Bermain, Cara Terbaik Menstimulasi Anak


  • Bermain, Cara Terbaik Menstimulasi Anak
    Bermain, Cara Terbaik Stimulasi Anak, (Foto: Frepepik)


    Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli dapat jadi momen bagi orangtua dalam memberikan perhatian lebih dan spesial pada anak. Salah satu contohnya adalah dengan memberikan waktu buat mereka bermain, karena bagaimanapun bermain adalah cara terbaik menstimulasi anak agar tumbuh-kembangnya optimal.

    Ini tak lain karena proses belajar seorang anak itu justru dapat terjadi saat ia bermain, apalagi bagi anak yang dalam masa emas tumbuhkembang, seperti usia 0-6 tahun. Karena, lewat bermain, anak-anak tidak hanya mengolah tubuhnya agar terbiasa bergerak tapi juga berinteraksi dengan orang lain.



    Ungkapan itu disampaikan Nadya Prameswari, psikolog keluarga dan co-founder Rumah Dandelion, di Jakarta beberapa waktu lalu. Ia mengungkapkan dari proses bermain, kemampuan bersosialisasi anak bisa terlatih.

    (Baca juga: Di Hotel Ini, Anak-anak Bisa Main Sepuasnya)

    Dalam bermain, kata dia, anak-anak akan menyerap bagaimana seseorang berkomunikasi dan menerapkannya. Mereka akan menemukan kepercayaan diri yang penting agar saat dilepas saat sekolah tidak menangis. Itu bisa terjadi karena sebelum masa sekolah sudah telah terjadi pengasahan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. 

    Namun, bermain pun ada kriterianya, bukan sekedar bermain saja. Apa saja itu? Berikut penjelasan lengkapnya seperti yang dijelaskan Nadya.

    1. Lingkungan aman dan dalam pengawasan.

    Ini menjadi penting agar permainan yang mereka lakukan tidak menciderai mereka sendiri. Dan untuk itu, pengawasan dan pengarahan orang tua sangat diperlukan. Misal, apakah alat yang digunakan aman saat digunakan, dan tak membahayakan.

    2. Menyenangkan dan bebas tekanan.

    “Kita harus paham bahwa ketika orang tua mengajak anak bermain, anak yang memilih permainannya. Sebab, kadang-kadang saat memilih permainan itu hasrat dari orang tuanya. Jadi, orang tua yang excited, bukan anaknya,” ungkap Nadya.

    3. Berpusat pada anak

    “Permainan itu bisa mengasah motorik kasar dan motorik halus. Mau motorik kasar apa motorik halus, itu balik lagi ke anak. Kita yang mengikuti anak. Kalau dia senang bermain lari-larian, iyaudah kita sebagai orang tua main ke motorik kasar. Mengikuti dia berlari-larian. Jangan ajak dulu yang main mengasah otak seperti yang banyak disediakan gadget,” terangnya.

    (Baca juga: Isi Waktu Libur dengan Nonton Hi-5, Yuk)

    4. Sesuai kemampuan berpikir mereka

    Pasalnya, kalau anak-anak diberi mainan yang sulit atau tidak sesuai kemampuan atau tahapan perkembangan, bisa membuat mereka frustasi. Akibatnya, mereka enggan untuk bermain lagi, padahal proses belajar anak itu dari bermain. Oleh karenanya, saat memberikan anak mainan atau mengajak anak bermain, pastikan ia bisa mudah memahaminya.

    5. Seimbang

    Pastikan anak bermain di luar ruangan dan dalam ruangan itu seimbang. Penelitian menunjukan bahwa anak di bawah 5 tahun durasi anak bermain di luar ruangan itu dua jam. Selain itu, usahakan beri kebebasan saat anak bermain. Sebab, banyak orang tua mendikte anak saat bermain karena takut bosan. Padahal, kalau anak diberi kebebesan, dia bakal mengeksplorasi lebih jauh. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below