Indonesia Taklukan Shell Eco-marathon Asia 2018


  • Indonesia Taklukan Shell Eco-marathon Asia 2018
    Kemenangan mahasiswa Indonesia di Shell Eco-marathon 2018, (Foto:istimewa)

    BELASAN orang menunggu dengan wajah harap-harap cemas di pinggir sirkuit Changi Exhibition Centre-Singapura, untuk melihat hasil balap mobil di Shell Eco-marathon 2018.




    Mereka menyaksikan Shell Eco-marathon kategori pengemudi tercepat dan hemat energi dari Shell, produsen minyak yang mengajak mahasiswa di Asia membuat mobil hemat energi.


    Semar Urban, satu dari 122 tim yang mengikuti kompetisi mobil ini ternyata menjadi yang pertama kali menyentuh garis finish. Sontak membuat belasan orang yang dari tadi menunggu dipinggir sirkuit berjingkrakan – seketika teriak pecah dari mulut mereka.


    Tak lama kemudian menyusul mobil Team 2 di posisi kedua, dan tim Garuda meraih posisi ketiga. Support tim yang sedari tadi berada di pinggir sirkuit beringsut mendekati temannya, guna meluapkan kegembiraan dan memberi selamat kepada pengendara mobilnya. Riuh gemuruh pun tersaji di sana.


    (Euforia tim saat memenangkan lomba Shell Eco-marathon 2018) 

    Darwin Silalahi, country chairman dan presiden direktur PT Shell Indonesia, mengaku tak menyangka bahwa Semar Urban dari Universitas Gajah Mada (UGM) bakal jadi pemenang Shell Eco-marathon. Sebab dari 122 tim dan 20 perguruan tinggi dari Indonesia yang mengikuti kompetisi Shell Eco-marathon 2018, ini comeback Semar Urban setelah empat tahun vakum tak mengikuti Shell Eco-marathon.


    Kegigihan Semar Urban

    Dan sudah tentu, empat tahun vakum bertanding dengan tim yang sudah rutin berkompetisi, balapan yang terjadi sangat seru. Ya, kalau kamu menonton langsung, terjadi persaingan sengit di sana.


    Hal itu bisa terlihat dari tahapan demi tahapan yang dilalui Semar Urban dengan lancar. Misalnya, dalam internal Combustion Engine. Semar Urban berhasil melalui tahapan ini dengan mulus.


    Tahap pertama yaitu scrutineering, berhasil dilalui Tim Semar UGM tanpa ada masalah. Setelah lolos scrutineering, mereka melanjutkan tahap practice dan race – tahap yang menegangkan buat mereka.


    “Semar Urban mendapat lima kali kesempatan race sepanjang kompetisi. Dan Semar Urban menorehkan angka terbaik yang cukup gemilang, yaitu 186 km/liter. Angka ini membawa Semar menduduki peringkat 7,” terang Muhammad Fachmi, Ketua Tim Semar Urban.


    Tetapi, tim Semar Urban lain yang mengendarai mobil Semar Urban 3.0 berhasil mencapai garis finish pertama. Tito Setyadi Wiguna yang didapuk sebagai pengendara mobil tersebut mampu membawa mobil paling cepat dengan jumlah bahan bakar paling irit, yakni tersisa 0,9 persen.

     (Salah satu kendaraan yang mengikuti Shell Eco-marathon 2018)

    Kemudian, peringkat kedua ditempati oleh tim ITS Team 2 dengan pengemudi Muhammad Hafiz Habibi, dan peringkat ketiga berhasil diduduki Garuda UNY Eco Team oleh Fauzi Achmad Prapsita.


    Menanggapi kemenangan ini, Fachmi pun sangat senang. Sebab, berkat kemenangan ini tim Semar Urban jadi salah satu tim dari 14 tim dengan efisiensi tertinggi. Dan berhak mengikuti Drivers World Championship (DWC) Regional Asia.


