A Chat with Meutya Hafid: Di Balik Insiden Irak [Bag 2]


  • A Chat with Meutya Hafid: Di Balik Insiden Irak [Bag 2]
    Meutya Havid berbagi cerita soal insiden Irak, karier politik dan kehidupan pribadinya yang belum banyak diketahui publik. (Foto: Dok/rairahmanindra/herworldindonesia)


    Selain berpolitik, Meutya Hafid tak bisa lepas dari insiden penyanderaan di Irak pada 2005 yang membuatnya kemudian lebih dikenal. 

    Lewat buku memoarnya '168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis', ia berbagi cerita. Selain itu, tak banyak yang tahu, ia juga pernah merilis lagu, hobi makan saat kampanye di daerah, dan kembali menikah setelah gagal di pernikahan pertama. 



    Sementara, untuk latar belakang pendidikan, ia adalah lulusan teknik industri University of New South Wales, Australia, sebelum kemudian mengambil master di bidang politik di UI. 


    Herworld Indonesia (HW): Sebelum berpolitik, kamu latar pendidikanya apa?

    Meutya Hafid (MH): Jadi, saya dari dulu kuatnya di ilmu pasti. Nilai eksakta lebih bagus dari sosial. Saya dapat beasiswa juga karena nilai eksakta tinggi. Saya pikir waktu itu, saya akan bagus jadi insinyur, tapi di akhir masa S1, saya sadari passion saya bukan di bidang teknik. Waktu itu masa reformasi. Begitu Desember 1998, lulus kuliah, saya lihat peluang untuk berperan di demokrasi Indonesia. Salah satunya ya lewat media. Kebetulan, ada media baru diluncurkan, tv berita. Saya pikir, kenapa tidak. Ketika masuk Metro TV saya belajar banyak hal dan diberi kesempatan di DPR MPR, termasuk liputan daerah konflik. Sampai sembilan tahun kurang lebih di sana. Makanya ketika di politik, saya merasa perlu ada short course. Karena di DPR itu anggotanya berasal dari beragam background, ada insinyur, penyanyi, seniman, dan lainnya. 


    HW: Sempat disandera di Irak 14 tahun lalu. Ada efek besar karenanya?

    MH: Mungkin tanpa saya sadari, itu ada dampaknya. Saat itu nggak menyangka, bahwa saya mungkin sedang disiapkan untuk hal lebih berat lagi, seperti posisi saat ini. Sampai sekarang pun ada yang jadikan itu bercandaan, kayak 'disandera di Irak saja bisa, masak itu (politik) nggak bisa'. Mungkin, ada benarnya juga apa yang dialami ketika itu menguatkan saya untuk menghadapi tantangan ke depannya. Meski saat itu belum tahu tantangannya seperti apa. Mudah-mudahan semuanya, termasuk masa jadi wartawan itu telah menempa saya.


    HW: Insiden memengaruhi karier saat itu?

    MH: Waktu kembali dari insiden Irak, saya sempat stay di Metro TV, sekitar 3-4 tahun. Saya dikasih kesempatan lebih, seperti talkshow di prime time, dan lebih dikenal banyak orang. Mungkin itu juga yang mendorong saya terjun ke politik. Diajak sama pak Jusuf Kalla saat itu, katanya saya mewakili suara anak muda dan perempuan. 


    HW: Andaikan bukan JK dan Golkar, apa akan berbeda jadinya?

    MH: Ya. belum tentu saya terjun ke politik.  


    HW: Kenapa Golkar?

    MH: Kasih aku nama partai politik yang punya dinamikanya  lebih banyak dari Golkar? Partai mana yang lebih demokratis, misalkan dari pemilihan ketua umumnya, atau pemilihan pimpinan komisinya. Hampir semua unpredictable dan demokrasi. Alasan yang lebih unpredictable itu, jadi tantangan buat saya. 



    (Meutya Hafid di ruang kerjanya di DPR. Foto: Dok/rairahmanindra/herworldindonesia) 


    HW: Kisah penyanderaan jadi memoar. Bagaimana kelanjutannya? 

