A Chat with Putrama Tuta, Sutradara 'A Man Called Ahok'


  • A Chat with Putrama Tuta, Sutradara 'A Man Called Ahok'
    Putrama Tuta, sutradara film 'A Man Called Ahok'. (Foto: Dok/Pribadi)


    Film 'A Man Called Ahok' sukses menuai pujian dan mendapat sambutan positif sejak dirilis beberapa waktu lalu. Putrama Tuta, sutradara yang sebelumnya pernah membuat Catatan Harian Si Boy buka-bukaan, dan berbagi cerita di balik layar. 

    Bagaimana ia membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk proses pembuatan. Dilematis ketika Ahok mendapati berbagai persoalan di sepanjang pembuatan film. Hingga reaksi berlebihan dari publik akan film Ahok yang tak seperti dugaan mereka sebelumnya. 



    "Pertama kali ketika saya mendapat tawaran bikin film ini, saya ajukan dua syarat yakni menghindari dominasi politiknya, dan memberi sesuatu yang baru, yang orang belum ketahui," ujarnya saat berbincang di sebuah kafe di Jakarta Selatan, baru-baru ini. 

    Seperti apa menggarap film biografi Ahok dan proses pembuatannya? Berikut beberapa jawaban Tuta, yang lugas dan tanpa sensor. 

    (Baca juga: Review Film: A Man Called Ahok

    Part 1 - Soal Ahok

    Herworld (HW): Bicara soal 'A Man Called Ahok', dari buku ke film. Bagaimana prosesnya? 

    Putrama Tuta (PT): Film ini diadaptasi dan terinspirasi dari buku Rudi Valinka berjudul sama. Tentu ada pengembangan karakter di dalamnya. Ceita harus sesuai fakta karena biografi. Namun, karakter di film mengalami pengembangan. Misalkan, karakter Musyono, di buku ada dua Mus dan Yono. Tapi nggak mungkin taruh dua-duanya, karena ini bukan film dengan friendship story tapi father and son. Makanya jadi Mus. Sementara, di film zero to hero, inspiring movie, ada obstacle, turning point, villain, kalahnya bagaimana. Makanya kemudian ada karakter Rudy yang dimainkan Donny Damar. Penggambaran akan perlawanan, dengan cerita berdasarkan dari buku Rudi. 

    HW: Ada interview sama keluarga Ahok? 

    PT: Ada. Sama Ahok, Mbak Fifi, Ibunya, Adiknya Ahok. Saya bahkan tinggal di rumah Ahok. Makan masakan ibu Ahok. Merasakan bagaimana jadi Ahok. Riset sedalam-dalamnya mengenai karakter ayahnya. Kerasnya pak Kin Nam, sifatnya, kenapa ada adegan dia menyepak anak buahnya kalau salah. Keras, tapi semua berdasar riset. Tak mungkin saya bikin ini tanpa dapat persetujuan dari pihak keluarga. 



    HW: Bagaimana dengan kritik dari adik Ahok, Fifi Lety Tjahaja Purnama, yang sempat ramai di media sosial?

    PT: Itu adalah soal sosok. Jadi patut dibedakan bahwa antara 'karakter' dan 'sosok'. Saya tak mungkin dapatkan sosok yang 100 persen mirip ayahnya. Yang dibahas mbak Fifi, itu aesthetic value, bukan karakternya. Sementara buat saya karakter pak Kin Nam sudah sangat indah sehingga sekarang ada pahlawan baru bernama pak Kin Nam yang tak pernah kita ketahui sebelumnya. Saya pilih pemeran Chew Kin Wah sebagai Kin Nam, karena dia bisa deliver cerita dengan baik. Pertmbangannya, daripada mirip tapi ceritanya tak sampai, justru pada akhirnya menghancurkan karakter beliau. Di samping itu, film ini berjudul 'A Man Called Ahok', bagaimana cara ayah didik anak laki-lakinya. Tentu berbeda, dengan cara dia mendidik anak perempuan. Jadi, saya ambil dari point of view nya Ahok, sesuai judul film. Tentu saya tak bisa menyenangkan banyak orang, dan seorang ayah juga pasti mendidik anaknya berbeda-beda.  

    HW: Bagaimana proses pembuatannya dari awal?

