Review Film: 'Halloween'


  • Review Film: 'Halloween'
    Film 'Halloween' kembali menebar teror pembunuh sadis Michael Myers, setelah 40 tahun berlalu. (Foto: Dok/UniversalPictures)


    Film 'Halloween' kembali menghadirkan kengerian teror brutal dari pembunuh sadis, Michael Myers.

    Dikisahkan setelah 40 tahun berlalu sejak ia ditangkap dan dipenjara, Myers menjadi 'pasien' yang masuk dalam eksperimen penelitian untuk mencari tahu apa yang mendorongnya punya keinginan untuk menghabisi nyawa orang lain? Apakah karena unsur genetik yang memunculkan gairah dan rasa puas, atau ada motivasi di baliknya? 



    Apapun alasannya, film ini mencoba menghadirkan teror dan kengerian itu lagi untuk menyambut hari Halloween yang jatuh setiap tanggal 31 Oktober.  Teror seperti apa yang dibawanya kali ini? 

    (Baca juga: Review Film: First Man)

    Kisah 'Halloween' dibuka oleh dua orang wartawan investigasi yang sedang mencari tahu keterkaitan kasus pembunuhan berantai yang pernah dilakukan Michael Myers di masa silam.

    Usai bertemu Myers di rumah sakit jiwa, penyelidikan mereka lalu mengarah pada sosok Laurie Strode (Jamie Lee Curtis) sebagai survivor. Tentang masa lalunya, dan kehidupannya yang kini menyedihkan, karena terpisah dari putrinya Karen (Judy Greer) yang kini sudah bersuami Ray, dan memiliki seorang putri remaja Allyson (Andi Matichak). 


    (Halloween. Foto: Dok/UniversalPictures) 

    Meski sudah empat dekade berlalu, Laurie masih trauma dan mengunci rapat rumahnya menanti jikalau Myers keluar dari rumah sakit/penjara dan mengejarnya. Dan siapa mengira, kejadian itu benar-benar menjadi nyata, ketika bus yang membawa Myers di malam Halloween mengalami insiden, dan Myers lepas. 

    Ia menggorok leher secara acak. Masuk ke dalam rumah siapa saja, lalu memukulkan palu pada penghuni rumah. Mengambil pisau dan menusukkannya pada orang yang ia temui. Darah bercecer di mana-mana. Hingga satu tujuan akhirnya adalah Laurie. 

    Pertemuan Myers-Laurie menjadi klimaks yang juga memertemukan Karen dan Allyson. Mereka bertahan dan melawan. Teror belum usai. 


    (Halloween. Foto: Dok/UniversalPictures) 

    (Baca juga: Review Film: Venom)

    Meski merupakan sekuel, 'Halloween' mengambil judul sama seperti pendahulunya yang legendaris karya John Carpenter waktu tayang 1978, atau 40 tahun lalu. Dengan begitu film ini sekaligus seolah mengabaikan adanya sembilan sekuel atau remake yang pernah dibuat sebelumnya. 

    John Carpenter sendiri kemudian duduk sebagai produser eksekutif, dan komposer musik. Maka tak heran jika iringan musik film ini akan sama persis di film pendahulunya yang identik dan familier di telinga. Mengingatkan pada aksi psikopat sosok Michael Myers yang memegang pisau, dengan muka tanpa ekspresi, lalu membunuh dalam diam. Tak banyak bicara, tapi sadis dan tak kenal ampun. 


    (Halloween. Foto: Dok/UniversalPictures) 

    Sutradara David Gordon Green (Our Brand is Crisis, Pineapple Express) bersama penulis naskah McBride dan Jeff Fradley seperti mencoba mempertahankan beberapa hal ikonik di film Halloween. Di antaranya kembalinya penampilan Jamie Lee Curtis sebagai Laurie, Nick Castle sebagai sosok mengerikan di balik topeng, dan latar kejadian Illinois.

    Jika di film pertama ada karakter Dr.Loomis yang dimainkan Donald Pleasance, di Halloween kali ini digantikan Dr.Sartain (Haluk Bilginer). Dokter yang terobsesi dengan kejiwaan Myers. 

    Di luar itu, ia memberi selipan kekinian yang akan terhubung dengan konteks situasi publik saat ini. Salah satunya, penekanan tiga generasi Laurie - Karen - Allyson (nenek-ibu-anak) yang sekilas menunjukkan women empowerment tiga generasi yang bersatu melawan monster dan kengerian. Tak hanya bertahan dengan siasat tapi juga mengalahkannya. Tidakkah sejalan dengan kampanye #MeToo? 

    Sementara di jajaran para aktor, aksi Jamie Lee Curtis patut mendapat apresiasi lebih. Kembali lagi ke film yang melambungkan namanya saat ia berusia 19 tahun, Curtis bermain sangat baik. Jika dulu sebagai pengasuh muda, kini ia menjadi seorang nenek gaul yang mengalamai trauma dan sekaligus pejuang. Ia memegang senjata, membidik, dan tanpa sungkan melepas tembakan. Melihatnya tanpa rasa takut dan bersiap menghadang Myers sembari berkata 'I am ready!' menimbulkan kesan tersendiri. 

    Jika ada yang terasa kurang, bisa jadi pada alur atau penceritaan yang serba kebetulan. Namun, setidaknya ada beberapa twist yang menjadi penyelamat. 

    Sebagai sebuah sekuel film horor klasik yang ikonik, 'Halloween' cukup mengerikan, dan menebar teror. Film 'Halloween' tayang di bioskop Indonesia mulai Rabu 17 Oktober 2018. 




 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below