Mengenal 'Generasi Sandwich,' Masalah dan Penyebabnya


  • Mengenal 'Generasi Sandwich,' Masalah dan Penyebabnya
    Mengenal istilah Generasi Sandwich yang terhimpit secara finansial dan penyebabnya. (Foto: Dok. Pexels.com/rawpixel.com)


    Pertama kali dikemukakan oleh pekerja sosial bernama Dorothy Miller pada 1981, istilah sandwich generation atau generasi terhimpit kian populer. Bahkan semakin santer terdengar khususnya bagi kalangan pekerja berusia 30-50 tahun. Lalu, apa sebenarnya arti sandwich generation?

    Istilah ini menggambarkan generasi yang terhimpit tanggung jawab finansial untuk mencukupi kebutuhan banyak pihak, tak hanya dirinya tapi juga anak-anak bahkan orang tua atau mertua dalam waktu bersamaan.



    Sejauh apa efek dan apa yang jadi penyebabnya? 

    (Baca juga: 4 Jenis Investasi Jangka Pendek yang Perlu Kamu Ketahui) 

    "Apa penyebabnya"?

    Sebagai perempuan Indonesia yang lahir dan dibesarkan dengan budaya Asia, kekeluargaan menjadi asas hidup. Bahkan, berbakti kepada keluarga sudah menjadi prioritas atau kewajiban bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Uniknya, hal ini tak hanya terjadi di negara kita.

    Istilah sandwich generation pun menjadi topik hangat sejak krisis moneter global pada 2008. Perekonomian di berbagai negara sudah berubah. Perlambatan ekonomi di negara Barat, beralihnya industri manufaktur ke negara dunia ketiga, banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan, hutang menumpuk (misalnya student loan), uang pensiun yang hilang, gaya hidup konsumtif dan kompulsif yang memicu kenaikan biaya hidup.


    (Ilustrasi. Kelola uang. Foto: Dok/Pexels.com) 


    Secara keseluruhan, beban ekonomi pun terasa lebih berat dibanding sebelumnya sehingga turut membebani kehidupan finansial rumah tangga setiap individu.

    Menurut Aliyah Natasya, Financial Educator sekaligus Founder Investashe, kehidupan rumah tangga tak lagi berprinsip kemandirian melainkan gotong royong satu atap. Anak yang menikah tetap tinggal bersama orang tua atau sebaliknya, orang tua ikut ke dalam rumah tangga anak. Fenomena ini kian menjamur hingga akhirnya tercipta kehidupan satu atap yang terdiri dari tiga generasi. Inilah yang kemudian menyebabkan kemunculan istilah Generasi Sandwich.

    “Saya salah satunya! Apa yang harus dilakukan?”

    Bagi generasi sandwich yang sebagian besar diderita oleh orang tua Millennial, tentu rasanya tak mudah untuk bisa menjaga kondisi keuangan tiga generasi. Namun, Aliyah menjelaskan kunci untuk mengatur kekuangan adalah dengan membuat daftar pengeluaran bulanan. Dengan mengetahui jumlah pengeluaran, kita bisa memperkirakan alokasi keuangan untuk setiap pilar. Ada tiga pilar yang perlu diperhatikan, yaitu:

    Pilar Orang Tua

    Bagi kita yang memiliki kakak atau adik kandung dan ipar, bisa ajak mereka untuk turut membantu beban finansial atau mendedikasikan waktu serta tugas untuk mengurus orang tua. Idealnya, semua dibagi rata, namun kadang jika kita dianggap ‘paling sukses’ di antara anggota keluarga lain, biasanya beban finansial paling besar akan jadi tanggungan kita.

    Di sisi lain, ajak orang tua untuk mulai terbuka tentang kondisi finansial mereka. Jika ternyata mereka punya tabungan deposito atau aset lainnya, bisa dijadikan money generator atau mencarikan produk investasi yang memberikan hasil lebih dengan risiko yang lebih terjamin. Keterbukaan ini akan membantu para pensiunan yang sering terkena post-power syndrome akibat korban investasi bodong. Pastikan juga untuk menghubungi ahli seperti financial planner atau investment assessor untuk meneliti seberapa valid proposal investasi atau bisnis tersebut.