    PT: Film ini tak pernah direncanakan untuk rilis sekarang. Kita sudah mulai sejak Februari 2017, saat Ahok masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Waktu itu banyak sekali yang mendorong Rudi Valinka filmkan bukunya. Lalu, film ini jatuh ke tangan saya. Menurut Rudi, saya 11-12 karakternya sama Ahok jadi cocok buat sutradarai. Ini menjawab kekhawatiran daripada film ini dibikin asal, sebab sosok Ahok tak muncul 10-20 tahun sekali. Sosok yang bikin perubahan besar, jadi Rudi ingin film ini serius. Ada produser datang ingin bikin komedi, atau romance. Dia nggak mau. Saya lalu ajukan dua syarat, yakni pertama, nggak akan sentuh sisi politiknya, kedua, film ini harus menceritakan segala sesuatu yang orang tidak tahu. Begitu masuk Jakarta, orang tahu kiprahnya di jakarta. Jadi dari awal, saya sudah tahu akan habiskan cerita saat ia jadi Bupati. Zero to Hero, bagaimana kaum minoritas jadi pemimpin negara mayoritas. 

    Awalnya, film ini direncanakan, kalau Ahok kalah  dalam pemilihan kepala daerah sebagai ungkapan perpisahan atau goodbye. Atau kalau dia menang, ini bisa buat selebrasi kemenangan. Satu hal tak diduga, ia terlibat kasus jerat hukum dan masuk penjara karena itu tak pernah disiapkan. Jadi, bukan anggapan karena Ahok di dalam penjara, lalu bikin film. Ini jauh dari peristiwa itu. 


    Di luar itu, saya ada pengalaman pribadi. Saya berasal dari keluarga tentara. Suatu kali, saya kabur dari sekolah tentara waktu kecil, dan itu mematahkan hati kakek saya. Karena kemudian saya memilih jadi filmmaker. Dari kecil sudah jadi cita-cita saya berbuat sesuatu untuk bisa membanggakan kakek yang sudah saya patahkan hatinya begitu kesempatan ini datang saya bicara pada Ilya Sigma, istri saya 'Ini kesempatannya'. Tapi, saya nggak mau attach pada berbau poliik. Ia bilang, "Sejarah itu ditulis sekarang. Filmmaker berjuang. Bikin filmnya, tidak usah pikir yang lain. Bikin yang bagus. Itu saja.'

    HW: Bagaimana respons Ahok?

    PT: Ahok tahu dan senang begitu tahu film ini dibuat. Untungnya, kita semua semangatnya sama. Itu yang bikin senang. Saat bikin film Ahok, kita semua tahu ini tak mudah. Banyak kutipan dari pengalaman-pengalaman pribadi yang kemudian dituang di film. Tapi, kalau cerita harimau itu (kisah yang disampaikan ayah Ahok di meja makan-red) cerita beneran. Fakta yang ditarik. Riset dan komunikasi buat film ini. Buat kami, Ahok sosoknya saja sudah berkonfilk. Banyak yang sayang, juga banyak yang benci. Salah kalau ada orang beranggapan saya mendramatisir, karena cukup difillmkan saja. Saya jaga struktur dramaturgi, bagaimana bawa emosi penonton dalam film. 


    HW: Bagaimana prosesnya, dari skrip bangun story? 

    PT: Kita develop story bareng-bareng. Yang nulis saya, skrip kita riset sama-sama, Teddy Andhika tim riset. Mas Jujur Prananto turut jaga cerita. Saya nulis bersama Ilya Sigma, dibantu Danny Jaka astrada, juga bersama Rudi Valinka tentunya.

    HW: Sejak penayangan hari pertama 8 November lalu, ada reaksi berlebihan atau negatif?

    PT: Dari awal, saya yang utama filmnya bagus. Kalau dari saya, literally apa reaksi negatif atau berlebihan di luar, saya tak begitu peduli. Yang penting filmnya bagus, karena ini hidup saya. Jangan sampai anak saya, melihat saya bikin film ini karena 'harus'. Buat saya, ini adalah 'legacy' yang saya tinggalkan buat anak-anak saya, makanya di tiap film sepenting itu.

    Kebetulan, saya dapat pendidikan film yang beruntung. Kayak saya, Timo Tjahjanto, Mouly Surya, sutradara film angkatan terakhir yang belajar untuk bikin film by frame. Ini artinya, kenapa frame harus di atas, kenapa di bawah sangat diperhatikan, karena dulu pakai film itu mahal banget. Begitulah betapa pentingnya setiap frame yang ada. Beda dengan yang digital yang bisa diulang dan dihapus dengan mudah. 

    HW: Ada reaksi negatif mengkaitkan dengan film lain yang bernuansa politik? 