    MH: Mungkin saya akan jadikan film (tertawa). Bahwa ada kejadian wartawan disandera di Irak. Ini bisa jadi legacy juga buat jurnalis Indonesia, pengingat bahwa dulu untuk mendapatkan truth kita pergi jauh. Sekarang nggak. Ada informasi yang bahkan belum terkonfirmasi. Meski, yang disandera banyak, bukan cuma aku. 


    HW: Setelah itu sempat mendapat beberapa penghargaan, khususnya di bidang jurnalistik ?

    MH: Ya, ada beberapa penghargaan, diantaranya dalam kategori Perempuan Pemberani, Inspiring Women, dan lainnya. Waktu itu, saya melihat bahwa publik lebih menilai dari insiden saya disanderanya, tapi belum dari karya jurnalistiknya. Diisitu sempat kepikiran. Walau ada juga yang menilai dari karya jurnalistik, seperti yang dikasih pemerintah Australia dan Mizan sebagai salah satu tokoh pers. Aku antara senang dan nggak seang, karena lebih dikenal sebagai 'yang disandera di Irak', karena seolah aku lebih dikenalnya begitu. Padahal beberapa hari sebelum disandera, saya liputan, tapi nggak diingat. Tapi itu dulu, sekarang kalau disinggung begitu, jadi tertawa saja.


    HW: Karya jurnalistik yang ingin dikenal itu seperti apa?

    MH: Waktu di Irak itu, saya liputan pemilu yang bersejarah sekali. Karena itu pemilu pertama Irak setelah Saddam Husein jatuh. Aku liputan kudeta militer di Thailand, liputan bom Bali, tsunami di Aceh, dan ketika GAM penangkapan darurat militer di Aceh, ketika di sana belum aman. Liputan-liputan yang kemudian membuat saya dikirim ke Irak, karena saya pernah liputan di daerah konflik sebelumnya.


    HW: Dari dulu suka liputan begitu?

    MH: Saya suka, mungkin saya suka dinamika tinggi. Saya selalu suka tantangan in terms of tempat-tempat yang menantang. Dalam pandangan saya, menantang begitu daerah bencana, dan konflik karena butuh keahlian khusus untuk bicara dengan narasumber di sana atau dalam kondisi peperangan. 




    KEHIDUPAN PRIBADI, IDOLA DAN MIMPI 


    HW: Di luar pekerjaan, hobinya apa?

    MH: Sekarang olahraga saja. Lari dan yoga, sekitar tiga kali seminggu. Lari mudah dan menjadi kesempatan buat bertemu tetangga sekitar. 


    HW: Ada foto yang bandingin 2009 -2019 masih tampak awet muda. Apa rahasianya? 

    MH: Olahraga. Kalau makanan, saya suka banget makan, karena bagaimanpun saya berasal dari Dapil yang makanannya enak-enak di Sumatera Utara. Favorit  saya gulai kepala ikan. Itu enak banget. Namun, saya seimbangkan dengan olahraga. Saya selalu coba aktif, tidak selalu di balik meja. Di DPR pun saya selalu jalan keluar.


    HW: Jaga makanan juga?

    MH: Ya, saya jalani diet keto. Dalam dua tiga bulan terakhir ini, tapi kadang cheating juga. Sejauh ini sudah turun 8-9 kilogram. 


    HW: Untuk kulit, ada perawatan kulit khusus? 

    MH: Ke dokter ada, pakai krim perawatan kulit. Saya coba rutin kalau buat perawatan kulit ke dokter, karena kalau masa kampanye kerap di bawah matahari.


    HW: Bagaimana dengan pilihan busana, atau fashion?

    MH: Nggak ada, saya bukan orang yang fashionable. Saya coba look neat, rapi, santun, pokoknya menyesuaikan. Kalau lagi nggak di kantor, ya pakai jeans dan kaos, tapi bukan berarti harus fashionable. Selama rapih, dan sopan, karena nggak ada tenaga buat pikiran fashionnya. Boleh dibilang saya nggak punya energi lagi harus pakai baju apa. Most of my shopping berasal dari online shopping, saya jarang main ke mall untuk belanja, lebih sering beli online. 


