Pada 1962, Presiden Sukarno memimpikan Hotel Indonesia bukan sekadar bangunan, tetapi simbol kemajuan dan persatuan nasional. Ia ingin hotel ini menjadi representasi kemegahan arsitektur modern sekaligus wadah bagi semangat kebangsaan. Dekorasi hotel pun dirancang sebagai etalase semarak budaya Indonesia, memamerkan kekayaan seni dari berbagai daerah.
.jpg)
Sebagai kolektor dan pendukung seni yang antusias, Sukarno terlibat langsung dalam merancang lanskap artistik hotel ini. Ia menantang para seniman untuk bereksperimen dengan material dan teknik baru, mengangkat tema nasional dalam karya mereka. Patung seperti Girl Going for a Bath karya Sulistyo dan Two Girls Fetching Water karya Saptoto ditempatkan di sekitar kolam renang, sementara patung Dewi Sri karya Trubus menghiasi taman depan hotel. Penempatan ini tidak hanya artistik, tetapi juga mencerminkan kekaguman Sukarno terhadap keindahan perempuan Indonesia, yang ia anggap sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa.
.jpg)
Kini, semangat itu diteruskan melalui seni kontemporer yang kian berkembang. Dengan keberagaman material, metode, dan gagasan, seni kontemporer mampu menembus batas tradisional dan mencerminkan dunia yang terus berubah baik secara budaya maupun teknologi. Hotel Indonesia Kempinski Jakarta mengambil bagian dalam pergerakan ini, menghadirkan pengalaman seni lintas generasi yang memperkaya perjalanan budaya para tamu.
Pameran seni bertajuk ‘TITILARAN’, dikurasi oleh Rizki A. Zaelani salah satu kurator seni paling berpengaruh di Indonesia menjadi bagian penting dari perayaan ini. Rizki berhasil menerjemahkan tema 'warisan' ke dalam presentasi instalasi seni yang menggugah. Karya-karyanya telah diakui secara luas di dalam dan luar negeri, menjadikannya cahaya dalam lanskap seni kontemporer Indonesia.
.jpg)
Pameran ini mengambil tempat di lobi Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, menghadirkan kolaborasi antara seniman ternama dan talenta muda. Kamu akan menemukan karya dari Haryadi Suadi dan Radi Arwinda, serta Tisna Sanjaya dan Etza Meisyara, yang mengangkat tema hubungan darah dan warisan keluarga. Ada juga kolaborasi unik Andre Tanama dan Landha Bellamora yang menampilkan dua seniman perempuan dalam satu karya. Kolaborasi antara fashion dan seni hadir melalui karya Jeihan dan Mel Ahyar. Warisan realisme juga hidup kembali dalam karya Widayat dan Eko Rahmy. Tak hanya itu, medium kertas pun tampil dengan cara baru melalui karya REX dan Vanies Laure.
(Baca juga: 7 Buku yang Termasuk Biografi Tokoh Penting di Indonesia!)
Kamu bisa menikmati pameran ‘TITILARAN’ mulai 23 Juli hingga 18 Agustus 2025. Datang dan rasakan bagaimana semangat Presiden Sukarno bertemu dengan seni visual masa kini sebuah perjalanan inspiratif yang dirancang untuk generasi kamu dan seterusnya.
(Penulis: Sania Zelikha)