Pasangan Selingkuh, Haruskah Ambil Langkah Cerai?


  • Pasangan Selingkuh, Haruskah Ambil Langkah Cerai?
    Foto: Freepik

    MATA Rina (43 tahun) tampak merah. Di tangan kirinya, memegang tangan anaknya berusia 18 tahun, Daya. Tangan kanannya, tergenggam ponsel yang didalamnya bukti-bukti perselingkuhan suaminya. 


    Jejak langkah Rina memasuki teras – yang entah siapa empunya – begitu sigap. Tapi, soal pikiran yang di pikirannya cuma satu: memberi balasan kepada pelakor (perebut laki orang). 


    Ia tahu betul suaminya sering mengunjungi rumah ini. Beberapa hari lalu, Rina meminta tolong saudaranya membuntuti suaminya. Dan benar saja, seperti yang ia duga. 


    Dan, betul, Rina mendatangi rumah itu karena ia punya bukti tak terelakkan. “Labrak aja Ma,“ seru Daya dari samping. ”Jangang lupa kasih pelajaran cewek itu,”


    Pintu sudah diketuk, pelakor itu pun membuka yang dijawab dengan Rina beserta anaknya lewat nyelonong masuk ke ruang tamu, dan…, terlihatlah suaminya berada disana. Duduk asyik di sofa. Melihat istri dan anaknya, suaminya merasa tertangkap basah, dan wajahnya sekonyong-konyong pucat. 


    Di sampingnya anaknya sedari tadi mengomeli pelakor itu, “Dasar pelakor lu! Bisanya ngerebut suami orang. Emang lu nggak bisa negedapetin yang single. Harus banget ya, cowok yang udah suami orang? ”


    Menatapi sang Suami sedang duduk, rina tertegun. Matanya berkaca. Guratan merah di dalam matanya makin banyak. Ia menarik napas dalam-dalam seraya menatap suaminya yang sudah pasrah diomeli. Tampak sesekali suaminya linglung dengan melihat kanan-kiri dan menunduk. 


    Pelakor yang ada di samping tak tinggal diam. Ia hardik balik perilaku – yang dianggapnya tidak kurang ajar itu – Rina dan anaknya. “Kalau tamu itu pakai sopan santun dong. Ini lagi, main ke rumah orang main masuk aja. Orang tuanya nggak ngajarin, ya” sambil melirik Rina.


    Rina tahu betul bahwa itu ialah pertahanan diri terakhir dari si pelakor. Amarah si pelakor masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Mata Rina masih menatap tajam ke suaminya. Dari kegelisahan di wajahnya, tampak rasa bersalah tak bisa ia tutup-tutupi lagi 


    Sejurus kemudian, Rina mendekati suaminya langkah demi langkah. Ia masukkan ponsel ke sukanya lalu mengepalkan tangan kanannya. Napas Rina mulai tidak teratur saat dirinya berdiri tepat di depan suaminya.


    Suaminya pun menunduk dan memejamkan mata begitu Rina menaikkan tangan – seperti rela untuk ditampar. Tapi, tak dinyana Rina justru meraih tangan suaminya, lalu menariknya agar berdiri.


    “Udah Pa, main-mainnya? “ 


    “Yuk Pa, kita pulang. Nggak enak di rumah anak bungsu kita di rumah nunggu?,” kata Rina sambil melewati pelakor di depannya.


    Terbelalaklah mata suaminya. Lalu sejurus kemudian bangun mengikuti langkah demi langkah istri dan anaknya. Persis seperti induk ayam dengan anaknya yang sedang mencari makan. Rina pun keluar dengan masih dua genggaman: satu tangan menggenggam tangan anaknya dan satu tangannya memegang tangannya.


    Seraya menuju pintu keluar. Anaknya dilingkupi rasa binggung – yang masih belum terjawab di otaknya.


    Apa yang bisa kamu tangkap dari kejadian di atas, ladies? Apakah kamu mengira apa yang dilakukan Rina salah. Mungkin, harusnya melabrak pelakor itu dengan mendorongnya – seperti adegan viral seorang anak korban pelakor melabrak pelakor di mall dalam akun gosip di instagram – ? Atau, menampar suaminya yang jelas-jelas berselingkuh di depan mata?