    Kendala masalah teknis

    Dengan semangat tinggi, tim Semar Urban pun mengikuti DWC yang terdapat beberapa tahapan ujian yang harus dilalui. Untuk tahapan pertama, yakni dynamic brake test, tim Semar UGM bisa melaluinya dengan lancar.


    Masuk tahap kedua, hal serupa dirasakan Semar Urban. Di tahap yang menyaring peserta jadi 8 tim terbaik gabungan dari semua kelas ini, baik Internal Combustion Engine maupun Battery Electric, bisa dijalani Fachmi dan tim tanpa masalah.


    Selanjutnya, tersisa tahapan race untuk melihat tiga mobil tercepat. Semua tahapan berhasil dilalui oleh Tim Semar Urban meski ada masalah sedikit. Ya, di babak kualifikasi ini tim Semar Urban dapat nomor lima di posisi start untuk final race.


    Sayangnya, di tahapan terakhir yaitu final race, Semar Urban mengalami masalah teknis. Hingga menyebabkan mobil Semar Urban belum bisa menyelesaikan empat lap.


    “Meskipun begitu, tapi kami pulang dengan kepala tegak. Karena kami bisa mencapai tahap final race dari DWC setelah empat tahun vakum dari kompetisi ini. Dan ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan,” kata Fachmi


    Apalagi, Tim Semar Urban UGM punya potensi besar untuk kembali bersaing dan menjadi juara di Shell Eco-marathon (SEM) Asia 2018. Karena tahun 2018 ini Tim Semar Urban sudah menjadi 8 besar tim terbaik yang bisa mengikuti final race DWC Regional Asia. Itu menambah spirit mereka untuk memberikan yang terbaik lagi.



     (tiga kendaraan tim mahasiswa Indonesia di Shell Eco-marathon 2018)

    Tak mau kalah, tim Sapuangin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ingin juga punya juara di SEM Asia 2018. Benar saja, dalam ketegori dalam kategori urban concepts – Internal Combustion Engine (ICE) Sapu angin bisa melibas semua lawannya. Mereka berhasil menduduki podium pertama dengan menghadirkan satu mobil di kelas urban gasoline.


    Selain itu, Tim Sapuangin juga meraih juara dua untuk kompetisi balap final Drivers’ World Championship (DWC) Asia 2018. Kesuksesan tim Sapuangin tersebut mengantarkan mereka berlaga ke ajang Grand Final DWC International di London, 8 Juli 2018 mendatang. 


    Indonesia sabet penghargaan terbanyak

    Dan dari lomba yang digelar SEM Asia 2018, kabar baik dari semua itu ialah mahasiswa Indonesia berhasil menaklukan Shell Eco-marathon 2018. Karena dari 122 tim mahasiswa dari sejumlah negara di Asia yang mengikuti kompetisi ini, Indonesia menyabet penghargaan terbanyak, yakni lima dari tujuh penghargaan. Salut!


    (kemenangan tiga tim mahasiswa Indonesia dari tiga perguruan tinggi  negeri di Indonesia)


    Dan rincian kelima tim Indonesia peraih penghargaan dalam kategori urban concept ialah sebagai berikut:

    1. ITS Team 2 (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

    2. Semar Urban UGM Indonesia (Universitas Gadjah Mada)

    3. Garuda UNY Eco Team (Universitas Negeri Yogyakarta)

    4. Nogogeni ITS Team 1 (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

    5. Bumi Siliwangi Team 4 (Universitas Pendidikan Indonesia)


    Shell Eco-marathon 2018 sendiri tak hanya digelar di Asia saja. Tapi, ada juga di regional Amerika dan Eropa. Sebabnya, Shell ingin semua mahasiswa di belahan benua lain punya kesempatan membuat kendaraan dan mengujinya. Apakah berhasil mengembangkan energi baru yang sedang dibutuhkan sekarang.


