13 Sosok 'Women of the Year 2018' HerWorld Indonesia


  • 13 Sosok 'Women of the Year 2018' HerWorld Indonesia
    Women of the Year 2018 HerWorld Indonesia. (Foto: Dok/HerworldIndonesia)


    Setiap tahunnya, herworld Indonesia mengusung program Women of the Year yang memilih tokoh perempuan sukses dan berprestasi yang tak henti menginspirasi. Capaian yang diraih tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga memberi manfaat lebih buat orang lain dan sekitarnya. 

    Tahun ini, terdapat tiga belas perempuan dengan latar belakang berbeda yang masuk dalam daftar penerima penghargaan Women of the Year 2018. Masing-masing berasal dari berbagai bidang, dari mulai teknologi, bisnis, budaya, hingga industri kreatif. Beberapa di antaranya juga menunjukkan kepedulian yang besar terhadap kemajuan kaum perempuan lainnya. 



    Siapa saja mereka? Berikut profile dan biodata para penerima Women of the Year 2018 herworld Indonesia: 

    (Baca juga: herworld Memberikan Penghargaan Wanita Berprestasi)

    1. Diajeng Lestari, 32, Founder Hijup

    Sejak bertekad mengenakan hijab pada usia 14 tahun, Diajeng menyadari minimnya opsi busana muslim yang modis. Seiring dengan perkembangan internet, tercetuslah ide untuk membuat platform yang mewadahi para desainer hijab lokal. Diajeng sukses membangun startup Hijup. Baca lengkapnya di sini. 



    2. Andien Aisyah, 33, Penyanyi

    Bagi Andien, pernikahan tidak hanya harus memberikan kebaikan bagi dirinya dan sang suami, tetapi juga orang lain. Oleh karena itu, ia pun semakin tergerak untuk memperbanyak aksi sosial. Mulai dari mengunjungi panti jompo secara rutin, menerapkan diet kantong plasting, membersihkan laut di 73 titik di Indonesia lewat gerakan “Menghadap Laut” bersama Pandu Laut Nusantara, hingga terjun langsung membantu korban gempa di Lombok dengan mengajari cara memasang tenda dan memandu trauma healing untuk anak-anak. Baca lengkapnya di sini. 



    3. Azalea Ayuningtyas, 28, Melia Winata, 27 & Hanna Keraf, 29, Founder Du’Anyam

    Mengenyam kuliah di tiga negara yang berbeda tak membuat ketiga sahabat yang telah berteman sejak SMA ini kehilangan chemistry. Dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan mereka masing-masing yaitu pemasaran (Melia), kesehatan masyarakat (Azalea), dan pengembangan UKM (Hanna), terbentuklah Du’Anyam pada tahun 2014 sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Baca lengkapnya di sini. 




    4. Fenessa Adikoesoemo, 25, Chairwoman of Yayasan Museum MACAN

    Menjabat posisi penting di Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) pada usia muda membuat Fenessa harus menghadapi banyak tantangan. Salah satunya adalah proses konstruksi yang menghabiskan seluruh tenaga, waktu, bahkan air mata. “It’s something that I had to be thrown into without previous experience and figure out on my own,” ungkapnya. Ia mengaku hampir putus asa, namun berkat kecintaannya pada seni dan keinginan untuk menyadarkan publik, Fenessa terus bertahan. Baca lengkapnya di sini. 




    5. Silvia Halim, 36, Direktur Konstruksi MRT Jakarta

    Selesai merampungkan studi di Nanyang Technological University pada tahun 2004, Silvia Halim makin jatuh hati pada dunia konstruksi khususnya di bidang transportasi darat. “Saya sangat suka turun ke lapangan, get dirty, dan melihat proyek yang saya kerjakan come into shape. Kenapa land transport? Karena itu yang akan digunakan masyarakat setiap hari di mana artinya saya bisa punya kontribusi besar dalam membuat perubahan." Baca lengkapnya di sini. 



