Waspada, Mata Kering Lebih Rentan Dialami Wanita


  • Waspada, Mata Kering Lebih Rentan Dialami Wanita
    Foto: Qalbinur

    MATA kering atau dry eye sering dianggap enteng banyak orang. Ada yang matanya cepat lelah di depan komputer, atau saat menggunakan ponsel matanya cepet perih dan panas. Padahal kondisi itu mungkin sekali seseorang sudah mengalami mata kering tanpa ia mengetahuinya.


    Memahami kondisi tersebut, pionir rumah sakit mata di Indonesia, RS Mata JEC memberikan pemeriksaan mata secara cuma-cuma kepada 1.000 perempuan Indonesia. Prakarsa ini juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Hari Kartini yang telah menjadi rutinitas perusahaan setiap tahun.




    Apa itu mata kering? Ini ialah penyakit atau kelainan multifactorial pada lapisan air mata (tear film) yang menimbulkan gejala. Mulai dari mata merah, mata mudah lelah dan terasa pegal, gatal pada permukaan mata, rasa terbakar dan perih, mudah silau dan sensitif terhadap cahaya, sampai penglihatan tidak fokus.


    “Pada awalnya dry eye terkesan gangguan ringan yang membuat ketidaknyamanan saat beraktivitas sehari-hari. Para penderita merasa cukup bisa mengatasinya dengan obat tetes mata. Namun, lambat laun dry eye bisa menimbulkan ketergantungan pada obat tetes mata. 


    Bahkan sampai menurunkan kualitas hidup,” jelas Dr. Nina Asrini Noor, SpM, dokter spesialis mata RS Mata JEC, dalam acara yang bertema Media Briefing: Dry Eye Syndrome Bukan Gangguan Mata Kering Biasa, di RS, Jakarta Eye Center- Kedoya, Sabtu, 21 April 2019.


    Adapun perempuan di atas usia 50 tahun, terlebih pasca-menopause, semakin rawan ancaman mata sering. Sebab, kadar estrogen yang menurun dan tingkat androgen yang semakin rendah memengaruhi keseimbangan produksi air mata. 


    Sementara faktor eksternal, kata dokter Neni, mata kering terjadi akibat polusi, termasuk asap rokok, lingkungan kering seperti ruangan ber-AC, atau terlalu lama menatap televisi, monitor komputer dan layar ponsel pun turut berdampak. 


    Membicarakan mata kering, tak bisa lepas dari bahasan lapisan air mata atau tear film – yang terdiri atas tiga komponen utama: minyak (lipid), air (aqueous) dan lendir (mucin). Pada mata sehat, produksi tear film berlangsung terus menerus. 


    Di setiap kedipan mata, air mata terdistribusi merata yang berfungsi menjaga permukaan mata tetap terlubrikasi sekaligus melindunginya dari iritan, benda asing dan mikroorganisme. “Ketika sesorang terkena dry eye, komposisi air mata berubah dan fungsinya terganggu. Penglihatan pun bisa terpengaruh, sebab, air mata di permukaan mata berperan penting dalam memfokuskan cahaya,” lanjut Dr. Nina. 


    Ada tiga mekanisme yang menjadi penyebab timbulnya mata kering menurut dokter Nina. Lengkapnya ialah sebagai berikut: 

    1. Meibomian Gland Dysfunctional (MGD) – tersumbatnya kelenjar Meibom yang berperan menghasilkan minyak (lipid). 

    2. Evaporative Dry Eye (EDE) – peningkatan penguapan air mata akibat ketidakstabilan lapisan minyak(lipid).

    3. Aqueous Deficient Dry Eye (ADDE) - penurunan produksi komponen aqueous karena penyakit autoimmune seperti- Sjogren Syndrome, Lupus, dan Rheumatoid Arthritis.


    “Di antara ketiga mekanisme tersebut, MGD menjadi penyebab tersering dry eye. Persentase kejadian MGD pada orang Asia lebih besar dibandingkan populasi lainnya yakni 46-70%. Ini dipengaruhi suhu dan kelembaban lingkungan, juga kualitas udara wilayah Asia yang berbeda dengan kawasan lainnya,” urai Dr. Nina.


    Untuk mendeteksi mata kering, beberapa metode bisa menjadi pilihan, mulai dari kuesioner, Schirmer Test untuk menilai volume air mata, Tear Break Up Time (TBUT) untuk menilai stabilitas air mata, Ocular Surface Staining untuk menilai derajat peradangan dan kerusakan permukaan mata, sampai Tearscope dan Meibography untuk menilai kondisi kelenjar meibom di kelopak mata. 


    “Meski belum mengalami gejala tertentu, bila kamu sudah punya faktor risiko di atas, baiknya pemeriksaan mata dilakukan secara berkala dan menyeluruh agar risiko dry eye bisa dihindari, atau segera teratasi,” pungkas Dr. Nina. 


    Selain menyediakan modalitas pemeriksaan yang komplet tadi, bagi para penderita mata kering, RS Mata JEC menghadirkan Dry Eye Service sebagai sentra pertama dan satu-satunya di Indonesia yang memberikan diagnosis sekaligus perawatan mata kering secara komprehensif. 


    Layanan E-Eye® Intense Pulse Light (IPL) Therapy menjadi salah satu solusi mutakhir yang ditawarkan. Difokuskan untuk terapi MGD, teknologi ini memungkinkan stimulasi sekaligus perbaikan fungsi kelenjar Meibom sehingga kualitas lapisan minyak (lipid) meningkat dan kadar penguapan air mata berkurang.


    Komitmen sosial RS Mata JEC

    Sebagai bentuk kebanggaan terhadap budaya nusantara dan penghargaan atas jasa Kartini kepada perempuan Indonesia, RS Mata JEC telah secara rutin memandatkan seluruh jajaran manajemen dan karyawan operasional untuk mengenakan busana nasional/daerah pada 21 April setiap tahunnya. 


    “Tahun ini, implementasi ‘kultur perusahaan’ tersebut kami perluasdengan kegiatan pemeriksaan mata secara cuma-cuma yang menyasar kepada 1.000 perempuan dari berbagai kalangan dan latar profesi –meliputi pengecekan dry eye, glaucoma, cataract dan retina. 


    Mengingat begitu vitalnya organ mata, JEC meyakini, dengan deteksi kondisi penglihatan lebih awal, para perempuan bisa terus beraktivitas lebih nyaman tanpa kendala,” ungkap Titin Prihatiningsih selaku Direktur HR JEC Korporat. 


    Inisiasi ini juga menguatkan komitmen sosial JEC untuk berkontribusi aktif membantu meningkatkan kesehatan mata masyarakat Indonesia. Selama 34 tahun kehadirannya, JEC telah secara rutin menjalankan operasi katarak gratis dengan keseluruhan tindakan mencapai 5.000 orang.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below