    HW: Siapa perempuan politisi yang dikagumi?

    MH: Siapa ya... Margaret Thatcher. Dulu pakai kalung mutiara gara-gara dia.  


    HW: Selain politisi, ada lagi?

    MH: Jennifer Aniston. Selain di Friends, ia sosok yang berangkat dari anak manja, yang terus berjuang kemudian mandiri. Di samping itu, ia lucu dan menyenangkan. Saya kira, apa yang penting end of the day, karier apapun, jadi orang yang nyenengin. 


    HW: Ada catatan menarik dari wikipedia. Pernah google diri sendiri?

    MH: Pernah. 


    HW: Ada yang nggak terungkap dan ingin diubah? Misalkan kayak personal life?

    MH: Saya sudah menikah lagi lima tahun lalu, tepatnya Februari 2014 dengan Noer Fajrieansyah. Dia sportif dan karena saya pernah gagal dengan pernikahan sebelumnya (Meutya menikah dengan Avian Eddy Putra Tumengkol 2009), maka saya kali ini yakinkan dia untuk nggak mau gagal lagi. Saya kenal dia dari teman, dan di awal sudah tahu saya di politik. Jadi, saya bilang, kemungkinan besar saya nggak bisa masakin dia setiap hari. Urusi baju setiap hari dan lain-lain. Untungnya dia juga mandiri tidak menuntut hal itu. Sangat toleransi dan percaya. Di politik, kepercayaan itu jadi sangat penting. Most of the time waktunya di luar rumah. 


    HW: Di wikipedia, disebutkan juga perihal Bobby yang pernah teror? Benarkah?

    MH: Itu sudah lama sekali. Sewaktu pulang dari Irak. Agak menyeramkan, karena ada sebut suami ghaib, dan itu nggak benar. Bahkan pernah ada media cari orangnya dan ketemu. Dia di jalanan, tapi kok aneh dia bisa punya uang untuk terus teror. Itu kejadian sebelum ada UU ITE, sampai sesudah ada UU ITE pun saya tidak menggunakannya. Karena saya tahu dia, posisinya yang powerless, jadi ya sudah. 



    HW: Kamu pernah keluarin single, dan jadi penyanyi. Boleh cerita sedikit? Bakat terpendam atau keinginan terbesar?

    MH: Batasan aku melakukan sesuatu asalkan tidak melanggar hukum atau UU, saya lakuin. It's fun dan ada manfaatnya waktu itu. Memang ketika saya nyaleg, di dapil itu orang suka nyanyi. Ditambah lagi, waktu itu, kondisi politik yang sedang dalam keadaan pecah sosial, ada nomor satu, nomor dua, dan sebagainya. Emosional bisa pecah orang. Makanya lewat lagu ini, saya mengajak kita bersama untuk bersatu. Judulnya 'Kita Bersama'. Lirik lagunya ingin memersatukan, dan melodinya upbeat banget jadi ketika dibawakan nuansanya bikin senang.


    HW: Bagaimana melihat diri kamu 5 atau 10 tahun akan datang?

    MH: Saya termasuk orang yang tidak pernah bikin plan begitu. Targetnya nggak terlalu jauh, yang penting sekarang jalankan tugas dengan baik. Dulu waktu kuliah nggak kebayang jadi wartawan. Dari wartawan nggak kebayang jadi politik. Di politik nggak kebayang sudah 10 tahun. Pengennya apa yang dilakuin, dilakukan sepenuh hati. Saya sudah mulai di politik, dan belum kebayang apalagi nantinya. 


    HW: Sebuah pencapaian atau achievement bagi seorang Meutya Hafid, itu apa? 

    MH: Hmm..mungkin bisa menginspirasi dan melahirkan banyak anak muda generasi berikutnya di ranah politik. Saya pikir, mungkin saya tidak akan lama di politik sampai 10-20 tahun ke depan lagi. Jadi mesti ada yang meneruskan. Saya ingin bisa menginspirasi, membentuk anak muda yang siap terjun ke politik. Karena bagaimanapun politik itu sangat sangat bergantung pada proses. Jadi butuh tantangan tersendiri. 


    [habis] 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below