    6. Aldila Sutjiadi, 23, Atlet Tenis

    Medali prestasi di bidang olahraga tenis sudah banyak dikalungkan perempuan kelahiran Jakarta ini. Namun kesuksesannya meraih medali emas di cabang tenis ganda campuran pada perhelatan Asian Games 2018 Jakarta – Palembang lalu sukses meningkatkan kepercayaan diri Aldila. Nyatanya, seluruh anggota keluarganya memang gemar bermain tenis. Baca lengkapnya di sini. 



    7. Stevia Angesty, 30, Co-Founder Feelwell Ceramics

    Ketika bekerja di sebuah perusahaan konsultasi ternama, Stevia memiliki kesempatan untuk mengunjungi tujuh provinsi di Indonesia. Saat itulah dirinya menyadari bahwa banyak bayi yang meninggal akibat diare. Setelah dipelajari lebih lanjut, ternyata salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengadaan toilet bersih. Dengan keinginan untuk memberi akses toilet berharga murah di daerah-daerah tersebut, ia akhirnya membangun Feelwell Ceramics, perusahaan sanitasi yang menyediakan produk kloset jongkok dan wastafel. Baca lengkapnya di sini. 



    8. Maggha Karaneya Kang, 19, Founder Yayasan Metta Mama Maggha

    Berawal dari keprihatinan terhadap kurang baiknya fasilitas di sejumlah tempat penampungan bayi-bayi terlantar, dara asal Bali ini terketuk hatinya untuk membuka Yayasan Metta Mama Maggha saat usianya masih 15 tahun. “Waktu saya sampaikan keinginan ini pada keluarga, sempat ada keraguan karena pada saat itu usia saya masih 14 tahun. Butuh komitmen seumur hidup untuk bisa menjalaninya. Namun karena saya membicarakan hal ini setiap hari, Mama akhirnya membaca keseriusan tersebut. Sejak itu saya berhenti sekolah dan homeschooling demi fokus menjalankan yayasan,” ujar gadis yang juga piawai menari Bali berikut. Baca lengkapnya di sini. 




    9.  Amanda Susan, 28, dan Metha Trisnawati, 30, Co-founder Sayurbox

    Haus akan pengalaman baru di luar perkotaan membuat Amanda memutuskan untuk mencoba berkebun sendiri di sebuah lahan kosong di Sukabumi. Di sana, ia mengetahui sejumlah masalah yang dialami para petani lokal, seperti hasil panen yang berlebih tanpa ada akses untuk menjualnya. Setelah bertemu dengan Metha dan Rama Notowidigdo, mereka pun menciptakan SayurBox untuk mengatasi permasalahan tersebut, sekaligus membuat masyarakat lebih sehat dengan mengonsumsi banyak sayur dan buah serta fitur pembelian yang mudah. Baca lengkapnya di sini. 



    10. Tissa Aunilla, 40, Co-Founder Pipiltin Cocoa

    Apa yang dilakukan Tissa Aunilla lewat Pipiltin Cocoa jauh dari kata sederhana. Dampak yang diberikan pada para petani cokelat Indonesia ternyata cukup besar dan berhasil mengubah pandangan generasi muda tentang bekerja di kebun cokelat. “Salah satu yang membuat saya feel good dalam melakukan hal ini adalah anak-anak petani itu jadi punya kemauan untuk meneruskan pekerjaan orangtuanya. Profesi yang dulunya hampir mati dan dipandang sebelah mata, kini bisa bangkit lagi dan memberi keuntungan yang berarti,” ujar perempuan yang banting setir dari kariernya selama tujuh tahun sebagai corporate lawyer jadi penggerak bisnis cokelat premium bersama adiknya, Irvan Helmi. Baca lengkapnya di sini. 



    (Teks: Kiki Riama Priskilla, Rengganis Parahita, Yolanda Deayu, Foto: Insan Obi, Hadi Cahyono)



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below