Mengapa Rasa Curiga Efek Diselingkuhi Tak Bisa Hilang?


  • Mengapa Rasa Curiga Efek Diselingkuhi Tak Bisa Hilang?
    Foto: Freepik

    PERSELINGKUHAN ialah isu yang membayangi para pasutri, meski kita melihat ada pasangan yang tampak bahagia dari wajahnya. Bayangan itu muncul karena mereka semua berharap punya pernikahan langgeng, dan faktanya perselingkuhan bisa terjadi di awal, pertengahan dan di akhir pernikahan. Jadi, jika di awal pernikahan ‘aman-tentram’, bukan berarti di pertengahan-akhir pernikahan juga sama.


    Apalagi bila kamu orang yang pernah diselingkuhi – baik saat pacaran atau sudah menikah, rasa curiga pasti muncul dalam benak kepasangan. Dan rasa curiga itu bakal terbawa sampai ke hubungan selanjutnya.


    Masalahnya, rasa curiga itu suka bikin seseorang jadi gampang menuduh pasangan atau berprilaku overprotective, kepo dengan menelpon teman-teman inner circle kita, dan lain sebagainya. Singkat kata, rasa curiga itu membuat kita menjadi pribadi yang menjengkelkan -- disadari atau tidak.


    Mengenai hal itu, pernahkah terbersit di pikiran kamu: mengapa rasa curiga itu tetap muncul ? 


    Menurut psikolog Berit Brogaard D.M.Sci., Ph.D, rasa curiga tetap ada karena seseorang yang pernah diselingkuhi tahu betul rasa sakit yang menderanya saat cintanya dikhianati. Hal inilah yang kemudian membekas dalam di jiwanya, dan pada akhirnya memunculkan rasa curiga kepada pasangan.


    Lebih dalam, kata Berit, semua itu karena untuk bisa percaya lagi butuh keberanian besar. Pengorbanan secara psikologis sangat besar, dan saat orang yang pernah diselingkuhi mulai mau memercayai pasangan lagi, mereka meminta ‘imbalan’. Yakni agar si pasangan setia – yang ia sadari belum dia bakal dapatkan. 


    Untuk itu, rasa curiga itu akan terus terbawa sampai pasangan selanjutnya. Pun saat ada orang yang pernah diselingkuhi menjalin hubungan lagi dengan pasangannya, rasa percaya yang mereka berikan tak penuh. Tidak 100 persen. Itu ialah ‘benteng’ agar jika ia kembali dikhianati, dirinya tidak terlalu sakit.


    Mungkin secara kasat mata orang lain tidak bisa melihat pengorbanan psikologis tersebut. Karena hal yang berkaitan dengan mental atau jiwa tidak terlihat. Tapi, coba saja bertanya pada mereka yang berani memberi kepercayaan atau kesempatan kedua pada pasangannya, yang bisa dilakukan hanyalah mata tiba-tiba memerah atau menangis. Tersebab, memang rasa sakit – yang pernah dialami saat kepercayaan dirusak – itu membuatnya sulit berkata-kata. 


    Selingkuh itu dosa yang besar dalam hubungan, kata Berit. Persoalan tidak bisa serta merta selesai meski pun si Dia minta maaf. Menurutnya, pengkhianatan terhadap kepercayaan merupakan penyumbang penting rasa sakit yang berujung rasa curiga di hubungannya kemudian hari


    “Namun, menurut saya, itu bukan penyebab keseluruhan. Rasa curiga muncul disebabkan bayangan di dalam pikiran kita tentang orang yang dicintai yang mana dihubungkan dengan pengalaman pahit masalah lalu, katanya dalam laman Psychology Today, ditulis Kamis, 5 April 2018.


    Jadi, bayang-bayang pahit hubungan masa lalu dan keinginan untuk tidak ingin diselingkuhi ialah yang membuat rasa curiga jadi muncul – terlepas betul atau tidaknya rasa curiga tersebut. Itulah bagian yang lebih menyiksa orang yang pernah diselingkuhi ketika rasa curiga muncul.


    Kalau rasa curiga itusudah memenuhi hati, yang ada di dalam otak seseorang hanyalah bayangan-bayangan orang yang kita sayang bersama ‘selingkuhan’-nya. Dan itu diputarnya dalam otaknya terus menerus.


    Bagaimana untuk meredam rasa curiga itu? Seseorang harus berdamai dengan diri sendiri. Mulai dari menarima kenyataan, memaafkan si pasangan dan mengikhlaskan apa yang terjadi.  


    “Tetapi itu semua butuh waktu yang sangat lama. Pun ketika sudah move on bukan berarti mereka lupa. Akan selalu ada momen di mana ia akan teringat, lalu terbawa perasaan di masa lampau dalam sesaat,” terang Berit.


    Kemampuan penyembuhan diri itu sendiri setiap orang berbeda-beda. Tidak ada ukuran pasti untuk seseorang bisa move on. Bisa cepat, bisa juga lama. “Namun demikian, rasa curiga ialah hal yang lumrah. Terpenting, seseorang tidak berlebihan mencurigai pasangannya,” kata Berit.


    Rasa curiga bisa jadi ‘alarm’ buat kita untuk lebih peka akan ketidaksetiaan dari pasangan. Tapi, usahakan jangan berlebihan. Karena kalau berlebihan bisa membunuh kepercayaan kita – hal yang dibutuhkan agar hubungan tahan lama.