Cara Memilih Investasi Yang Tepat Untuk Milenial


  • Cara Memilih Investasi Yang Tepat Untuk Milenial
    Gaji bulanan rasanya sudah enggak cukup, kini tren keuangan terbaru adalah memiliki passive income dan salah satunya adalah lewat investasi. (Foto: Dok. Pexels.com/bruce)

    Investasi sedang menjadi topik bahasan akhir-akhir ini, khususnya di kalangan anak muda. Bergantung penuh pada gaji bulanan rasanya sudah enggak cukup, apalagi melihat perputaran gaya hidup yang semakin cepat. Cara terbaik adalah dengan mencari passive income lewat investasi. Lalu, bagaimana cara memulainya? Apa yang harus dilakukan?

    Bersama Aliyah Natasya, Financial Educator sekaligus Founder Investashe, her world akan memberikan insight seputar cara memilih investasi yang tepat untuk Milenial.

    Kapan memulainya...

    Investasi adalah sebuah perjalanan. Panggilan untuk berinvestasi pun berbeda antara satu dengan yang lain. Memulai berinvestasi memang enggak bisa ‘dipaksakan’ karena diperlukan adanya komitmen dan disiplin diri dengan pengeluaran. Jadi, investasi bisa dimulai dari usia sekolah, first jobbers, 20-an, 30-an, atau berapa pun umur kamu. Intinya, langsung mulai saja!





    (Memilih investasi berdasarkan profil risiko. Foto: Dok. Pexels.com/Raxpixel.com)

    Memilih investasi yang tepat...

    Produk investasi enggak bisa disamaratakan untuk semua orang. Ini harus disesuaikan dengan tipe ‘perjalanan’ yang mau kita ambil sebagai investor. Pada umur berapa pun, setiap investasi harus disesuaikan dengan Profil Risiko serta kesiapan setiap individu untuk menerima Risk dan Reward-nya.

    Menurut Aliyah, pilihlah investasi berdasarkan profil risikonya. Seiring waktu, kamu bisa beradaptasi dengan lebih baik. Tapi jika ingin belajar, mulailah dengan produk yang paling aman, yaitu:

    1. Konservatif

    Baru dalam tahap memulai dan mencoba. Sebaiknya pilih produk investasi yang aman dan memberikan fixed return. Contoh: Reksa Dana, Pasar Uang, SBR (Savings Bond Ritel).

    2. Moderat

    Mulai mengerti investasi dan sudah bisa menerima kerugian kecil. Contoh: Reksa Dana Campuran, ORI (Obligasi Negara Ritel).

    3. Agresif

    Sudah siap dengan konsep high risk-high return. Contoh: Reksa Dana Saham atau memulai trading saham.



    (Mulai sisihkan beberapa persen dari pemasukan. Foto: Dok. Pexels.com/Raxpixel.com)

    Jumlah yang harus diinvestasikan…

    Pada dasarnya tak ada standar tertentu untuk berinvestasi karena semua tergantung pada kesiapan dan anggaran setiap individu. Jika secara finansial masih ada hal-hal yang harus dibenahi, jangan paksakan untuk berinvestasi banyak.

    Sebagai pemula, kamu bisa mulai dari 10-50% dari pemasukan. “Ingat, investasi mirip maraton yang punya tujuan long-term. Kamu harus bisa mengatur napas dan mengatur kondisi keuangan. Semakin melihat uangmu bertumbuh, pasti akan semakin senang menjalani investasi,” jelas Aliyah.

    Nah, itu tadi serba-serbi seputar investasi yang wajib kamu tahu. Jadi, sudah siapkah kamu?



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below