Perjalanan Satu Dekade Hian Tjen


  • Perjalanan Satu Dekade Hian Tjen
    Koleksi couture 'Perfect10n' rancangan Hian Tjen. (Foto: Dok. Alphabet Company)


    Nama Hian Tjen sudah tidak asing lagi di dunia fashion Tanah Air. Tidak hanya di kalangan pencinta mode saja, tetapi juga masyarakat luas. Tahun ini menjadi tahun ke-10 desainer Hian Tjen berkarya di industri mode Indonesia. 

    Pagelaran busana tunggal bertajuk 'Perfec10n' diadakan untuk merangkum perjalanan satu dekadenya tersebut. Berlangsung di Raffles Hotel Jakarta pada akhir Agustus lalu, acara ini menampilkan koleksi couture 2019/2020 rancangannya.



    (Baca juga artikel: 'Infinito', Ekspresi Kebebasan di 8 Tahun IMB Indonesia)

    “Melalui lebih dari 50 look yang saya tampilkan dalam show kali ini, saya selalu berusaha memberikan keunikan dan otentitas yang berbeda, melalui tingkat kerumitan dan teknik pengerjaan yang berbeda pada setiap karya. Karena sejak awal, saya memilih menekuni profesi desainer adibusana, yang dalam setiap helai karya, tidak direncanakan pembuatan duplikasinya,” ujar Hian Tjen.



    (Foto: Dok. Alphabet Company)


    Wanita di komunitas Amish atau lebih dikenal sebagai 'The Amish' menjadi inspirasinya kali ini. Kelompok ini dikenal sebagai anggota persekutuan gereja Kristen tradisional dengan yang bermula pada era Anabaptis Jerman-Swiss sekitar tahun 1600-an. Mereka memiliki gaya busana yang ikonis, karena mayoritas berpenampilan serba polos. 

    Konsep tradisionalis, konvensional dan klasik yang melekat pada citra 'The Amish' ini lah yang coba diadaptasi lebih jauh oleh Hian Tjen agar tetap relevan dengan gaya hidup saat ini dan juga kebutuhan konsumen modernnya. Adaptasi tersebut diterjemahkan dengan melakukan permainan bahan dan eksplorasi teknik detail yang cukup rumit.



    (Foto: Dok. Alphabet Company)


    Detail seperti sulaman, quilting, beadings, pleats, atau cross-stitch, diaplikasikan ke berbagai pieces sehingga hasil akhirnya tidak terlalu heavy. Misalnya, rangkai teknik dan detail rumit yang diaplikasikan berbagai potongan agar terkesan effortless, dengan single-tone yang berlapis. 

    (Baca juga artikel: Chromatiq dan Njl Studio Angkat Keindahan Bawah Laut)

    Ia juga banyak bereksperimen dengan volume dan bentuk. Beberapa didramatisir di bagian lengan, dan ada pula di bagian pundak, atau bawahan. Puff sleeves misalnya dijadikan focal point untuk atasan yang bagian ujung lengannya mengerucut. Beberapa rok dibuat menggelembung ketika dipadankan dengan atasan yang pas siluet tubuh. 



    (Foto: Dok. Alphabet Company)


    Setiap material pun dikelola agar memiliki ciri khas Hian Tjen. Lyon lace dipadu dengan tulle. Wool dengan jacquard atau sulaman klasik Eropa. Semua dikombinasikan dan dikomposisikan sesuai porsi perspektif sang desainer tentang perempuan independen dan modern. 

    Hal yang paling menonjol tentang inspirasi 'The Amish' ini adalah pemilihan palet warna. Misalnya seperti broken white, cream, abu-abu, hijau lumut hingga nude, yang menjadi representasi warna gaya hidup komunitas tersebut, tetapi juga masih relevan dengan perempuan modern hari ini.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below