    Jika jawabannya ‘iya’. Baiklah, apa yang kamu pikirkan memang tak salah. Itu manusiawi. Tetapi, kalau kamu ingin mempertahankan biduk rumah tangga, baiknya cara inilah yang harus dilakukan. 


    Ya, sebab menurut psikolog Irma Gustiana Andirani Mpsi., sikap pertama yang perlu dilakukan saat mendapati pasangan selingkuh ialah mengajaknya bicara. 


    Dalam contoh kasus diatas, Rina bersikap seperti itu karena sadar betul perasaan suaminya sedang lebih berat memilih selingkuhannya. Ia pasti ‘kalah’ kalau Rina marah lalu melontarkan ultimatum dengan menyuruh suaminya memilih dia atau si pelakor. 


    Jadi, yang ia lakukan ialah mengajaknya pulang untuk menyadarkan suaminya agar rasio logika lebih dominan ketimbang perasaannya.


    “Biasanya, banyak orang yang reaktif kalau mengetahui suami selingkuh. Ya, memang, marah boleh, tapi jangan impulsif dengan marah-marah. Karena kalau hati-pikiran sudah dikuasai amarah, yang ada hanya kata-kata kotor yang keluar, yang menjengkelkan suami. Dan dampaknya bikin situasi makin keruh, dan upaya kita menjaga hubungan bisa gagal,” terangnya.


    Menurut Irma, kalau seseorang bisa menjaga perilakunya untuk tidak marah-marah, ia sudah menang satu langkah dalam menjaga rumah tangganya. Setelahnya, bila hati sudah agak tenang, lalu pikirkanlah apa yang ingin dibicarakan untuk membuat situasi jadi lebih baik. 


    Jadi, topik yang dibicarakan ialah solusi dari kondisi ini. Itu karena – disadari atau tidak – kondisi suami bisa selingkuh, pasti ada andil pasangannya juga di sana.


    “Di obrolan itu, kamu jelaskan ke pasangan, sekarang hubungan ini maunya bagaimana. Kalau diteruskan seperti apa, atau mungkin, kamu atau dia butuh waktu mendinginkan masalah. Soal (pilihan) cerai itu urutan terakhir, yang penting ajak ngobrol dulu,” terang Irma.


    Nah, sekarang sudah mulai mengerti kan mengapa Rina bersikap seperti itu, ladies? 


    Lebih lanjut, psikolog Erfiane Cicillia menyarankan, agar obrolan berjalan baik, beri penjelasan dengan mengedepankan “U language”, yakni sudut pandang saya. Itu jauh lebih sehat ketimbang menjelaskan “U Language” atau sudut pandang kamu. Di mana biasanya dipakai banyak orang dan bikin pasangan kesal. 


    Bilang saja, “Aku tahu kamu punya selingkuhan. Aku tuh sedih banget kamu giniin aku. Aku selama ini mencoba membahagiakan, melayani sebisa aku. Anak-anak juga sudah gede. Dia butuh sosok bapak, mas.” 


    Jika kesimpulan obrolan itu ialah memperbaiki hubungan, buatlah komitmen baru untuk merekatkan hubungan kamu. Apa isi komitmennya? Setiap pasangan berbeda-beda, merujuk akar masalah yang membuat pasangan selingkuh. 


    Kamu juga bisa membantu untuk melupakan selingkuhannya agar persoalan perselingkuhan ini cepat selesai. Tanya saja apa yang bisa lakukan untuk agar tidak berhubungan lagi dengan selingkuhannya.


    Tetapi, bila persoalan ini tak rampung secara empat mata, disarankan untuk memakai pihak ketiga. Kamu bisa menawarkan orang yang kamu percaya dan mampu obyektif.  


    “Kamu bisa percaya ke ahli agama atau saudara yang bisa dipercaya. Kalau teman, jangan. Mereka tidak bisa obyektif. Jadi, apa pun hasil yang keluar, ialah hasil yang terbaik,” terang Fifi.