Waktunya Berantas Penyakit Meningitis



  • RISIKO TERPAPAR

    Ceters for Disease Control and Prevention mengenai Meningitis (http://www.cdc.gov/meningitis) mengemukakan, penyakit meningokokus merupakan penyakit yang mengancam nyawa, menyerang secara tiba-tiba dan dapat menyebabkan terjadinya meningitis bakterial-suatu infeksi dari membran/selaput sekeliling otak serta sumsum tulang belakang dan sepsis-suatu infeksi alirah darah yang disebabkan bakteri Neiserria meningitidis (meningokokus). Penyakit meningokokus memburuk dengan cepat sekali dan dapat membawa pada kematian dalam 24-48 jam sejak gejala-gejala pertama timbul. Gejala-gejala meningitis adalah demam, muntah-muntah, sakit kepala berat, leher kaku sakit, sensitif terhadap cahaya, sangat mengantuk, bingung, ruam, (tidak pada semua kasus), kejang-kejang. Sementara gejala sepsis adalah demam, muntah-muntah, sakit anggota gerak, persendian, atau otot, tangan dan kaki dingin, menggigil, kulit pucat atau berbintik-bintik, pernapasan cepat atau kesulitan bernapas, ruam kecil datar atau timbul terdiri dari bintik-bintik merah atau ungu yang berkembang menjadi bercak-bercak merah lebih besar atau lesi-lesi warna ungu, sangat mengantuk, dan bingung. 

    Sering kali gejala-gejala awal ini tidak spesifik dan mirip flu, sehingga sulit bahkan bagi seorang tenaga kesehatan profesional untuk mendiagnosis secara dini. Gejala-gejala klasik, seperti kaku leher/kuduk dan ruam petechial (bercak merah atau ungu atau lecet di bawah kulit) tidak muncul sampai penyakit sudah dalam keadaan lanjut- kurang lebih 13-22 jam setelah gejala-gejala pertama muncul-yang dapat menunda pengobatan yang dapat menyelamatkan nyawa. Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, 5-10% dari orang-orang yang terjangkit penyakit meningokokus akan meninggal dunia bahkan apabila mereka didiagnosis dan mendapatkan pengobatan dini yang tepat. Tanpa pengobatan, tingkat kematian dari penyakit ini adalah 70-90%. 



    Seperti ditegaskan Prof. Samsuridjal, "Penyakit meningokokus menjadi salah satu pokok perhatian dalam bidang travel disease dengan angka kejadian penyakit ini bervariasi di seluruh dunia dan prevalensi tertinggi terdapat di Afrika Sub-Sahara (African meningitis belt). Walaupun Indonesia bukan merupakan salah satu negara endemis untuk penyakit meningokokus tetapi dengan jumlah jemaah haji dan umroh yang cukup tinggi dari Indonesia menuju negara endemis tersebut, maka risiko seseorang terpapar bakteri Neiserria meningitidis atau menjadi carrier (pembawa kuman tapi tidak timbul gejala) meningkat dengan prevalensi 5-10%. Padatnya arus manusia saat ibadah menyebabkan penularan penyakt infeksi sangat cepat dan sering terjadi. WHO menyatakan, pada setiap kurun waktu tertentu, dipercayai 10-20% dari orang-orang di seluruh dunia dapat membawa bakteri penyebab penyakit ini dalam hidung dan tenggorokan tanpa menunjukan gejala. Bakteri dapat ditularkan dengan mudah antara orangt-orang melalui batuk, bersin, dan kontak langsung, seperti berciuman, oleh seseorang yang membawa bakteri itu. 

    SEBELUM BERPERGIAN

    Oleh karena itu, "Imunisasi meningokokus bermanfaat untuk mencegah penularan meningokokus pada jemaah haji dan umroh. Jika jemaah haji dan umroh terlindung dari penularan meningokokus maka risiko penulara pada keluarga di rumah juga dapat ditekan. Sekurang-kurangnya imunisasi dilakukan dua minggu sebelum sampai di tempat tujuan," ujar Prof. Samsuridjal. WHO dan berbagai negara di dunia telah merekomendasikan vaksinasi meningokokus bagi mereka yang dianggap berisiko tinggi terkena penyakit ini, seperti para remaja, para wisatawan ke daerah-daerah yang diketahui pernah terjangkit, personil militer, dan jemaah haji atau umroh.

    VAKSIN KONJUGAT

    Pertanyaan selanjutnya adalah vaksin yang bagaimana? Vaksin yang menawarkan perlindungan terhadap sebanyak mungkin grup bakteri meningokokus. Dr. dr. Julitasari Sundoro, Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional menjelaskan, "Vaksin meningitis meningokokal konjugat kuadrivalen A, C, Y, W135 merupakan inovasi terdepan yang dapat memberikan perlindungan yang lebih kuat dengan respon imun yang lebih baik. Pemerintah Arab Saudi mewajibkan seluruh wisatawan yang mengunjungi wilayah Arab Saudi untuk mendapatkan vaksinasi meningitis meningokokal konjugat ACYW135 sebelum pengajuan pembuatan visa." Tambah Prof. Samsuridjal, "Kelebihan vaksin konjugat ini adalah dapat dipakai pada anak usia muda, respon imun lebih baik, dan dapat mengurangi kuman komensal yang ada di faring."

     

    (TEKS: LENNY SITUMEANG / FOTO: DOK. HER WORLD)




  • Our Digital Cover




    Latest Issue Her World Maudy Ayunda dan Amanda Khairunnisa Cover Agustus 2021
    Grab it Now!



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below