Review Film: 'Susi Susanti: Love All'


  • Review Film: 'Susi Susanti: Love All'
    Diangkat dari kisah heorik atlet badminton bernama sama, Susi Susanti: Love All menyuguhkan kisah inspiratif yang menggugah emosi. (Foto: Dok/TimeInternational)


    Diangkat dari kisah nyata, film 'Susi Susanti: Love All' menyajikan dua hal sebagai perhatian utamanya, yakni jatuh bangun atlet legendaris Susi Susanti dalam dunia badminton dan dilema persoalan kewarganegaraannya.  

    Menjadi peraih medali emas di Olimpiade 1992 di Barcelona adalah satu torehan penting bagi Susi Susanti, dan juga Indonesia. Namun, seiring itu, Susi juga dihadapkan pada kenyataan bahwa ia tak memiliki Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). 



    Dua persoalan ini saling berkelindan dan menjadikan 'Susi Susanti: Love All' hadir sebagai drama yang inspiratif, menyesak dada karena bangga juga haru lewat air mata. Salah satu film biopik terbaik yang patut ditonton. 

    (Baca juga: Susi Susanti: Love All Angkah Kisah Perjuangan Atlet) 


    (Adegan di film Susi Susanti: Love All. Foto: Dok/FilmSusiSusanti) 


    Film 'Susi Susanti: Love All' dibuka dengan adegan Susi Susanti kecil (Moira Tabina Zayn) ketika ia akan tampil menari balet dalam perayaan 17 Agustusan di Tasikmalaya, Jawa Barat. Namun, demi membela kakaknya Rudi, ia malah bertanding badminton dan menang. Insiden ini berujung tawaran untuk berlatih di PB Jaya Club yang digawangi pemain badminton disegani kala itu, Rudy Hartono (Irwan Chandra). Ternyata, selain balet, Susi diam-diam menyukai badminton dan kerap menuliskan di buku hariannya. 

    Pengalaman latihan di masa kecil ini membangun kepribadian dan karakter Susi. Tak hanya latihan fisik tapi juga mental. Di sinilah mental juara Susi digembleng. Beranjak dewasa, ia masuk Pelatnas, di mana kemudian ia bertemu rekan atlet yang kemudian jadi pasangannya, Alan Budikusuma (Dion Wiyoko), serta dua teman bermainnya Sarwendah Kusumawardhani (Kelly Tandiono) dan Hermawan SUsanto (Rafael Tan). 

    Di Pelatnas turut berperan sosok Try Sutrisno (Farhan), dan MF Siregar (Lukman Sardi), serta pelatih Liang Chiu Sia (Jenny Chang). Susi mendapat perhatian khusus berkat talenta, kedisiplinan dan mentalnya. Pertandingan final yang menegangkan di Sudirman Cup 1989 menjadi salah satu momen terbaik di sepanjang film. Momen ini menghadirkan sosok Susi yang menerbitkan rasa bangga, dan juga kagum. 

    Hal serupa juga berulang di Olimpiade Barcelona. Dan seterusnya di pertandingan berikutnya, hingga Susi memutuskan untuk pensiun di 1998. Persoalan bergeser akan peliknya situasi Indonesia yang rusuh dan persoalan kewarganegaraan Susi. 

    Menggugah emosi 


    (Adegan di film Susi Susanti: Love All. Foto: Dok/FilmSusiSusanti) 


    Disutradarai Sim F (Kotak Coklat di omnibus Sanubari Jakarta), film 'Susi Susanti: Love All' hadir dengan garapan yang asik. Nuansa era 1980-an dan 1990-an melempar penonton kembali untuk bernostalgia. Merasakan kembali deg-degan saat menyaksikan Susi bertanding di laga final, lalu turut bersorak gembira begitu ia menang dan menjadi juara.

    Laura Basuki sebagai Susi Susanti tampil dengan sangat baik dan mengesankan. Ekspresi dan tatapan serta air mata yang menetes di podium saat meraih medali emas itu sangat mencuri perhatian dan menerbitkan simpatik. Tak hanya Laura, hampir semua lini pemeran bermain baik, termasuk Jenny Chang sebagai pelatih Chiu Sia, dan Kelly Tandiono yang kerap steal the scenes di sepanjang film. 

    Naskah yang ditulis bareng Syarika Bralini, Raditya, Raymond Lee, Daud Sumolang dan Sinar Ayu Massie menyajikan dialog yang cerdas dan menggelitik. Satu gagasan soal nama panggilan misalnya, menjadi suatu yang berhasil mendapat perhatian. Ikatan emosional Susi dan ayahnya (Iszur Muchtar) dan juga ibunya (Dayu Wijanto) terbangun dengan baik. 

    Di luar itu, perhatian kecil terhadap detail juga menjadi salah satu nilai lebih. Khususnya, saat Susi menggambar dan menganalisa kelebihan dan kekurangan pemain lain dalam buku diary-nya. Atau saat Susi berinteraksi dengan Sarwendah dan Alan Budikusuma. Hal-hal kecil ini menjadikan film Susi Susanti: Love All selalu menarik hingga akhir film. 

    Diiringi musik yang pas, dan nuansa 90-an yang kental, film produksi Time International, Damn I Love Indonesia, Oreima Films dan East West Synergy ini hadir sebagai biopik atlet yang berhasil dan matang. Penuh haru, menegangkan dan sekaligus juga sarat kritik sosial akan persoalan kewarganegaraan di masa silam. Menyaksikan Susi berjuang membela Indonesia menerbitkan rasa haru dan air mata, sementara kisah dan interaksinya dengan orang sekitar membuat tersenyum simpul sendiri karenanya. 

    Film Susi Susanti: Love All tayang di bioskop mulai 24 Oktober 2019. 





 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below