Review Film: 'Alpha'


  • Review Film: 'Alpha'
    Alpha memberikan suguhan pengalaman sinematik mengesankan lewat kisah petualangan seorang anak dan seekor serigala. (Foto: Dok/SonyPictures)


    Film 'Alpha' adalah kisah petualangan mengesankan seorang anak laki-laki dan 'anjingnya' yang kali ini adalah seekor serigala, berlatar 20 ribu tahun lalu di tanah Eropa. 

    Menyuguhkan gambar-gambar menakjubkan yang memanjakan mata, dari mulai lanskap indah panorama Eropa yang masih hijau, langit biru yang kemudian dihiasi bintang kala malam hari, dan bahkan hutan belantara yang berkilauan diterpa sinar matahari. 



    Kodi Smit-McPhee sebagai pemeran utama Keda menghidupkan kisah petualangan ini dengan sangat baik. Persahabatannya dengan serigala yang ia beri nama 'Alpha' menyentuh hati dan sekaligus membuat film ini sayang untuk dilewatkan begitu saja. 

    (Baca juga: Review Film: Crazy Rich Asians) 

    Alpha dibuka dengan adegan Keda muda (Kodi Smit-McPhee, yang pernah bermain di X-Men Apocalypse, Let Me In) sedang ikut perburuan bersama sukunya. Ini merupakan perburuan pertamanya, dan Keda mengalami insiden yang membuat ia terlempar ke bawah tebing dan terpisah dari kelompok. 

    Tau (Johannes Haukur Johannesson), ayahnya yang juga kepala suku tak kuasa untuk menerima kenyataan dan merelakan Keda. Namun, tanpa ia ketahui, Keda belumlah tewas akibat diserang banteng dari perburuan itu. Ia selamat tapi tersesat. 


    (Foto: Dok/SonyPictures) 

    Saat adegan Keda jatuh, film kembali flashback ke seminggu sebelumnya, ketika Keda lulus dalam ujian dan masuk dalam kelompok perburuan. Tau mengajarinya banyak hal untuk bertahan hidup, dan bagaimana menjadi seorang 'Alpha', pemimpin yang kuat. 

    "Menjadi Alpha butuh keberanian dan keteguhan hati, yang tidak diberikan, tapi dilahirkan," tuturnya. 

    Dan kini, Keda tersesat. Ia mesti bertahan hidup di antara hutan belantara yang siapa yang kuat yang akan bertahan. Ia mesti menemukan jalan pulang. Dan dalam perjalanan itu ia bertemu sekoelompk serigala yang siap memangsa. Ia lolos dengan melukai seekor serigala yang kemudian lepas dari kerumuanannya. 

    Keda yang tak tega membunuh, merawat serigala terluka yang kemudian ia beri nama 'Alpha'. Keduanya menjalin persahabatan dan melalui banyak rintangan aneh, berbahaya, dan badai salju musim dingin. Perjalanan 'Keda dan Alpha' seperti layaknya kisah dongeng Disney yang membuat siapapun, teurtama penyayang binatang, akan melepas 'oooh' dan 'aaah,' secara bersamaan di sepanjang film. 

    (Baca juga: Review Film: Mile 22) 

    Disutradarai Albert Hughes, dan naskah yang ditulis Daniele Sebastian Eiwdenhaupt, Alpha menjadi kisah yang menyenangkan untuk ditonton. Penceritaan dan alur yang disusun tak hanya menarik di permukaan tapi juga mengusung pesan yang dalam. 

    Sinematografer Martin Gschlacht dan editor Sandra Granovsky berperan sangat baik dengan suguhan gambar atau visual yang memanjakan mata, serta runut cerita yang tepat. Hampir tak ada cela dalam penggarapannya. 


    (Foto:Youtube/SonyPictures)

    Pada saat Keda jatuh ke bawah tebing, penonton bsa jadi berpikir itu klimaks dari penceritaan, tapi menariknya itu adalah awal dari kisah petualangan. Twist seperti ini terjadi beberapa kali dan membuat film menjadi menyenangkan untuk dinikmati. 

    Kodi Smit-McPhee yang berperan sebagai sosok sentral dan vital memainkannya dengan sangat asik. Ekspresi dan bahasa tubuh serta gaya persahabatannya dengan serigala Alpha tampak natural dan tanpa beban. Aktor asal Australia yang masih berusia 22 tahun ini menampilkan perkembangan karakter yang bertransformasi dengan baik, dari mulai sebelum perburuan, saat perjalanan dan setelah petualangan berakhir. 

    Kredit lebih juga patut diberikan pada bahasa pengantar unik yang digunakan sepanjang film. Diyakini pada masa akhir era Ice Age, bahasa Inggris belum dtemukan. Di satu momen, ada kejutan ketika Keda memanggil ayahnya yang terasa seperti bahasa Indonesia. 

    Dengan bahasa pengantar film yang tidak berbahasa Inggris, teks tejermahan tersedia dalam bahasa Inggris dan Indonesia. dan ini menjadikan film dengan latar 20 ribu tahun lalu ini terasa nyata dan makin menarik. 

    Film 'Alpha' dapat dikatakan sebagai sebuah film petualangan 'boy and his dog' atau kali ini 'boy and his wolf' yang menyenangkan. Selain pengalaman sinematiknya yang mungkin lebih baik dinikmati via IMAX, kisahnya menyentuh dan menghangatkan hati.





 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below