Mengenal Difteri Dan Cara Mencegahnya


  • Mengenal Difteri Dan Cara Mencegahnya
    (Foto: Pexels.com)

    DEFINISI
    Penyakit menular ini disebabkan oleh bakteri gram positif Corynebacterium diptheriae strain toksin yang biasanya menyerang lapisan selaput lendir (membran mukosa) saluran pernapasan atas hingga dapat menimbulkan peradangan terutama pada hidung, faring, laring, dan tonsil. Bahkan pada kasus tertentu, penyakit ini juga menginfeksi kulit. Jika tidak diobat dengan cepat, penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi yang menyumbat jalan napas, kerusakan otot jantung, kerusakan saraf, kelumpuhan, gagal ginjal, hingga kematian. Hal ini disebabkan karena racun yang dihasilkan oleh bakteri tersebut bisa masuk dalam peredaran darah.
        Difteri kerap ditemui di negara berkembang seperti Indonesia, di mana angka vaksinasi dianggap masih rendah. Meski anak-anak merupakan sosok paling rentan terhadap penyakit ini, difteri bisa menyerang siapa saja. Penularan difteri bisa terjadi melalui percikan ludah seperti batuk, bersin, muntah, atau bersentuhan langsung dengan lesi di kulit. Bersentuhan dengan benda yang mengandung bakteri penyebab difteri juga bisa menjadi media penularan, seperti piring dan alat rumah tangga lainnya.

    TANDA & GEJALA
    Menurut dr. Andika Widyatama dari Brawijaya Women & Children Clinic Kemang, tanda dan gejala difteri meliputi:

    1. Demam tidak tinggi (kurang dari 38,5 derajat Celcius).
    2. Nyeri pada tenggorokan dan saat menelan.
    3. Pilek, suara serak, dan adanya selaput berwarna putih keabu-abuan di tonsil (amandel), faring (hulu kerongkongan), atau laring (bagian atas tenggorokan) yang tidak mudah lepas, serta berdarah saat selaput diangkat.
    4. Jika sudah berat, timbul kesulitan menelan, sesak napas, muncul suara napas tambahan, dan pembengkakan leher bak leher banteng.

    Jika seseorang diduga kuat mengalami difteri, segera konsultasikan ke dokter. Perawatan perlu dilakukan di dalam ruang isolasi rumah sakit untuk meminimalkan penularan. Untuk mendapatkan diagnosis harus melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan penunjang. Selain penderita, orang-orang di sekitar penderita juga harus memeriksakan diri mengingat penyakit ini sangat mudah ditularkan. Ada dua jenis obat yang akan diberikan yaitu antibiotik dan antitoksin.

    PEMICU
    Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena difteri, seperti:
    Tidak melakukan vaksinasi difteri terbaru.
    Daya tahan tubuh lemah seperti anak-anak atau orang tua.
    Kondisi tempat tinggal yang padat penduduk atau tidak higienis.

    TAHAP PENCEGAHAN
    Upaya pencegahan paling efektif adalah dengan melakukan imunisasi difteri. Penyuntikan vaksin difteri pada anak dilakukan sebanyak tiga kali, di mana jarak waktu penyuntikan pertama dengan kedua adalah satu bulan. Sedangkan jarak waktu penyuntikan kedua dan ketiga adalah enam bulan. Untuk orang dewasa, penyuntikan vaksin difteri cukup dilakukan sebanyak satu kali.
        Selain pemberian vaksin, dr. Andika Widyatama juga menyarankan upaya lain demi mencegah penularan penyakit ini, yaitu dengan:

    1. Menggunakan masker terutama di tengah keramaian sehingga Anda tak terjangkit dari udara.
    2. Hindari kontak langsung dengan luka penderita difteri.
    3. Mengonsumsi asupan sehat seperti buah dan sayuran, serta tentunya air putih.
    4. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan rajin mencuci tangan dan memastikan lingkungan sekitar sudah bersih.





 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below