Tamara Gondo, Berdayakan Pengungsi Dalam Bisnis Slow Fashion



  • Generasi muda punya segudang mimpi. Namun, menjadi pebisnis bukanlah salah satu mimpi dari Tamara Dewi Gondo Soerijo. Juara ke-empat Miss Indonesia 2019 ini justru memiliki passion besar dalam bidang sosial.


    Tak disangka, bisnis dan kegiatan sosial ternyata bisa berjalan berdampingan. Inilah yang akhirnya membuat Tamara fokus membangun mimpinya sebagai seorang socio-preneur bersama Libery Society, brand eco-fashion yang memberdayakan para pengungsi perempuan yang tinggal di Indonesia.




    Berkat kerja kerasnya ini, Tamara pun terpilih sebagai salah satu dari enam anak muda di seluruh dunia yang tergabung dalam Generation17 di tahun 2022. Saat ini ada 14 young leaders yang turut merepresentasikan negaranya dari penjuru dunia.


    Generasi Muda & Isu Sustainability

    Generation17 merupakan wadah bagi young leaders dunia yang diinisiasi oleh Samsung dan United Nations Development Programme (UNDP) untuk membuat perubahan nyata demi mencapai global goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SGDs).


    Nyatanya, sustainability sendiri bukan hanya sebatas soal gaya hidup ramah lingkungan, tapi juga termasuk banyak hal. Sebut saja seperti quality education, zero hunger, good health and well-being, hingga peace, justice, and strong institutions. Tujuan-tujuan inilah yang masuk dalam Sustainable Development Goals (SDG) oleh UNDP.


    Aspirasi Tamara untuk memberdayakan para pengungsi perempuan demi tetap berkarya ini diapresiasi oleh Generation17, khususnya dalam bidang bidang Gender Equality, Decent Work and Economic Growth, serta Responsible Consumption and Production.



    (Foto: Hadi Cahyono. Dress: Uniqlo. Lokasi: Four Seasons Hotel Jakarta)

    Sebagai wakil dari Indonesia di Generation17, Tamara memang fokus pada pemberdayaan perempuan dengan memberikan upskilling dan akses ke pasar. Inilah yang melandaskan berdirinya Liberty Society. Pada 2021, Liberty Society juga menerima UN Women Indonesia’s Women Empowerment Principles Award.


    Bagi Tamara, bergabung menjadi bagian dari Generation17 merupakan sebuah penghargaan. “It’s the power of networking to achieve social impact together. Karena kita enggak bisa mengubah dunia sendirian. Melalui power of technology, mentorship dari Samsung dan UNDP, kita bisa melakukan storytelling for a change,” ujar Tamara.


    Wadah seperti Generation17 juga dianggap sangat diperlukan khususnya bagi generasi muda sekarang ini. “Kebanyakan generasi muda tidak percaya diri, padahal idenya brilian banget. Bisa jadi ada semangat tapi kurang guidance juga dari generasi yang lebih tua. Aku ingin mengingatkan ke teman-teman bahwa aku juga mulai dari usia muda, menggunakan apa saja yang ada di sekitar. Dengan begitu, kita bisa buat perubahan. Semua itu dipupuk dari lingkungan sekitar yang memberikan kepercayaan, mulai dari orang tua dan komunitas,” lanjutnya.


    Tak sedikit pasti anak-anak muda yang memiliki mimpi besar seperti Tamara. Namun kadang benturan dari dari dalam diri atau bahkan lingkungan membuat kita sulit untuk melewati batasan yang ada. Melihat hal ini, Tamara pun punya tip khusus. “Start small, dare to dream big, believe in yourself and other people.” Karena hanya dengan begitu, kita bisa menjadi masyarakat yang sustainable dan impactful.


    Isu sustainability memang mulai digalakkan di mana-mana, khususnya bagi generasi muda. Tamara sendiri memiliki passion khusus di bidang ini. Baginya, sustainability terdiri dari tiga pilar, yaitu people, planet, dan profit.


    People artinya bagaimana kita bisa inklusif dan mengutamakan kesejahteraan orang banyak; Planet, tentunya dengan responsible production and consumption serta gaya hidup ramah lingkungan; Profit, agar bisnis bisa terus berjalan,” jelas Tamara. Inilah yang sedang ia coba perjuangkan dengan Liberty Society.


    Bisnis Fashion Ber-etika

    Liberty Society sendiri dibangun dengan alasan yang sangat personal. Kala itu Tamara yang masih duduk di bangku SMP sempat di-bully. Ia pun merasa tidak punya suara. “Aku jadi merasa down banget. People don’t believe in me, simply because I talk different,” ujarnya. Tamara mengaku, dirinya punya mimpi untuk mengubah dunia. Hal inilah yang membuatnya saat itu terlihat berbeda.


    Di tengah rasa kalut, seorang teman sekaligus mentor mengungkapkan bahwa Tamara memiliki bakat di bidang bisnis. Di saat itulah, ia merasa bahwa ada orang yang percaya dan mulai memupuk mimpinya. Hingga Liberty Society pun lahir. Nama “Liberty” sendiri berarti freedom atau kebebasan. “Freedom dalam hal apa? Dalam hal kesetaraan gender, peningkatan pemasukan, dan tentunya bumi yang lebih sehat,” ungkapnya.


