Nikmat Makan dengan Nuansa Patriotik di Kedai Havelaar


  • Nikmat Makan dengan Nuansa Patriotik di Kedai Havelaar
    Nikmat Makan dengan Nuansa Patriotik di Kedai Havelaar. (Foto: Qalbi)

    Jika kita menyimak bisnis kuliner saat ini, berbisnis kuliner bukan lagi hanya mengandalkan rasa saja, tapi juga melibatkan kreativitas di dalamnya. Hal itu agar bisa merebut perhatian dan memberi pengalaman makan tak terlupakan bagi pelanggan.

    Salah satu tempat makan yang menjalankan konsep tersebut ialah Kedai Havelaar. Asal kata Havelaar sendiri -- yang mungkin kamu sudah tahu, terinspirasi dari judul novel, yakni Max Havelaar karya Multatuli.



    Novel yang rilis di era kolonial ini jadi bahan menyerang pemerintah kolonial Belanda. Di mana puncaknya muncul program politik etis, kebijakan balas budi meningkatakan taraf hidup masyarakat pribumi karena sudah bekerja keras demi kemakmuran Belanda.

    Dan dari program itulah lahir kelompok baru Hindia Belanda yang kemudian menggerakkan kesadaran nasionalisme Indonesia, seperti Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Soekarno, Sutan Syahrir dan lain-lainnya. Singkat kata, kedai ingin mengusung konsep sejarah dan mengemas suasana berlatar kebangsaan

    Dan ambience itu bakal kamu rasakan begitu memasuki kedai ini. Kamu akan disambut banyak sekali foto-foto pejuang nasional tertempel di dinding di sebelah kiri-kanan kedai.



    Dan jangan bayangkan kondisinya bakal kamu memasuk museum perjuangan. Dengan tata cahaya yang terang dan pemakaian warna meja-bangku yang cerah, justru jauh dari kesan menjemukan.

    Duduk di bangkunya, pengunjung akan melihat taplak meja yang dikemas seperti selembar koran di era kolonoal yang terdapat artikel-artikel jaman dulu, yang mungkin jadi bacaan untuk menunggu pesanan datang. Pengunjung bisa membaca mengenai pergerakan perusahaan VOC dan pergerakan pahlawan-pahlawan kita dalam merebut kemenangan. Lalu, tak lupa ada menu makanan Kedai Havelaar di sana.

    Yusephine DS, pemilik Kedai Havelaar, rupanya sengaja membuat konsep ini agar konsumen tidak hanya sekedar datang, dan pulang setelah kenyang. Tapi juga bisa menambah value dalam dirinya dengan lebih mengenal sejarah Indonesia, khususnya para anak muda.

    Sebab, di era digital ini, banyak anak-anak muda banyak fokus pada ponsel pintar dan mengeksplore aplikasi di dalamnya. Sampai-sampai kurang mengetahui atau mengeksplore cerita dibalik usaha pahlawan merebut kemerdekaan. Sejarah berdirinya Indonesia. Efeknya, rasa nasionalisme mulai luntur.



    "Nah, semoga saja dengan konsep tempat makan yang kami usung, membuat rasa nasionalisme bisa tumbuh. Mereka bisa mengetahui lewat artikel dari alas makan mereka," katanya di Kedai Havelaar, beberapa waktu lalu.

    "Bahkan, untuk mendapatkan suasana kebangsaan, lagu-lagu bertema nasionalisme kami putar. Sebutlah, lagu Bendera-nya Cokelat," tambahnya.

    Soal rasa makanan, Yusephine memilih menu sate sebagai menu andalannya dalam ‘pertarungan’ dengan tempat makan lain. Ia merasa sate di kedainya berbeda dan bercitasa rasa enak, yang mungkin tidak ada di warung sate biasa.

    Saat kami mencoba mencicipi sendiri, terasa dagingnya sangat empuk, termasuk daging kambing yang terkenal keras dan alot. Mudah sekali daging terkunyah dan hancur di mulut. Belum lagi aneka bumbu-bumbu yang di dalamnya. Alhasil, satu porsi bagi kami tidak cukup.

    "Kami memakai daging yang sangat fresh. Kami membelinya di pagi hari tempat pemotongan sapi, kemudian langsung kami bumbui dengan cara khusus. Alhasil, dagingnya bisa terasa empuk," urai Yusephine beralasan.

    Menu lainnya? Ya seperti tempat makanan lainnya, kedai ini menawarkan menu beragam antara lain nasi goreng, soto ayam, sayur lodeh dan tongseng.

    Kebetulan, kami tertarik mencicipi tongsengnya. Dan... rasanya enak! Kuah dan dagingnya menyatu dengan bumbu. Sungguh memanjakan lidah. Rekomendasi bila kamu makan tongseng di tempat ini: tambahkan sambal agar kuah kian terasa di lidah.




    “Kedai Havelaar menghadirkan menu tradisional, bukan tanpa alasan. Sekali lagi kami mengambil filosofi dalam novel Max Havelaar. Di sini, Multatuli sungguh sangat menghargai karya masyarakat pribumi. Kami pun menjual produk-produk makanan tradisional Jawa,” urai Yusephine.

    “Maka dari itu, menu-menu makanan yang kami sajikan adalah menu-menu makanan yang sangat disukai oleh para pejuang kemerdekaan dan masyarakat pada umumnya. Contohnya, Bung Karno sangat menyukai sayur lodeh, tempe goreng, rawon dan sate. Bung Hatta menyukai sayur buncis dan sate. Sudirman sangat menyukai minum teh, Syutan Syahrir suka makan sate kambing dan Sri Sultan HB IX santa menyukai juga sate kambing,” ujar dia.

    Tak hanya itu, di restoran ini juga terdapat menu makan kekinian, seperti sate taichan dan es kepal yang sedang digandrungi masyarakat. Jadi, jangan takut hanya disajikan makanan "tradisional" saja, Kedai Havelaar juga punya menu kekinian.

    "Dengan apa yang berkembang di luar, dan kami sudah punya menu andalan, bukan berarti kami 'alergi' makanan kekinian. Yang kami lakukan ini justru menjadikan menu tambahan di kedai ini, agar banyak orang yang lebih suka makan di sini. Apakah itu orang tua atau anak muda sekali pun," katanya

    Soal harga, bisa dibilang kedai ini termasuk terjangkau. Harga makanan di sini dimulai dari Rp5.000 untuk mendoan atau bakwan, sementara untuk sate Kedai membandrol harga Rp40.000,-, sudah termasuk nasi, kerupuk dan teh untuk minum.

    Bila kamu tertarik mencicipi makanan disini, kamu bisa mendatangi kedainya yang berada di Jakarta Utara. Tepatnya, di jalan Boulevard Raya blok QJ 3/24, Kelapa Gading. Gimana ladies, tertarik mencobanya?



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below