Review Film: 'Aladdin'


  • Review Film: 'Aladdin'
    Film Aladdin menyuguhkan petualangan seru yang kekinian dari kisah Aladdin, Jin dan Putri Jasmine. Diiringi musikal yang asik. (Foto: Dok/Disney/imdb)


    Di bawah arahan Guy Ritchie sebagai sutradara, film live-action baru dari Disney, 'Aladdin' hadir lebih colorful, megah, penuh humor dan meriah. 

    Berdurasi dua jam delapan menit, ada beberapa adegan tambahan yang membuatnya berbeda dari film animasi 'Aladdin' yang sukses di era 1992. Ritchie juga memberi sentuhan kekinian, seperti rap, breakdance, dan penanda lain yang membuatnya berasa lebih modern dan dinamis. 



    Buat yang ingin tontonan menghibur yang memanjakan mata secara visual, 'Aladdin' bisa jadi menyenangkan. Namun, buat yang ingin mendapatkan lebih dari itu, mesti berlapang dada, karena film ini bisa jadi tak seperti yang diharapkan. 

    (Baca juga: Review Film: Captain Marvel) 

    Film 'Aladdin' dibuka dengan lantunan lirik 'Arabian Nights' yang kemudian diikuti dengan pengenalan tokoh Aladdin (Mena Massoud) yang sedang beraksi di tengah pasar kota Agrabah yang riuh. Dengan gesit ia berlari, melompat dan menghindar dari kejaran kelompok yang memburunya. Abu, monyet kecil yang tak kalah lincahnya menjadi teman beraksi Aladdin. 


    (Aladdin dan Genie. Foto: Dok/Disney/imdb) 


    Di satu kesempatan, Aladdin dan Abu bertemu sosok perempuan yang tengah dituduh 'mencuri'. Pertemuan tak sengaja itu menjadi pertemuan pertama yang berkesan antara Aladdin dan Princess Jasmine (Naomi Scott). Keduanya saling tertarik tapi Jasmine mendadak mesti kembali ke Istana. 

    Di Istana, Jafar (Marwan Kenzari), perdana menteri sedang berupaya menemukan seseorang yang diyakininya dapat mengambil lampu ajaib yang bisa mewujudkan keinginannya untuk merebut tahta dan menjadi Sultan. Setelah gagal berulang kali, pertemuannya dengan Aladdin menjadi titik terang bahwa lampu ajaib bisa ditemukan.

    Aladdin memang berhasil menemukan lampu ajaib dan menggosoknya hingga menghidupkan Genie atau Jin (Will Smith) yang siap mengabulkan tiga permintaan. Namun, semuanya tak mudah. Dari sini, kisah Aladdin dimulai. 

    (Jafar. Foto: Dok/Disney/imdb) 


    Film remake 

    Ditulis John August (Big Fish) dan juga Ritchie, film ini masih mencoba tetap berpegang pada cerita orisinalnya, dengan tambahan kebaruan di beberapa elemen. Di antaranya memanjangkan cerita dengan hadirnya kisah romantis Genie dan Dalia (pembantu Princess Jasmine), atau niat jahat Jafar yang menakutkan.  

    Dari beberapa hal yang membuat film ini menarik, di antaranya yakni tingkah polah Genie yang usil, karpet ajaib yang membuat takjub, serta pertunjukan bak karnaval ketika Aladdin menjadi Pangeran Ali dari Ababwa saat masuk ke istana. Dan jika Aladdin punya Abu, maka Jasmine punya Rajah (harimau), dan Jafar punya Lago (burung beo). Masing-masing berinteraksi dengan asik. 

    Di luar itu, film ini mengusung musikal yang kental dengan masih diiringi musik dan lagu ciptaan Howard Ashman dan Alan Menken yang ikonis. Di antaranya lagu 'Prince Ali', dan 'Friend Like Me' yang dinyanyikan dengan meriah dan hidup oleh Will Smith. Sementara penggalan lagu 'A Whole New World' membawa penonton pada suasana romantis dan pemandangan kota Agrabah yang indah. Sedangkan, 'One Jump Ahead' diiring dengan aksi dan permainan kamera yang asik secara visual. 



    (Princess Jasmine. Foto: Dok/Disney/imdb) 


    Yang menarik adalah ketika produksi Disney ini memberi porsi lebih besar buat Princess Jasmine menunjukkan bahwa dirinya seorang perempuan modern, independen dan kuat. Itu ditunjukkan saat ia membawakan lagu 'Speechless' yang ditulis duo Benj Pasek dan justin Paul (La La Land). Liriknya mengusung pesan kuat akan pemberdayaan dan melabrak tradisi patriarki, serta memberi suara pada yang bungkam. Scott membawakannya dengan powerful, dan bahkan mendapat kesempatan menyanyikannya sampai dua kali di sepanjang film. 

    Namun, ada yang kurang dari garapan film ini secara keseluruhan. Guy Ritchie bisa jadi berhasil kala membuat 'Lock, Stock and Two Smoking Barrels', dan atau Sherlock Holmes yang unggul dalam memberi kesan adventurous, tapi itu saja tak cukup. Penggarapannya terasa agak lambat dan membuat dahi berkerut di beberapa adegan, seperti kemunculan karakter Dalia yang genit, kehadiran dan tingkah jenaka Pangeran Anders yang ingin melamar Jasmine, atau interaksi Jafar-Aladdin yang lebih rumit.

    Namun, di luar kekurangannya itu, film 'Aladdin' cukup menghibur karena memanjakan mata lewat visual penuh warna, dan juga telinga berkat musikalnya yang apik. 

    Film 'Aladdin' tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Mei 2019. 




 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below