    Shell Eco-marathon, usaha kembangkan energi baru

    Seperti yang kamu sudah ketahui, kini dunia sedang menghadapi masalah besar. Di mana permintaan energi saat ini semakin meningkat tapi persediaan energi kian menipis. Sehingga kondisi itu pun menuntut dunia menghasilkan lebih banyak energi bersih dengan mengurangi pengeluaran karbondioksida – agar kebutuhan energi generasi mendatang terpenuhi.


    Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Shell, permintaan akan energi global, air, dan pangan diperkirakan akan meningkat sebesar 40-50% pada 2030. Hal itu terjadi karena meningkatnya pertumbuhan dan kebutuhan penduduk. Entah itu karena urbanisasi, revolusi industri, atau standar hidup yang meningkat.


    Hal itu semakin memberi beban lebih besar bagi sisa sumber energi di dunia. Tersebab, kondisi sekarang membuat kita harus menghemat sumber daya energi (minyak, batubara dan gas alam). Tapi, peningkatan kebutuhan energi terjadi sangat signifikan.


    Karena faktanya, sekarang, energi masih jadi kebutuhan pokok. Di mana digunakan untuk memindahkan dan mengolah air, sementara air dibutuhkan untuk menghasilkan energi. Dan energi maupun air diperlukan dalam produksi makanan.


    Adapun sumber energi terbarukan (berbasis matahari dan angin) yang digadang-gadang bakal membantu menyuplai 30 persen dari energi global di tahun 2050, sekarang baru 13 persen. Jalan untuk sampai 30 persen masih sangat panjang.


    Oleh karenanya, dibutuhkan inovasi-inovasi agar bisa memperkecil pengeluaran karbondioksida dan menghasilkan energi bersih. Shell adalah satu perusahaan yang punya perhatian penuh terhadap kondisi sekarang ini.


    Shell akhirnya membuat Shell Eco-marathon, sebuah kompetisi tingkat dunia bagi para mahasiswa jurusan teknik, desain, ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menciptakan kendaraan paling hemat energi di dunia, “papar Darwin.

    (tiga perguruan tinggi negeri usai menjuarai SEM Asia 2018)


    Sejak tahun 1985, Shell konsisten melakukan pengembangan energi baru. Hal itu sudah terlihat dengan Shell menyediakan anggaran khusus untuk proyek inovasi, dan sampai saat ini sudah menghabiskan 100 miliar USD untuk proyek tersebut.


    Dalam SEM Asia 2018 yang diselenggarakan 8 sampai 11 maret 2018 ini, ada dua kategori yang diikuti para mahasiswa, yaitu urban concept dan prototype. Apa itu urban concept? Ini lomba yang berfokus pada kendaraan roda empat dengan penekanan penilaian dari sisi ekonomis-nya, kepraktisan desain, dan memenuhi kebutuhan pengguna transportasi saat ini.


    “Sementara prototype ialah kategori yang berfokus pada kendaraan futuristik dan beraerodinamika tinggi, yang diharapkan mengurangi hambatan dan memaksimalkan tingkat efisiensi,” kata Darwin.


    Dan dalam perhelatan di tahun 2018, ia mengaku puas atas pencapaian mahasiswa Indonesia dan berharap bisa mempertahankan prestasi di tahun selanjutnya.


    "Selamat kepada tiga tim Indonesia pemenang Shell Eco-marathon bertajuk #makethefuture dan #energimasadepan ini. Mereka berhasil menjadikan All Indonesian Team sebagai juara di DWC Asia. Kita semua sangat bangga dengan pencapaian luar biasa ini. Ini merupakan bukti nyata bahwa anak-anak muda Indonesia memiliki talenta dan kemampuan yang sangat kompetitif tak hanya di regional, tapi juga di tingkat global.


    Kami sangat senang bahwa komitmen kami, yaitu agar kehidupan generasi mendatang menjadi lebih baik disambut dengan karya yang sangat inovatif oleh para mahasiswa. Sebab itu mendatangkan kepuasan tersendiri bagi kami," pungkas Darwin.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below