5 Fakta Menarik Tentang Imlek


  • 5 Fakta Menarik Tentang Imlek
    (Foto: Foong Kok Leong/Shutterstock/ClickPhotos)

    15 Hari Imlek

    Sebenarnya perayaan Imlek itu berlangsung selama 15 hari, lho! Demikian juga banyak tata cara perayaan yang harus diikuti setiap harinya.

     



    Seperti hari pertama untuk mengunjungi orang tua dan keluarga, hari kedua untuk mengunjungi kerabat, hari ketiga untuk menerima tamu, dan seterusnya sampai hari puncak, yaitu hari ke-15.

     

    Tidak Boleh Menyapu

    Dalam budaya Cina, membersihkan rumah dipercaya sebagai simbol dari menyapu rejeki yang datang pada hari Imlek.

     

    Sebenarnya larangan ini ada karena seorang ibu tidak ingin melihat suaminya terus-terusan bekerja keras untuk memberi nafkah keluarga. Jadi, pada hari besar, tidak boleh ada seorang pun yang bekerja, namun harus bersenang-senang.

     

    Buka Pintu Pada Tengah malam

    Tepat pada jam 12 malam di hari pertama imlek, Anda akan melihat banyak sekali orang yang membuka pintu. Kenapa? Karena dalam tradisi turun temurun dari Tiongkok ini dipercaya sebagai aksi menyambut dewa rejeki. Namun mungkin sebenarnya agar tetangga saling bertegur-sapa.

     

    Menghidangkan Ikan Sebagai Lauk

    Ikan dipercaya sebagai hewan pembawa rejeki. Dari kepala sampai ekor, harus lengkap terhidangkan di atas meja. Dalam bahasa mandarin ikan adalah ‘yu’ yang sama bunyinya dengan arti dari berkecukupan.

     

    Namun kisah sebenarnya adalah karena dulu masyarakat di Tiongkok susah untuk menikmati daging, mereka melulu hanya mencicipi bubur atau nasi. Maka, pada hari besar masyarakat Tiongkok berusaha sekuat tenaga agar ada dedagingan yang tersedia di atas meja makan, agar berkecukupan.

     

    Legenda Monster

    Dulu, ada monster yang datang setiap malam ke sebuah kampung di Cina untuk melakukan penyerangan. Namun pada malam pertama musim semi, seorang ibu yang memberikan makan kepada orang miskin yang ternyata adalah jelmaan monster tersebut, serangan pun berhenti total.

     

    Cerita turun temurun ini adalah petuah bagi anak cucu agar tetap memiliki jiwa dermawan. Memberi pada yang berkekurangan agar dilewatkan dari segala bahaya.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below