Erangan Saat Bercinta Ternyata Punya Makna Tak Terduga


  • Erangan Saat Bercinta Ternyata Punya Makna Tak Terduga
    Menimbulkan erangan saat bercinta ternyata punya makna tak terduga. Apa saja? (Foto: rawpixel by Pexels.com)


    Dalam film-film panas selalu digambarkan bagaimana kaum perempuan mengeluarkan suara erangan saat berhubungan intim. Atau ketika Meg Ryan pura-pura orgasme di film When Harry Met Sally. Anda jadi berpikir, ternyata ada orang yang suka berisik saat berhubungan seks. Namun, Anda juga jadi tahu bahwa tidak semua erangan saat berhubungan intim itu asli.

    Memangnya, apa sih yang terjadi sehingga kita mengerang saat bercinta?

    Seberapa penting erangan itu agar sesi bercinta menjadi "panas", dan apa makna setiap erangan yang terdengar –kalau itu memang ada?

    (Baca juga: 7 Permainan untuk Seks Menyenangkan Bersama Pasangan)

    Suara desahan saat berhubungan seks pada dasarnya merupakan respons fisiologis tubuh untuk mengerahkan tenaga. Anda akan melepaskan suara-suara ketika butuh lebih banyak oksigen, lalu memberi sinyal pada tubuh untuk mengirimnya melalui otot-otot laringeal yang fungsinya antara lain mengontrol ekspresi emosi saat bernapas, tertawa, atau menangis.

    Jadi dengusan atau desahan napas merupakan pertanda bahwa tubuh sedang bekerja keras. Lalu bagaimana dengan suara erangan?

    James Higham, profesor anthropologi di  New York University, menjelaskan bahwa manusia sering menyingkat kata-kata yang ingin mereka sampaikan. Salah satu alasan mengapa kita berusaha mengerang saat bercinta adalah karena hal itu berlangsung cepat.

    “Dengan mengerang kita tidak perlu bilang, ‘Oh ya, itu yang saya suka, di situ, sebentar, tunggu, agak ke atas’,” ujar Higham memberi gambaran. “ Kita bisa diam saja sampai pasangan menyentuh titik sensitif kita lalu hanya mengucap, ‘Mmmm…’, dan pasangan akan tahu begitu saja.”

    (Baca juga: 26 Fakta Seks yang Wajib Diketahui)

    Jadi, perempuan tidak perlu menjelaskan dengan kata-kata bahwa pasangannya telah menyentuh titik sensitifnya. Cukup dengan mengerang saat hal itu terjadi, maka pasangan akan tahu bahwa ia sudah melakukan hal yang benar.

    Mengerang juga bukan hanya untuk mengatakan pada pasangan bahwa Anda merasa nyaman atau puas, tetapi juga menunjukkan bahwa pasangan sudah "melakukan tugasnya" dengan baik.

    Suara-suara saat berhubungan seks yang awalnya sebagai pelepasan napas, lama-kelamaan menjadi suatu bentuk komunikasi, begitu menurut ahli neuroscience Barry Komisaruk.

    "Suara itu mewakili intensitas kesenangan. Kalau pasangan excited mendengarkan jeritan selama bercinta, maka itu bisa menjadi suatu komunikasi yang bermanfaat untuk mengikat pasangan dan mendorong mereka untuk melakukannya lagi," kata penulis buku The Science of the Orgasm ini.

    Alasan komunikasi inilah yang kemudian menyebabkan banyak perempuan lalu memalsukan suara saat orgasme, atau memalsukan orgasme itu sendiri. Dan jangan kaget, selalu ada alasan di balik perilaku perempuan. Begitu pula dengan erangan palsu ini.

    (Baca juga: Manfaat Air Lemon bagi Kualitas Seks)

    Ada dua alasan perempuan pura-pura mengerang saat bercinta menurut Gayle Brewer,  profesor psikologi di University of Central Lancashire. Pertama, karena mereka ingin hubungan intim itu segera berakhir. Kedua, karena mereka ingin kepercayaan diri pasangan meningkat (bahwa pasangan telah membuat mereka puas). Nah, pria-pria yang menerima dorongan ini cenderung ingin berhubungan intim lagi.

    Untuk Anda yang memang aslinya suka berisik di ranjang, tak perlu mengubah kebiasaan tersebut. Sebab, mengurangi lenguhan atau erangan bisa mengganggu performa dan tentunya pengalaman Anda. Ingat bagaimana Serena Williams suka melenguh saat memukul bola tenisnya, kan? Itu karena dengan lenguhan itu ia mampu meningkatkan energinya hingga sekian persen. "Hubungan seks itu butuh energi, dan suara bisa membawa energi tersebut."

    Jadi, itulah alasan mengapa perempuan mengerang saat bercinta. Sebaliknya kalau Anda sama sekali tidak pernah bersuara saat bercinta, tandanya Anda tidak cukup bernapas saat itu.

    (Editor: Rahman Indra)