonomi. 


    Selain itu juga karena kemampuan kecerdasan emosi sangat rendah --yang biasanya bisa terolah baik dengan mendekati diri dengan ilmu agama.


    Mengapa? Penerimaan seseorang terhadap kondisi, katakanlah stres, berbeda-beda. Dan itu sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. Jika orang punya kecerdasan emosi yang tinggi, ia cenderung akan lebih fleksibel dengan setiap kondisi yang dihadapinya. Tidak gampang stres atau mudah tersulut emosinya. 



    "Ada sejumlah riwayat tentang masa kecil di dalam keluarga dan pengalaman bersama orang-orang di sekitar, termasuk penghayatan religi yang juga berperan pada individu yang akhirnya meninggal dengan cara bunuh diri, " urainya. 



    Masih menurut Verauli, penting untuk tidak menyerang privacy mereka yang meninggal dengan bunuh diri. Apalagi membuka aib individu yang bersangkutan dan keluarganya. 


    Karena itu memberi vibe emosi negatif bagi semua orang, khususnya para penderita masalah mental yang justru membuat mereka menutup diri. Bukannya untuk mengobati diri --dengan datang ke psikiater atau psikolog. 


    "Semoga kita senantiasa dirahmati kemampuan yang lebih baik dalam merespon kejadian memilukan seperti kematian dengan bunuh diri, " tungkasnya.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below