    PT: Saya tak begitu ambil pusing akan itu, karena sebenarnya bikin film itu yang penting bagus. Dari awal waktu bikin film Ahok, saya harap yang suka Ahok akan nonton. Tapi bukan berharap hanya Ahokers yang nonton. Makanya ceritanya merupakan cerita keluarga. Pada dasarnya, saya selalu ingin bikin film berdampak bagi penonton. Salah satu yang real, yang membuat hati seolah disiram air es. Sebagai orangtua, ayah dari dua anak perempuan, saya selalu berpikir bagaimana memberi nilai pada anak-anak tapi bukan yang preachy atau 'ngajarin'. Banyak orangtua yang habis nonton film ini, bilang terima kasih karena tak perlu lagi ngomong jadi bisa kesampaian bilang apa sama anak-anak mereka.

    Karenanya, film ini tak hanya untuk Ahoker saja, tapi dibuat untuk generasi penerus bangsa supaya mereka jadi orang jangan abu-abu. Mau hitam ya hitam, putih ya putih. Jangan di tengah- tengah bimbang mau ngapain berani bersuara, berbuat sesuatu. Ini yang perlu bikin bangsa ini jadi lebih baik. Di luar itu, saya ingin bikin bahagia kakek, yang dulu pernah dipatahkan hatinya saat saya keluar dari sekolah militer. Dia belum nonton, tapi dengar impact dari orang yang sudah nonton, lalu bilang, 'prestasi kamu ini mau dibawa kemana?'. Sementara nenek saya, usai menonton premier, pegang tangan saya dan bilang 'ini cucu saya'. Dan itu sudah bikin saya bangga. 

    HW: Kenapa menghindari politik? 

    PT: Karena menurut saya nggak perlu, karena dengan begitu akan menjadi justifikasi. Saya ingin bikin film yang orang belum tahu. Goal-nya pengen bikin bangsa jadi lebih baik, banyak orang bersuara, dan bersikap. Jadi dari awal, saya memang tak mau sentuh politik. 

     

    PART 2 - Rekam jejak 

    HW: Bicara soal film, sejak kapan suka bikin film?

    PT: Sepertinya dari dulu ingin sekali bikin film. Suatu kali seorang sahabat saya bilang, dari jaman SMP saya sudah bawa-bawa kamera. Tapi saat itu orang tua saya bilang mau sampai umur berapa bikin film. Saya tetap kekeuh karena saya suka bercerita. Di umur 19 tahun, kebetulan ibu saya seonrang desainer perhiasan. Ia suka gambar buat tante Rahayu Effendi. Jadi pas ada dia, disampaikanlah kalau 'anak saya bikin film'. Ibu Rahayu pegang tangan saya, dan bilang 'ikut saya yuk'. Saya kemudian dibawa ke Budiati Abiyoga dan dikenalkan dengan Pusat Pendidikan Film dan Televisi (P2FTV).

    Di situ saya pertama kali belajar film, tanpa sepengetahuan ibu saya. Untuk meluluhkan hatinya, saya bekerja untuk produk tv, dengan gaji Rp1600. Suatu sore saya ajak ibu saya nonton, dan uangnya saya taruh di meja. Lalu saya bilang, 'itu saya yang bikin'. Ibu saya diam. Dia ambil Rp200 kasih ke orang rumah beli neras. Lalu ada bagian yang disumbangkan. Lalu sisanya buat saya. Sejak itu saya boleh di industri film.



    Saya juga pernah belajar film saat di Australia, tapi tak langsung bikin film. Saya sempat kerja bikin radio dan menikah di usia 22 tahun. Saya ingat, suatu kali, saya pernah punya vespa kuning yang saya gadaikan sebesar Rp15 juta pada 2006. Saya pecah uangnya Rp7 juta bikin PT. Rp3,5 juta bayar kosan. Rp3,5 juta nyari karyawan. Akhirnya 2006 bentuk perusahaan, 2007 saya pikir bagaimana caranya bikin film. Karena saya sebal banget sama Boy, (karakter di film Catatan Harian si Boy) saya mau itu jadi film pertama saya. Saya sebal karena sejak ada film itu, cowok-cowok seperti saya yang bukan indo dan kulit putih jadi nggak laku. Makanya saya mau film ini Boy-nya beda.  

    Begitu saya cerita ke orang saya mau bikin film Catatan Harian Si Boy, saya sempat dilepeh (anggap remeh), karena menganggap Boy itu barang gudang yang tak menjanjikan. Tapi saya saat itu mau bikin beda. Hampir semua orang nggak mau. Hanya almarhum Didi Petet dan Johan Teranggi, yang mau dengar saya dan dampingi saya bikin ini. Habis dari Boy saya menantang diri saya untuk bikin yang lain lagi. Film Catatan Harian Si Boy butuh proses pembuatan selama tiga tahun, dan baru dirilis pada 2011. 



