Terapkan 5 Hal Ini, Dijamin Pernikahan Bakal Langgeng



  • PUNYA pernikahan yang langgeng ialah harapan semua pasangan saat baru berkeluarga. Tetapi, saat berjalannya waktu tak semua bisa mencapai apa yang mereka inginkan. Entah karena ada pelakor (perebut laki orang), kekerasan rumah tangga atau karena merasa tidak dihargai.


    Sebab pupusnya pernikahan  biasanya terjadi karena mereka tidak bisa menjaga hubungan mereka. Lebih dalam, mereka relatif kurang mengetahui bagaimana mengatasi masalah saat datang dan memupuk cinta mereka agar hubungan kuat. Sehingga, ada tidaknya pelakor atau masalah perihal keluarga muncul, selalu bisa dicari solusi atau jalan tengahnya.


    Bila kamu merasa belum punya kemampuan itu, di bawah ini kami sudah mengumpulkan 5 faktor penting yang membuat pernikahan jadi langgeng. Berikut ulasan menariknya.


    Kemampuan komunikasi 

    Dalam kisruh rumah tangga  kemampuan komunikasi seseorang jadi krusial apakah itu menjadi masalah ringan atau besar. Salah menyikapi masalah yang senarnya ringan, kerap bisa menjadi masalah yang berat. Dan... Yap! itu karena kemampuan komunikasi yang kurang.


    Studi dari Robert Epstein dari University of the South Pacific Fiji, menjelaskan bahwa pasangan yang bisa menjaga pernikahannya sampai tua ialah mereka yang konstruktif cara berkomunikasinya. Di mana setiap masalah yang terjadi, memakai kata-kata yang tidak berpotensi menyakitkan pasangan dan berfokus pada solusi – bukan berlarut membahas penyebabnya. Jadi saat masalah datang yang di pikiran mereka, “Apa solusinya nih?”


    Lebih dalam, mereka yang bisa menjaga hubugan langgeng ialah mereka terbiasa mengungkapkan apa yang dirasakan dalam bahasa “I language” dibandingkan “U language”.

    Sebagai contoh, kamu ialah ibu rumah tangga dengan dua anak yang sedikit lagi masuk sekolah. Tapi punya suami yang hobinya memodif mobil hingga suka membuat 'pos' uang untuk belanja dan tabungan terambil. Dalam kondisi itu, bila kamu memakai bahasa “I Language’ itu kira-kira ialah sebagai berikut:

    “Aku kecewa ya sama kamu. Kamu kan tahu tabungan kita masih sedikit? Di kondisi anak sudah besar, kalau uang yang kita punya nggak cukup untuk sekolah anak, gimana? Ini kan sedikit lagi mau masuk masuk ajaran baru. Nanti kalau kaya gini terus, kamu yang kepusingan sendiri lho,”

    Sementara kalau dalam bahasa “U Language”, itu seperti: ”Kamu tuh nggak mikir, ya. Ini anak kita sedikit lagi mau masuk sekolah dan butuh uang banyak, eh malah beli-beli yang nggak penting. Kamu tuh kepala keluarga, harusnya yang kaya gini-gini nggak perlu di kasih tahu lagi. .”


    Gimana pendapat kamu soal dua pernyataan di atas? Lebih enak yang pertama atau kedua? Tentu, yang pertama kan, ya.


    Menurut Robert, dengan kamu menyatakan perasaan dalam bentuk ke-akuan bersama alasannya, itu membuat pasangan lebih mengerti akan perasaan kamu. Dan, penyadaran atau proses perbaikan diri yang kita harapkan bakal terjadi saat itu – di mana membuat seseorang berpikir. Bukan dengan sisi 'kekamuan' yang menyalahkan orang lain. Alih -alih ingin perbaikan sikap, kalau pakai gaya bicara inimalah justru dia jengkel dengan kamu. 


    “Dengan kamu mengutarakan perasaan dengan fokus ke dalam, itu secara psikologis lebih sehat. Jadi, kita langsung ke maksud masalah yang kita rasakan. Jadi tidak perlu melontarkan kata-kata yang tidak perlu – yang seringnya relatif menyakitkan dan tidak terkontrol. Toh, bukannya dalam mengatasi masalah pernikahan yang ingin kita tuju ialah ingin  aspirasi kita didengar?”


    Selalu memaafkan

    Ini karena sepintar apapun seseorang pasti mereka pasti melakukan kesalahan, kan? Ya, ini juga yang terjadi dalam menjalani bahtera pernikahan,di mana kesalahan demi kesalahan akan kamu temukan, baik dalam diri kamu atau suami kamu.

     

    Dan, solusi dari kondisi itu sendiri saling memaafkan. Karena proses pernikahan ialah proses yang sangat panjang. Di mana saat berjalan satu sama lain harus saling ingat mengingatkan, saling memberi satu sama lain, dan saling menyayangi.


    Singkat kata, fokus pada solusi saat masalah datang ketimbang  masalahnya. Dengan begitu, masalah --  yang sering bisa bikin kehangatan berumah tangga hilang -- tidak terjadi berlarut-larut.


    Punya waktu 'me time'

    Ah, kami yakin kamu sudah tahu ini. Ya,  karena cinta itu butuh dipupuk agar bisa terus tumbuh. Persis seperti merawat tanaman di dalam pot . Kalau tanaman itu disiram terus menerus, ia akan terus hidup. Filosofi ini juga perlu dipakai dalam menjalani pernikahan.


    Kamu harus punya cara agar rasa cinta dalam hati bisa terus ada dan tumbuh. Caranya? Buatlah agenda waktu berdua bersama setiap bulannya. Pilih kegiatan yang menyenangkan buat kamu berdua, semisal membuat kue, nonton film layar lebar, pergi dinner dan atau travelling ke tempat wisata yang dekat dari rumah.


    Orgasme 

    Dr Diana Fleischman, seorang psikolog dari University of Portsmouth, mengungkapkan bahwa orgasme yang muncul saat berhubungan seks, membuat ikatan emosional suatu pasangan makin kuat. Itu bisa terjadi karena orgasme yang muncul saat berhubungan seks menciptakan rasa nikmat bagi satu sama lain di mana setelahnya merasakan jiwanya menyatu.


    Hal itu pun kian dikukuhkan setelah ada penelitian yang menunjakan bahwa pasangan yang bisa membawa hubungan intim ke puncak kenikmatan bakal punya hubungan yang bahagia.

  • Our Digital Cover




    Latest Issue Her World Ayla Dimitri Dan Andra Alodita Juni 2021
    Grab it Now!



 

Related Articles