Mengenal Kekerasan Dalam Hubungan, Kamu Salah Satunya?


  • Mengenal Kekerasan Dalam Hubungan, Kamu Salah Satunya?
    Kekerasan tak hanya berbentuk fisik, tapi juga bisa menyerang psikologis. Waktunya kenali kekerasan dalam hubungan, apapun bentuknya. (Foto: Dok. Pexels.com/Min)

    Setiap hubungan bisa dikategorikan sebagai healthy, unhealthy, atau abusive dilihat dari spektrumnya. Hubungan yang sehat didasari dengan kesetaraan, komunikasi yang baik, dan rasa saling menghargai.

    Jika hubungan ini kemudian diwarnai dengan usaha untuk mengontrol pasangan, ada rasa tidak percaya, maka spektrum tersebut mulai bergeser ke tengah dan masuk dalam kategori tidak sehat. Jika pola ini dibiarkan terus-menerus tanpa intervensi, bukan tak mungkin jika hubungan itu akan bergeser ke arah abusive.

    Lalu, apa yang dimaksud dengan abusive relationship? Menurut Inez Kristianti, M.Psi., Psikolog Klinis Dewasa di Angsamerah Clinic sekaligus Dosen Paruh Waktu di UNIKA Atma Jaya, hubungan tipe ini didasari oleh adanya kesenjangan power dan control.

    “Jika ada salah satu pihak yang lebih mengontrol atau kerap memanipulasi pasangannya, sudah pasti ia berada dalam abusive relationship,” ujarnya.



    (Kontrol dan manipulasi adalah sebagian bentuk dari kekerasan. Foto: Dok. Pexels.com/It's me)

    Ciri Kekerasan Dalam Hubungan

    1. Menuntut ingin tahu segala sesuatu yang dilakukan pasangan, cenderung posesif, serta kerap membuat tuduhan tak beralasan.
    2. Merendahkan pasangannya terus-menerus, baik secara mental atau fisik.
    3. Mengontrol penampilan pasangannya serta mengatur jam malam. Sering meminta bukti berupa foto.
    4. Cemburu ekstrem yang tidak beralasan.
    5. Kemarahan yang meledak-ledak hingga memukul dan memaki.
    6. Mengecek email dan handphone tanpa ijin.
    7. Mengisolasi pasangan dari teman dan keluarga.


    Sulit Keluar dari Kekerasan

    Mungkin kita sering melihat korban dalam hubungan abusive justru sulit keluar dari kondisi tersebut. Menurut Inez, kita perlu memahami bahwa tak selamanya hubungan abusive itu berada dalam fase menyeramkan.

    “Artinya, tak selamanya si pelaku berlaku kasar pada korbannya,” jelas Inez. Ada fase bulan madu di mana layaknya pasangan lain, mereka saling menyayangi satu sama lain. Inilah yang kemudian dijadikan justifikasi oleh korban di mana ia terlalu memaklumi perilaku keras pasangannya.



    (Korban sulit keluar dari kekerasan karena mudah memaklumi pasangannya. Foto: Dok. Pexels.com/Daria)

    Perlu diingat bahwa setiap tindakan kekerasan pasti memiliki trigger (penyebab) tapi kekerasan tak bisa diwajarkan karena tidak semua orang yang menerima tindakan kekerasan menjadi pelaku kekerasan sendiri. Di sinilah muncul cycle of abuse. Inilah yang harus disadari oleh korban abusive relationship.


 

Related Articles