Susah Semangat Dan Cepat Lelah, Tanda Alami Pandemic Burnout


  • Susah Semangat Dan Cepat Lelah, Tanda Alami Pandemic Burnout
    Cari tahu tanda dan penyebab pandemic burnout. (Foto: Dok. Andrea/Pexels)

    Memasuki bulan ke-8 menghadapi pandemi Covid-19, kita masih harus beradaptasi dengan keadaan baru. Menghabiskan sebagian besar waktu di rumah, semakin banyak perusahaan yang melakukan PHK atau pemotongan gaji, sulitnya lowongan kerja baru, keadaan finansial yang mengkhawatirkan, hingga isu kesehatan yang tidak menentu. Wajar saja jika akhirnya kita merasakan pandemic burnout.




    Apa yang dimaksud dengan burnout?

    Melansir dari Help Guide, burnout adalah kondisi di mana seseorang merasa lelah secara emosional, fisik, dan mental karena stres berlebih dan berkepanjangan. Burnout bisa berdampak pada kinerja kerja. Misalnya, kita tak sanggup menyelesaikan target atau menghadapi tuntutan pekerjaan yang tinggi. Rasanya, kita seolah kehilangan motivasi dalam bekerja dan selalu ingin menunda pekerjaan.


    Tak hanya pada pekerjaan, burnout juga bisa terjadi dalam lingkup keluarga. Sebut saja seperti sulit mengerjakan kegiatan sehari-hari dan mudah tersinggung, apalagi karena intensitas pertemuan antar anggota keluarga sangat tinggi. Beban pekerjaan ditambah masalah domestik sangat memungkinkan terjadinya pandemic burnout ini.


    Lalu, seperti apa gejalanya?

    Ada beberapa gejala burnout yang perlu diperhatikan secara fisik seperti merasa lelah dan kehabisan energi berkepanjangan, rentan sakit kepala atau nyeri otot, napsu makan berkurang, dan kebiasaan tidur berubah. Kadang ada beberapa orang yang merasakan rasa mudah gatal.



    (Tanda kamu alami pandemic burnout. Foto: Dok. Andrea/Pexels)


    Selain fisik, beberapa gejala burnout juga bisa ditandai secara emosional dengan mulai meragukan diri sendiri, merasa gagal, tak berdaya, terperangkap, dan dikalahkan. Kesendirian juga sering dirasakan oleh penderita pandemic burnout khususnya bagi mereka yang tinggal merantau seorang diri. Perlu dipahami bahwa saat seseorang mulai merasa sinis dan negatif terhadap banyak hal, bisa jadi ia memang sedang mengalami burnout. Jika dibiarkan, hal ini sangat mungkin berlanjut ke tahap yang lebih parah.


    Sayangnya, pandemic burnout tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa. Dilansir dari Kompas, sebuah penelitian di Italia menunjukkan bahwa stres dan kelelahan ini juga bisa dialami oleh anak-anak. Kemungkinan level stres yang mereka alami umumnya terjadi karena sulitnya mengikuti pelajaran sekolah virtual dan kurangnya interaksi langsung dengan teman-teman sebayanya.


    Melihat seriusnya dampak yang bisa terjadi dari pandemic burnout, rasanya kita perlu mengetahui semua gejala dan penyebabnya agar bisa menentukan solusi yang terbaik untuk mengatasinya. Namun, perlu diingat bahwa meski saat ini kita sedang merasa kelelahan, kita tidak sendiri. Sebagian besar penduduk di dunia juga sedang mengalami hal yang sama. Yakinlah, bahwa kita juga bisa melewatinya bersama.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below