Jakberfest: Riuh Selebrasi 25 Tahun Jakarta-Berlin


  • Jakberfest: Riuh Selebrasi 25 Tahun Jakarta-Berlin
    Selebrasi kerjasama Sister City Jakarta dan Berlin (Jakberfest) menampilkan kolaborasi seni karya Snyder (Jerman) dan Darbotz (Indonesia). (Foto: Dok/Jakberfest2019)


    Jakarta dan Berlin sudah memiliki hubungan baik yang dikenal sebagai kerja sama 'Sister City' sejak tahun 1994. Kerja sama yang sudah terjalin selama dua puluh lima (25) tahun ini dirayakan pada acara Jakarta Berlin Festival (Jakberfest) yang menampilkan kolaborasi Jakarta dan Berlin pada Sabtu (30/11) di terowongan Kendal, Jakarta Pusat. 

    Diusung Pemprov DKI Jakarta, dan Kedutaan Besar Jerman untuk Indonesia serta MRA Media, Jakberfest menghadirkan kolaborasi seni antara dua seniman Jakarta dan Berlin, serta aneka makanan khas dari kedua kota, dan penampilan dari musisi JakJazz. Acara ini turut didukung PT MRT Jakarta dan Lazada.



    Dalam rekam jejaknya, kerja sama Sister City ini telah menghasilkan ragam kolaborasi budaya yang mendorong kreativitas dan inovasi untuk pembangunan kota Jakarta. Beberapa budaya kota Berlin telah diadopsi untuk membangun kota Jakarta, seperti budaya jalan kaki, dan membangun moda transportasi yang terintegrasi, yang didukung oleh ruang publik yang nyaman dan aman. Selain itu, ruang publik juga dapat dimanfaatkan untuk itu penyelenggaraan festival seperti acara Jakberfest. 

    (Baca juga: Perempuan Bicara Seni di Jakarta Art Week 2019) 

    (Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Foto; Dok/Jakberfest) 


    “Hubungan Sister City Jakarta dan Berlin terus berkolaborasi untuk perubahan lebih baik. Rencana selanjutnya, Jakarta dan Berlin sedang mengerjakan proyek “smart change” untuk mencari solusi inovatif tentang kesinambungan pembangunan kota-kota berkembang. Semoga kerjasama seperti ini akan dapat dilakukan dengan kota besar lainnya di tahun-tahun mendatang,” ujar Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta di sela pembukaan. 

    Kolaborasi terbaru antara Jakarta dan Berlin dituangkan pada salah satu sisi terowongan Jalan Kendal, Jakarta Pusat. Karya seni kontemporer hasil karya Snyder, seniman asal Jerman dan Darbotz, seniman mural asal Indonesia bertema “Friends Mural” yang menggambarkan persahabatan, teknologi, dan budaya. 

    Hasil karya Snyder dan Darbotz dapat dinikmati oleh pengunjung JAKBERFEST, dan juga masyarakat pengguna transportasi umum yang sudah terintegrasi. 


    (Penampilan Barry Likumahuwa dari JakJazz di Jakberfest. Foto: Dok/Jakberfest2019)


    Jakarta-Berlin 

    Dalam proses kreatifnya, Darbotz mengungkapkan dirinya sejak kecil kerap melihat Metro Mini dan Bajaj sebagai salah satu pemandangan umum di Jakarta, tapi sekarang sudah mulai menghilang.

    "Hal ini menjadi inspirasi karya mural saya di terowongan ini, yang dapat membuat orang bernostalgia dan juga pengetahuan bagi generasi muda saat ini. Satu hal yang cukup membuat terkesan adalah ini projek bersama pemerintah untuk melakukan street art yang dulunya belum difasilitasi oleh Pemprov DKI. Sekarang saya malah diundang untuk menghiasi salah satu ruang publik yang ada. Saya berharap dengan adanya acara ini, makin banyak ruang publik di Jakarta maupun kota lain yang dapat dihias oleh seniman lokal,” ujar Darbotz.

    Pengalaman lain saat membuat seni kontemporer di terowongan Jalan Kendal juga ditambahkan oleh Snyder, seniman asal Berlin.

    “Street art dan karya seni yang ada di jalan memang untuk dinikmati maupun dikomentari oleh masyarakat yang melewatinya. Saya suka melihat orang-orang berinteraksi terhadap karya seni saya termasuk adanya komentar negatif dari mereka. Tidak seperti di dunia maya, dimana orang hanya mengomentari unggahan gambar yang tidak dilihat secara menyeluruh," ujarnya.

    Lebih jauh ia menambahkan, ia merasa karya seni di terowongan ini dapat menjangkau orang banyak dan itu memberikan arti.

    "Ketika saya membuat grafitti ini, beberapa anak kecil duduk di belakang saya dan mulai menggambar pada buku mereka. Saya senang jika dapat menginspirasi orang lain untuk memulai menggunakan pulpen, kuas, atau alat tulis lain untuk mengekspresikan dirinya.”


    (Jakberfest 2019. Foto: Dok/Jakberfest) 


    Makanan khas dan jazz

    Selain kolaborasi seni, Jakberfest juga menyuguhkan ragam makanan khas Berlin dan Jakarta, seperti Bratwurst,Currywurst, Soto, Asinan, dan masih banyak lagi. Pengunjung dapat menikmati makanan tersebut dengan harga terjangkau, mulai Rp25.000,- hingga Rp45.000,-.

    Event ini turut diramaikan oleh JakJazz yang merupakan pelopor acara festival jazz di Indonesia. JakJazz menghadirkan musisi-musisi ternama seperti Barry Likumahuwa dan Aletta Stars untuk menghibur pengunjung. 

    Tidak hanya itu, JakJazz yang sempat vakum beberapa tahun, akan kembali diselenggarakan tahun depan. Selain itu, Jakberfest juga diramaikan dengan penampilan dari Andezzz dan 2 Lampu Neon. 

    “Untuk merealisasikan esensi persahabatan dua kota Jakarta dan Berlin, MRA Media menggagas sebuah konsep festival jalanan yang menggabungkan kuliner, musik, budaya dalam acara JAKBERFEST di terowongan Jalan Kendal. Sehingga masyarakat bisa menikmati fasilitas umum yang sudah dipercantik oleh pemerintah. Terowongan ini dikembangkan menjadi ruang publik yang aman dan nyaman. Selain itu, pedestrian way yang diperbesar dan juga moda transportasi yang sudah terintegrasi menjadi penunjang kebutuhan kaum urban,” ujar Iwet Ramadhan, Head of Business Growth MRA Media.

    Berlangsung dari pukul 16:00 hingga 23:00 WIB, publik disarankan untuk menggunakan moda transportasi MRT yang dapat terhubung langsung dengan lokasi acara yaitu di terowongan Jalan Kendal. Sembari menyusuri terowongan, pengunjung pun dapat menikmati karya seni kontemporer kolaborasi Jakarta dan Berlin, lantunan lagu dari musisi ternama, dan juga makanan khas kedua kota tersebut. Setelah festival ini usai, seni kontemporer Snyder dan Darbotz masih dapat dinikmati oleh kaum urban sebagai fasilitas ruang publik.




 
Advertisement - Continue Reading Below