    Memiliki latar belakang sebagai model, Tamara sadar bahwa masih banyak brand yang memproduksi unethical fashion atau fast fashion. Lewat Liberty Society, ia ingin menggerakkan perubahan sehingga membuat industri fashion jadi lebih aware dengan slower fashion.





    “Dengan fast fashion, ada banyak masalah yang mengiringi, misalnya unfair wages, kondisi kerja yang tidak sehat, hingga child labor,” jelasnya. Ironisnya, justru hal ini yang membuat bisnis ethical fashion lebih menantang.


    “Tantangan terbesar saat membangun bisnis fashion beretika ini adalah soal harga. Banyak konsumen yang bilang harganya terlalu mahal. Padahal alasannya, di samping produk yang berkualitas, karena kita harus membayar orang-orang di supply chain secara adil sehingga mereka pun bisa punya kehidupan yang lebih layak,” lanjut Tamara.


    Pertanyaan pun muncul, kenapa kita tidak membuat sustainability sebagai sebuah norma. Tamara pun berharap bahwa anak-anak muda bisa mulai mengedukasi diri dan memilih produk dan gaya hidup konsumtif yang lebih berkelanjutan.


    Menggalakkan Pemberdayaan Perempuan

    Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, sustainability tak hanya soal gaya hidup ramah lingkungan, tapi juga gender equality, termasuk pemberdayaan perempuan. Ini juga yang menjadi tujuan lain dari didirikannya Liberty Society.



    (Foto: Hadi Cahyono. Atasan & bawahan: Tory Burch. Tas: Tory Burch Lokasi: Four Seasons Hotel Jakarta)

    My team is my story,” ungkap Tamara. Di Liberty Society, ia berusaha memberdayakan komunitas pengungsi perempuan dari negara-negara konflik, salah satunya adalah Afganistan. Selain itu, ia juga mengajak komunitas disabilitas dan orang-orang yang putus kerja akibat pandemi, untuk turut berkarya lewat labelnya ini.





    Bukan hanya label fashion, Tamara juga mendirikan rumah produksi bernama House of Freedom, di mana para pengungsi bisa mendapatkan edukasi dan keterampilan untuk berkarya. Di sini jugalah, Tamara berkolaborasi dengan beberapa brand untuk memproduksi barang-barang ethical fashion.


    Hingga kini, sudah ada tiga pusat workshop yang melibatkan setidaknya lebih dari 100 pengungsi perempuan dari Timur Tengah dan Afrika. Tamara pun berhasil mendapat penghargaan Prinsip Pemberdayaan Perempuan dari PBB Wanita Indonesia atas inisiatif bekerja sama dengan 15 komunitas artisan di seluruh Indonesia yang membantu menghubungkan mereka ke pasar mancanegara.


    Peran Teknologi untuk Produktivitas

    Di tengah kesibukan, teknologi tentu berperan penting untuk terus mengembangkan passion yang dimiliki Tamara. “I love the power of technology because it can save time, double our productivity, and expand our impact. Technology has enabled me to multitask and be more efficient in creating a greater social impact,” ungkapnya.



    (Foto: Hadi Cahyono. Dress: Uniqlo. Lokasi: Four Seasons Hotel Jakarta)

    Dalam hal ini, Tamara mengandalkan Samsung Galaxy S22 Ultra 5G. Yang membuat Tamara jatuh hati dengan device ini utamanya berkat fitur-fitur yang memudahkannya bekerja mobile ketika jadwal sedang padat. Contohnya ketika harus meeting di mobil, ia bisa memanfaatkan fitur split screen pada S22 Ultra-nya yang memungkinkan Tamara melihat presentasi yang dipaparkan sembari mencatat atau memeriksa email.


    “Apalagi S22 Ultra ini sudah dilengkapi built in S Pen, ini practical banget ketika aku harus mencatat notes meeting di smartphone seperti menulis di notebook saja,” lanjut Tamara. Ketika sedang bekerja di luar kantor, Tamara juga senang menggunakan Galaxy S Tab 8 5G yang sudah terintegrasi dengan S22 Ultra miliknya, sehingga seluruh data di kedua device terkoneksi dengan praktis.


    Kualitas kamera pada Galaxy S22 Ultra 5G juga memikat Tamara yang aktif membagikan inspirasi dan ceritanya melalui media sosial. Tamara merasa memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan lebih banyak awareness kepada generasi muda terkait kepekaan terhadap isu sosial dan lingkungan. Ini ia lakukan dengan aktif membagikan konten di akun pribadi maupun milik Liberty Society.


    Dengan fitur kamera yang memungkinkan Tamara dengan mudah menangkap foto dan video dengan hasil layaknya kamera profesional, Galaxy S22 Ultra 5G jadi device yang tepat mendampingi keseharian Tamara.




  • Our Digital Cover




    Latest Issue Her World Bunga Citra Lestari Cover Mei 2022
    Grab it Now!



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below