    Pilar Keluarga (pasangan dan anak)

    Memberi pengertian dan kompromi jadi kunci bagi semua anggota keluarga. Berikan pengertian pada anak dan terapkan disiplin berhemat sejak kecil. Edukasi pasangan dan anak tentang finansial dan investasi. Berikan pengetahuan yang bisa diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. 

    Mungkin tak banyak dari kita yang mendapatkan pengetahuan seputar finansial dari usia dini, tapi kita bisa mengubah hal itu sehingga anak-anak kita nanti bisa memiliki kebiasaan finansial yang lebih baik. Sebagai tambahan, persiapkan asuransi jiwa dengan anak sebagai ahli waris. Jika kita adalah bread winner dalam rumah tangga, pasangan juga bisa menjadi ahli waris.

    Pilar Diri Sendiri

    Mempersiapkan dan merencanakan keuangan untuk diri sendiri adalah hal utama. Yang bisa dilakukan salah satunya adalah dengan smart budgeting. Dalam mengeluarkan uang, membeli sesuatu, pastikan untuk ingat tujuan dan kepentingan barang tersebut. Tak ada salahnya untuk mencoba prinsip minimalist living. Buat juga tujuan kehidupan yang diinginkan misalnya keinginan untuk pensiun dini, maka kita harus menabung (sekian) setiap bulannya. Hal ini mampu membuat kita lebih fokus pada tujuan besar sehingga mengeliminasi pengeluaran-pengeluaran kecil.


    (Ilustrasi. Kelola uang. Foto: Dok/Pexels.com)


    “Saya tak ingin terjebak. Bagaimana cara menghindarinya?”

    Menurut Aliyah, keputusan finansial tak hanya melibatkan uang saja tapi juga harus diterapkan dalam keseharian. Kita mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua yang saat pensiun nanti, bisa mandiri secara finansial tanpa harus bergantung pada anak dan cucu. Cara terbaik untuk menghindarinya bisa dengan beberapa cara, di antaranya, pertama; membangun portfolio investasi. Pastikan portfolio kita terdiversifikasi dengan baik.  Kedua, jika portfolio investasi sudah dibentuk, cari peluang bisnis sebagai passive income agar bisa menjadi revenue generator hingga hari tua nanti.

    Ketiga, pastikan setiap anggota keluarga telah terlindungi asuransi kesehatan dan jiwa. Keempat, ajak anak untuk mengambil suara dalam menentukan keputusan finansial saat dewasa nanti. Berikutnya, persiapkan dana darurat, dan juga persiapkan dana pesiun dengan matang. Ubah mindset dan tetap hidup hemat.

    “Sebagai orang tua, bagaimana cara menyiapkan anak agar tidak mengulangi siklus ini?”

    Beranikan diri untuk mulai berinvestasi reksa dana dan saham. Pahami siklus time to buy. Memang tak mudah tapi jangan mudah menyerah. Dua produk ini bisa memberikan return yang paling baik dibanding jenis investasi lain. Ajari juga si kecil untuk memiliki budget pengeluaran. Ajari nilai dan kegunaan dari suatu barang agar ia mengerti konsep value vs price. Dengan begitu, ia akan terbiasa dengan berhemat dan disiplin menggunakan uang sesuai anggaran.

    “Produk asuransi apa saja yang penting untuk dimiliki?”

    Agar tak terjebak dalam sandwich generation, kita wajib memiliki asuransi jiwa, dalam hal ini bisa menolong keluarga yang ditinggalkan nanti untuk memiliki uang asuransi sebagai warisan. Produk terbaik adalah dengan memiliki Asuransi Jiwa Murni.

    Kedua, pastikan kita memiliki asuransi kesehatan. Kita harus menentukan apakah ingin memiliki fitur rawat inap dan rawat jalan atau salah satunya saja. Tentukan paket asuransi sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial. Kita juga bisa menambahkan rider (asuransi tambahan) yang meng-cover penyakit kritis atau pilihan untuk berobat ke luar negeri. Prioritaskan diri untuk membangun kesadaran berasuransi dengan keluarga kecil. Beberapa perusahaan asuransi menyediakan paket bundling untuk keluarga dengan premi yang lebih hemat dibanding satuan.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below