Women of the Year 2019: Hana Madness


  • Women of the Year 2019: Hana Madness
    Hana Madness berhasil menghantam stigma dan meruntuhkan semua tuduhan 'gila' yang pernah dilayangkan padanya. (Foto: Dok/herworldIndonesia)


    Hana Madness, 27, Seniman/Visual Artist

    Divonis memiliki gangguan mental Bipolar tipe 1 pada tahun 2013 dan sempat dianggap mengidap Schizophrenia di masa awal kuliah, nyatanya tak membuat perempuan bernama asli Hana Alfikih ini tenggelam pada stigma. Ia justru berhasil menghantam dan meruntuhkan semua tuduhan ‘gila’ yang pernah dilayangkan pada dirinya bahkan dari keluarganya sendiri.



    “Hubungan saya dan keluarga tak pernah harmonis akibat kondisi ini. Ibu saya pun kerap abusif karena tak bisa meng-handle saya sehingga sering dianggap aib. Akhirnya saya selalu cari pelarian! Mulai dari jarang pulang sampai menyakiti diri sendiri, semua saya lakukan. Tato-tato ini pun kebanyakan dibuat karena saya sangat enjoy dengan rasa sakit dan untuk menutupi bekas-bekas sayatan yang pernah saya toreh. Tapi kini semua berubah."

    "Segala fluktuasi emosi tersebut hampir jarang terjadi sejak rajin menumpahkan energi pada karya. Selain punya caregiver yang juga selalu mengerti dan mau mendengar semua kegelisahan, kepercayaan dan apresiasi orang lama-lama kian meningkatkan rasa percaya diri dan malah ingin melakukan banyak hal untuk orang lain. Di sini, akhirnya saya mengerti bahwa seni lah yang menyelamatkan saya,” kisahnya.

    (Baca juga: 10 Sosok Women of the Year 2019 Herworld Indonesia) 


    Oleh sebab itu, beberapa bulan yang lalu ia diundang ke Liverpool, Inggris, untuk berkolaborasi dengan institusi yang berfokus pada penanganan penyalahgunaan narkoba dan obat-obatan terlarang dan untuk melakukan pameran di kota St. Helens, Liverpool, selama satu bulan penuh dalam Take Over Festival di mana salah satu isunya adalah kesehatan jiwa.

    “Di sini aku ingin hadir sebagai seorang penyintas yang coba membuka perspektif masyarakat dan membuang anggapan bahwa gangguan jiwa itu menakutkan, kelam, dan superstressful! That’s why, karya saya selalu penuh narasi dan warna sehingga jauh dari kesan depresif. Bahwa pemilik kesehatan jiwa juga harus punya hidup dan masa depan yang ceria, optimis, dan positif."

    "Sebab setelah semua yang pernah saya alami, saya sekarang betul-betul trying my best apalagi saat telah bisa berdamai dengan diri sendiri dan menjadi bagian dari beberapa pergerakan isu disabilitas dan kesehatan jiwa di Indonesia. Meski belum terbilang sembuh, tapi apa yang saya rasakan sekarang sangat jauh berbeda.” Tutup perempuan yang juga sukses menggelar pameran dan diskusi film ‘Pasung’ buatannya sampai ke Jepang, Korea, Amerika, dan Australia ini."


    Awarding Night 'Women of the Year 2019' herworld Indonesia berlangsung Selasa, 22 Oktober 2019, pukul 18:30 WIB di Hotel Sultan Jakarta.

    (Teks: Rengganis Parahita. Foto: Hadi Cahyono. Pengarah Gaya Yolanda Deayu. Tata rias wajah dan rambut PAC by Martha Tilaar. Busana Wilsen Willim)



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below