    HW: Habis dari Catatan Harian si Boy, bikin apa? 

    PT: Saya beranjak ke Noah, Awal Semula (2013). Awalnya, sahabat saya Dino Hamid minta tolong bikin video tour story telling. Ternyata responsnya bagus. Di belangkang panggung, saya berpikir bikin film boleh juga tapi syuting pakai handphone. Saat itu saya pakai iPhone5 dan kamera dslr untuk bikinnya. Ariel dan kawan-kawan bukan aktor, tak bisa di-direct secara cerita tapi situasi. Saya nyalakan kamera, dan ciptakan situasi. Bikin konflik kecil. Saya ikut tour ke beberapa puluh kota. Saya selesaikan cerita di Lampung, waktunya 1,5 tahun. Film ini berbagi emosi tentang kesempatan kedua. Bagaimana orang diinjak bisa lagi naik. Sepertinya jodoh saya bikin film-film kesempatan kedua. 

    HW: Ada film dan sutradara yang menginspirasi? 

    PT: Ada banyak, selama proses saya belajar. Dari mulai Rahayu Effendi, Budiati Abiyoga, magang di Teh Nia Dinata, mengenal Joko Anwar dan belajar banyak dari dia. Semua punya porsi yang berbeda-beda, tapi orang-orang itu membentuk saya, dan masih banyak lagi. Ilya Sigma, juga berkat tulisannya yang ajaib. Kalau film, 'Rocky Balboa', karena pada saat nonton itu, saya mendapatkan inspirasi bahwa 'I can do everything in this world.' Orang itu bisa achieve, saya juga bisa. Itu adalah sebuah fim yang mengubah hidup saya. Saat nonton itu ternyata nggak salah loh, kalau kita melawan dunia, selama tujuannya jelas. Nggak nyasar kemana-mana, ikut flow. Jangan jadi orang yang terbaik, tapi berusaha terbaik di sebuah bidang, jadi-lah yang pertama, dan jadi sampel bagi orang banyak. 

    HW: Jarak dari Noah Awal Semua (2013) ke A Man Called Ahok (2018) cukup panjang, lima tahun. Apa yang terjadi? 

    PT: Saya bantu teman-teman saya mewujudkan film pertamanya, karena saya tahu betapa susahnya bikin film pertama. Di antaranya Lily Bunga Terakhirku (2015) yang disutradarai Indra Birowo, dan Sundul Gan - Kaskus the Movie (2015) yang disutradarai Naya Anindita. Saya bertindak sebagai produser, di 700 Pictures. Lalu, suatu kali, anak saya paling kecil jatuh sakit dan koma. Istri saya bilang lepas sesuatu yang saya sayang. Nazar, lepasin film, lepas 700 Pictures, ada rasa sayang tapi saya pikir sudah saatnya. Di hari kelima sejak ia jatuh sakit, anak saya bangun dan itu membuat saya sadar. Setelah itu saya ingin bikin film sendiri lagi. Dan begitulah kemudian saya bikin 'A Man Called Ahok'.


    HW: Bocoran film berikutnya apa?

    PT: Judulnya 'Bandit Sisters', terntang dua perempuan bersaudara yang menuntut balas.  Sudah jalan skenario, satu tahun terakhir. Film ini diproduksi bareng sama orang Inggris. Produsernya Ken Marshall yang pernah bikin Filth bareng James McAvoy. Full syuting di Bali sehingga ada partner Indonesianya. Rencananya akan mulai produksi kalau skrip sudah matang. Ini sudah satu tahun tapi masih belum ready.  

    Sementara itu, saya menyelesaikan 'Happy Birthday Everyday'. Sudah syuting dari 2016. Sekarang tahap post produksi dengan bintangnya Anjasmara, Fahrani, dan Raihaanuun.


    HW: Apa achievement yang ingin dicapai di film?

    PT: Membahagiakan banyak orang. 

    HW: Yang personal? 

    PT: Ambisi saya di industri film? Apa ya, selain melihat orang happy, saya pengen gandeng tangan ibu saya sewaktu dapat achievement besar. Pengen bilang, saya masih sempat untuk mendedikasikan achievement apapun itu, untuk ibu saya. Ngasih sesuatu ke dia dari film. Itu saja. 

    (Foto-foto: Dok/Pribadi/PutramaTuta)



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below