Review Film: 'Crazy Rich Asians'


  • Review Film: 'Crazy Rich Asians'
    Crazy Rich Asians adalah salah satu komedi romantis terbaik dalam satu dekade terakhir yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. (Foto: Dok/imdb)


    Dengan kekuatan hampir di semua elemennya, film 'Crazy Rich Asians' adalah salah satu komedi romantis terbaik dalam satu dekade terakhir yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.

    Diangkat dari novel laris berjudul sama karya Kevin Kwan (2013), ceritanya kuat dengan didukung para aktor yang bermain apik, musik pengiring asik, kostum yang memanjakan mata, serta penyutradaraan yang matang. 



    Penyesuaian dialog di beberapa adegan untuk muatan kekiniannya mengundang penasaran dan juga sekaligus perdebatan. Di luar itu, film ini akan membuat mata berkaca-kaca, sekaligus penuh tawa dalam waktu yang sama. 

    (Baca juga: Review Film: The Nun)

    Crazy Rich Asians mengisahkan tentang dua profesor muda New York University, Nick Young (Henry Golding) dan Rachel Chu (Constance Wu) yang setelah setahun berhubungan akan melakukan perjalanan ke Singapura.

    Nick diminta menjadi pendamping pria untuk sahabatnya Colin Khoo yang akan menikah. Bagi Rachel, kunjungan ke Singapura bisa jadi juga kesempatannya untuk melihat kampung halaman Nick, sekaligus bertemu dengan keluarganya. Namun, semua tak semudah yang dibayangkan, karena tanpa ia ketahui Nick adalah putra dari orang super kaya atau miliarder Singapura. 

    Menjadi pasangan dari eligible bachelor paling diincar banyak wanita, membuat posisi Rachel tak mengenakkan. Ia mesti menghadapi pandangan mata tajam dari fans garis keras Nick, dan yang paling sulit adalah meluluhkan hati ibu Nick yang keras, Eleanor Young (Michelle Yeoh). 


    (Salah satu adegan Crazy Rich Asians. Foto: Dok/imdb)


    Ternyata bukan cinta saja yang membuat gila, menghadapi keluarga Nick adalah hal paling gila yang mesti dihadapi Rachel. Dari mulai sepupu Nick yang suka main wanita, sepupu lainnya yang bermulut tajam menyakitkan, atau yang di luar tampak sempurna tapi rapuh. Semua berkarater kuat. 

    Di antara naik-turun drama yang ia hadapi, Rachel punya sahabat baik Peik Lin (Awkwafina) yang membantunya dalam melalui semuanya. Termasuk melakukan make-over saat ia mesti menghadapi pesta bunga mekar yang diset ala Met Gala hingga pesta pernikahan yang menjadi sorot media dan banyak orang. 

    Pada akhirnya, semua berujung pada satu pertanyaan besar: apakah kita akan memilih cinta atau keluarga, atau bisa keduanya?

    (Baca juga: 7 Film Terbaru yang Tayang di Bioskop Oktober 2018) 

    Cerita cinta 

    Ditulis Peter Chiarelli dan Adele Lim, naskah Crazy Rich Asians dapat dikatakan sangat kaya dan matang. Semua mengalir dengan baik. Bahkan karakter kecil yang mungkin 'hanya sekadar numpang lewat' pun tampak menjadi pendukung yang kuat. 


    (Salah satu adegan Crazy Rich Asians. Foto: Dok/imdb)


    Di dalamnya, naskah ini mengusung dialog-dialog cerdas yang mengena dan mengundang tawa. Tak hanya sekali, tapi bertaburan di hampir setiap adegan. Seperti ketika Rachel mendarat di bandara Changi Airport dan mengatakan: "Saya tak percaya airport ini punya taman kupu-kupu dan movie theatre. Bandara JFK, hanya ada salmonella dan putus asa." Atau saat Peik Lin Goh mengatakan: "Bahkan, putra China anggap bau kentut ibunya, Chanel No.5." Itu hanya dua dari beberapa dialog kuat yang mengundang tawa, dan menempel di ingatan. 

    Pengembangan karakter, dari awal hingga akhir film dapat dikatakan tertata dengan baik, sehingga masuk akal dan mengundang simpatik. 

    Dari jajaran aktor, Constance Wu bermain dengan baik saat memerankan Rachel Chu. Aksinya yang jatuh bangun melalui berbagai drama tampak natural dan meyakinkan. Begitu juga Michelle Yeoh, Henry Golding, Gemma Chan (sebagai Astrid), dan yang paling mencuri perhatian Awkwafina sebagai Peik Lin. 

    Di luar dua elemen itu, film ini juga memanjakan mata lewat tebaran busana yang membuat dunia mode takjub. Seperti gaun emas untuk pesta bachelorette yang dikenakan Araminta dan gaun pernikahannya yang didesain Mary Vogt. Atau gaun 'Disko Cleopatra' yang dipakai Rachel yang merupakan koleksi Missoni, dan gaun birunya yang menuai pujian rancangan Marchesa. 


    (Salah satu adegan Crazy Rich Asians. Foto: Dok/imdb)

    Bagian pertama

    Dengan pengalaman pernah membuat Step Up 2, dan 3, sekuel G.I Joe: Retaliation dan Now You See Me 2, Sutradara Jon M.Chu, seolah menggabungkan semua pengalamannya itu ke dalam film Crazy Rich Asians. Ada banyak grafis dan pengadeganan dinamis yang membuat cerita mengalir dengan asik. 

    Yang unik adalah ketika ia menyelipkan satu atau dua adegan kejutan di setiap filmnya. Kali ini misalnya lewat adegan pesta bujang di atas kapal, pesta keluarga seperti keluarga kerajaan, hingga dekorasi pesta pernikahan yang seperti rawa di mana kemudian pengantin mesti memasuki aula dengan mengangkat gaun pengantinnya. 

    Chu seolah sangat memperhatikan setiap detail yang membuat film ini hadir tanpa cela. Dan kalaupun ada, tertutupi dengan garapannya yang matang. 


    (Salah satu adegan Crazy Rich Asians. Foto: Dok/imdb)


    Dalam catatan produksinya, film Crazy Rich Asians merupakan bagian pertama dari trilogi novel Kevin Kwan, yang diikuti bagian kedua berjudul "China Rich Girlfriend" dan ketiga "Rich People Problems." Kabar pembuatan sekuel Crazy Rich Asians 2 telah diumumkan dan akan diproduksi. 

    Dengan karakter yang loveable, cerita yang menarik, dan penggarapan yang baik, film Crazy Rich Asians memberikan suguhan terbaik dari genre komedi romantis. Ada masa di mana penonton akan merasakan perasaan hangat karena sisi romantisnya, dan tertawa lepas berkat humor yang diselipkan. Oleh karenanya, tak heran jika film ini masuk dalam daftar a-must-see tahun ini. 




 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below