5 Film Karya Milisifilem Tayang Perdana di Arkipel


  • 5 Film Karya Milisifilem Tayang Perdana di Arkipel
    Lima film hitam putih karya kelompok belajar Milisifiem tayang perdana di Arkipel 2018. (Foto: Dok/Arkipel.org)


    Lima film karya kelompok belajar produksi film, Milisifilem tayang perdana di gelaran ARKIPEL homoludens - 6th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2018. 

    Kelompok belajar produksi film melalui praktek eksperimentasi visual yang diinisiasi Forum Lenteng tersebut menayangkan 'Into the Dark', 'Cut', 'Karib', 'Aksi Reaksi', dan 'Pagi yang Sungsang'.



    Didukung Pusat Pengembangan Film, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, malam penayangan kelima film hitam putih itu berlangsung di GoetheHaus, Goethe-Institut Jakarta pada Sabtu (11/8). 

    (Baca juga: Merayakan Film Festival dengan Bintang Ikonis)

    Proyek film yang ditayangkan merupakan salah satu tugas dalam kelas Milisifilem. Para anggota sebelumnya ditugaskan untuk membuat film pendek hitam putih dengan durasi minimal lima menit. Setiap kelompok terdiri dari tiga orang dengan film yang telah dimulai produksinya sejak Maret lalu.

    Kelima kelompok kemudian merumuskan premis dan ide filmnya secara kolaboratif hingga proses syuting dan editing yang mengikuti sesudahnya, sementara fasilitator Milisifilem hanya bertindak sebagai konsultan. Hasilnya adalah lima film hitam-putih yang beragam dalam bentuk maupun durasi.

    Meskipun pada akhirnya, bukan hanya hasil berupa produk visual yang diharapkan dari aktivisme platform ini, namun juga kesadaran kontekstual yang tinggi dalam menghadapi perubahan zaman. 

    (Baca juga: Jeremy Scott Rilis Film Dokumenter)

    Berikut lima film dari Milisifiem yang tayang tersebut:

    1. Into the Dark

    (Dhuha Ramadhani, Luthfan Nur Rochman, Maria Christina Silalahi)

    Film ini mencoba masuk ke dalam pengalaman menegangkan yang dirasakan korban penculikan. Dari sebuah pematang sawah seorang petani muda dijemput paksa. Suasana gelap di dalam mobil box yang melakukan perjalanan panjang sesekali memberi secercah harapan lewat beberapa kemungkinan melarikan diri saat mobil berhenti. Seorang penjaga di dekat pintu tidak melepaskan pandangannya dari si korban. Mobil berjalan menuju kegelapan. Keduanya terlibat dalam upaya mempertahankan lahan sawah sejumlah warga.

    2. CUT

    (Dhanurendra Pandji, Robby Ocktavian, Theresia Farah Umaratih)

    Di ruang terpisah, seorang mahasiswa filem menggunakan potongan-potongan seluloid yang disusun ulang sebagai medium untuk berinteraksi dengan kekasihnya. 



    3. Karib

    (Afrian Purnama, Anggraeni Widhiasih, Yuki Aditya)

    Sebuah potret persahabatan tiga orang perempuan muda urban yang harus mengalami sebuah momen kehilangan ketika salah seorang di antaranya menemui ajal. Bagaimana kedua yang tersisa harus menghadapi persahabatan mereka yang sekarang, sejarah mereka, dan rasa duka untuk mengantisipasi yang akan datang selagi tetap menjalani kehidupan di hiruk pikuk perkotaan.

    4. Aksi Reaksi

    (Dini Adanurani, Mia Aulia, Wahyu Budiman Dasta)

    Merespons aktivisme Warkop DKI pada masanya, film ini merekonstruksi imej-imej dari beberapa film tersebut menjadi sebuah karya baru dalam bentuk kolase bergerak. Visual turut dipermainkan dan dieksperimentasikan dalam usaha menciptakan dan menggabungkan ruang-ruang baru menggunakan berbagai medium. Melalui film ini, para kreator berusaha menganalogikan munculnya sebuah perubahan, dampaknya kepada lingkungannya, dan bagaimana masyarakat luas bereaksi terhadap perubahan tersebut.

    5. Pagi yang Sungsang

    (Manshur Zikri, Pingkan Persitya Polla, Prashasti Wilujeng Putri)

    Tubuhnya yang kekar terbuat dari besi-besi yang berat. Tak ada yang berani mengganggu ketenangan tidurnya selain bunyi peluit petugas keamanan. Suara peluit semakin kencang, memaksanya untuk bangun dari tidur yang panjang. Ia meregangkan otot, menunggu saat yang tepat untuk beraksi. Ketika desiran sapu-sapu lidi yang menggores tanah terdengar semakin berisik, itulah tanda bahwa sampah-sampah untuknya telah disiapkan. Ia harus menuntaskan tugasnya segera: bergerak perlahan lalu merayap sekencang-kencangnya di antara gang-gang yang sempit, membelah kerumunan manusia-manusia. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below