Film 'Boccia' Ajak Publik Lebih Dekat dan Kenal Boccia


  • Film 'Boccia' Ajak Publik Lebih Dekat dan Kenal Boccia
    Merangkum dari 10 negara di Asia, Film Boccia sesuai judulnya menunjukkan perjuangan para atlet paralimpik dan olahraga boccia. (Foto: Dok/Boccia)


    Boccia bisa jadi masih terdengar asing di telinga. Namun, bisa jadi tidak bagi yang menyaksikan pertandingan Asian Para Games 2018 beberapa waktu lalu. Sebab, boccia termasuk salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan. 

    Mengutamakan strategi dan ketepatan, boccia merupakan olahraga yang dimainkan oleh para penyandang cerebral palsy. Mereka menggunakan bola berdiameter 100mm dan berat 275 gram.  



    Demi lebih mengenalkan pada publik lebih luas akan olahraga ini, serta bagaimana perjuangan para atlet dalam bertanding, Natalia S Tjahja, founder Maria Monique Lastwish Foundation membuat film yang ia beri tajuk 'Boccia'. Dibagi atas dua bagian, film 'Boccia Part One' diputar di CGV, Grand Indonesia, Jakarta pada Kamis (16/5). 

    (Baca juga: Momen-momen Berkesan di Pembukaan Asian Para Games 2018) 

    Menurut Natalia, yang bertindak selaku sutradara dan juga produser, ini merupakan pemutaran kedua setelah sebelumnya pernah ditayangkan di Yogyakarta. 

    Pemutaran film dihadiri sekitar 120 anak difabel dari tim Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), dan 150 anak difabel dan tim Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Fery Farhati turut hadir dan memukul gong sebagai penanda sebelum pemutaran film. 

    "Boccia adalah olahraga bagi penyandang cerebral palsy, dan menjadi kebahagiaan terbesar buat mereka. Tujuan film ini simple, supaya orang tahu tentang boccia," ujar Natalia. 



    (Fery Farhati, istri Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memukul gong tanda pemutaran film Boccia Part One. Foto: dok/Istmewa) 


    Berdurasi 45 menit, film ini menampilkan semangat dan perjuangan para atlet boccia dari 10 negara di Asia, dimulai dari Malaysia, lalu Singapura, India, China, Taiwan, Hong Kong, Korea, Filipina dan juga Indonesia.

    Di setiapnya, ada satu atau dua atlet yang menjadi sorot utama. Misalnya, pada tim boccia Malaysia, ada Lean Chin Kit yang sembari duduk di kursi roda mengungkapkan betapa boccia telah menjadi sumber kebahagiaannya. Hal senada diungkap atlet boccia Singapura, Kah Whye yang meski harus berjuang dengan mengonsumsi banyak painkiller. Namun, ia merasa bahagia saat berhadapan dengan boccia. 

    Sementara, di China, atelt Lin Ximei mengungkap jatuh bangunnya hingga meraih banyak medali. Kisah berikutnya menayangkan perjalanan menggugah dan inspiratif dari Jeong Howon (Korea), Joey De Leon (Filipina), dan Worawut Saengampa (Thailand). 

    Sementara, di Indonesia, cerita mengambil set di Jakarta dan Yogyakarta. Di bagian ini tampak Fery Farhati, istri Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta menyambut salah seorang penyandang cerebral palsy dan bermain boccia bersama. 

    Film boccia menggabungkan pengambilan gambar dari momen latihan para atlet di kursi roda, saat bertanding, dan wawancara, juga selipan animasi yang membuat kisah mereka lebih hidup. Sesekali juga terdengar soundtrack dari lagu yang diciptakan Natalia khusus untuk film ini. 


    (Natalia S Tjahja bersama anak-anak di pemutaran film Boccia. Foto: Dok/istimewa) 


    Proses pembuatan

    Dalam proses pembuatannya, Natalia mengungkapkan film ini dibuat dengan semangat perjuangan dan kerja keras banyak pihak. Dibagi atas dua bagian, film Boccia bagian kedua masih menggali cabang olahraga ini lebih jauh. Di antaranya, menuangkan kisah tim boccia Thailand yang bertanding selama Asian Para Games 2018. 

    Dalam proses pembuatannya, ia mengungkapkan dirinya seperti melakukan perjalanan iman ke 10 negara untuk shooting dan pengambilan gambar. Di awal proses, ia mendapat dukungan dari Presiden Asian Paralympic Committee, Majid Rashed dan CEO Tarek Souei.

    "Mereka semua (negara yang terlibat) memberikan kepercayaan ke saya untuk membuat film Boccia. Tuhan ijinkan saya jadi producer dan sutradara,juga pencipta lagu, serta menulis naskahnya," ujar dia menambahkan.

    Dalam membuat film tersebut, Natalia mengungkapkan dirinya juga mendapat inspirasi dari Nick Bhirombhakdi, President Paralympic Committee of Thailand yang mengungkapkan: "Sports can turn you into better person, for difable, I ask you to come out participate in sports". 

    Nick Bhirombhakdi yang membuat dokumenter film para atletnya dan sudah mencapai 90 episode, juga turut bersedia menjadi pemain di film Boccia besutannya.

    "Apa yang Nick lakukan ini membuat saya merasakan hati Nick yang murni untuk kebahagiaan para penyandang cerebral palsy," ujarnya. 

    Kata-kata Nick, menurut Natalia, juga punya arti yang sangat dalam buat anak-anak cerebral palsy yang saat ini masih bersembunyi, karena ada orang tua yang malu dan enggan ketika anaknya mengidap cerebral palsy. 

    Zero cost 

    'Bisa dibilang film ini dibuat dengan zero cost, semua yang terlibat tak mendapat bayaran, termasuk kameramen dan lainnya," ujarnya.

    Natalia mengungkapkan di awal pembuatan film ia mendapat support dari Andhy Pulung (Studio Super 8 mm) yang memberikan semangat dan juga informasi.   

    (Baca juga: Highlight Pembukaan Asian Para Games 2018) 

    Selain itu, turut terlibat dalam pembuatan film, di antaranya Ahsan Andrian sebagai editor supervisi, Iwan Sofyan sebagai editor, Kelik Wicaksono sebagai animator untuk adegan di Malaysia, RUS Animation untuk adegan opening dan Thailand, Adityo Baharmoko untuk adegan di China dan Taipei, serta Rian Hidayat untuk adegan di Korea. 

    Di samping itu, kata Natalia, kameramen film Korea 'Extreme Job', Yoon gi-Kim pun turut serta memberikan bantuannya di film ini. Juga ada, kameramen ternama Jepang Shinji Tomita yang bersama Hiroki Asai membantu untuk pengambilan gambar di Jepang. Sementara, untuk gambar di Singapura, Filipina dan China, ada kameramen Raymond Tan. Untuk mixing filmnya disupport oleh Fourmix, dan DCP disuppport Edwin, dari Pyramid Post.

    Dalam perjalanannya ke berbagai negara, Natalia mengungkapkan dirinya juga mendapat bantuan dari KBRI Bangkok, KBRI Tokyo, KBRI Manila, KBRI Seoul dan KJRI Guang Zhou. 

    "Tanpa punya keahlian khusus di bidang film, saya memberanikan diri untuk ambil peran sutradara dan produser, karena kalau tidak, maka film 'Boccia' ini tak pernah ada di dunia," ujarnya. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below