3 Alasan Wanita Selingkuh


  • 3 Alasan Wanita Selingkuh
    (Foto: AS Inc/Shutterstock)

     

    Pertanyaan paling umum saat menghadapi pasangan selingkuh adalah: Kenapa? Penelitian terbaru yang dilakukan oleh University of Guelph di Ontario, Kanda, menemukan bahwa jawaban dari pertanyaan ini berbeda, sesuai dengan jenis kelamin.

    Bagi pria, alasan selingkuh biasanya berhubungan dengan seks. Semakin mereka terpacu dengan seks, semakin mudah untuk selingkuh. Bagi wanita, selingkuh biasanya terjadi karena ada rasa tidak puas dalam sebuah hubungan.

    Jika wanita merasa tidak bahagia dalam pernikahannya, ada sekitar 30% kemungkinan untuk selingkuh.

    Apapun alasannya, satu hal yang pasti. Ketidaksetiaan adalah suatu hal yang melelahkan. Meski begitu, ada napas segar yang bisa dirasakan akibat hal ini, yakni Anda dan pasangan bisa menyadari kesalahan yang mungkin selama ini tidak pernah dibicarakan.

    Simak 3 alasan para wanita ini berselingkuh dari pasangannya:

    Suami yang kasar

    “Sejak pertama kali menikah, saya sudah menyesalkan keputusan tersebut. Suami saya sangat kasar, pengendali, dan berharap saya tak bekerja lagi. Sekitar satu tahun setelah menikah, saya mulai berselingkuh dengan rekan kerja.

    Perselingkuhan ini membuka mata saya bahwa saya pantas dicintai dan saya bisa mandiri tanpa bantuan suami. Tiga tahun kemudian, saya memberanikan diri untuk bercerai. Dua puluh lima tahun berikutnya, saya sudah menikah dengan pria idaman. Dan kami saling mencintai.”

    Yang perlu dipelajari: Meski rasa percaya diri yang didapat saat berselingkuh seolah memberikan napas baru bagi percintaan Anda, psikolog asal New York, Michael E. Silverman, PhD, mengungkapkan bahwa selingkuh bukanlah solusi terbaik untuk keluar dari kekerasan rumah tangga. Hubungi kerabat yang dipercayai atau terapis untuk membantu Anda.

    Mulai membenci satu sama lain

    “Saat menikah 6 tahun lalu, saya dan suami tak sabar untuk segera memiliki anak. Namun setelah menikah, saya tiba-tiba sangat fokus pada karier dan tak lagi menginginkan seorang anak. Suami cukup kecewa dengan keputusan tersebut. Kami mulai bertengkar dan tanpa sadar semakin menyakiti satu sama lain.

    Akhirnya saya bertemu seorang pria secara online dan berkencan selama 1 tahun. Perselingkuhan itu berakhir saat suami mengetahuinya. Kami akhirnya sepakat untuk pergi ke konseling pernikahan. Bisa dibilang, perselingkuhan ini memberanikan saya untuk menemukan keinginan dalam pernikahan ini.”

    Yang perlu dipelajari: Adanya amarah dalam hubungan kerap membuat hubungan semakin rentan terhadap perselingkuhan. Pasangan yang tak lagi mau berhubungan intim bisa dibilang bagaikan bom waktu. Dalam hal ini, selingkuh lagi-lagi bukanlah opsi terbaik.

    Cukup komunikasikan perasaaan Anda dengan pasangan secara jujur untuk menemukan solusi yang tepat bagi setiap masalah.

    Bosan dan tidak bahagia

    “Suami saya adalah sosok yang sangat baik dan penyayang. Namun saya kerap merasa bosan. Saat itu saya bertemu dengan seorang pebisnis Australia dan langsung merasakan percikan asmara instan.

    Setelah bertukar nomor, kami kerap berkomunikasi hingga akhirnya saya memutuskan untuk menyusulnya ke Australia. Saya meninggalkan semua kehidupan lama dan berhasil menjadi sosok yang kuat dan mandiri.”

    Yang perlu dipelajari: Meski cerita ini berujung pada akhir bahagia, Dr. Silverman menyarankan bahwa tak semua kisah perselingkuhan dapat berakhir menyenangkan. Jika Anda bosan, teliti lagi alasan mengapa Anda bisa bosan, bukan lari menjauh.

    Hubungan yang sehat harusnya tumbuh dan berkembang. Merasa bosan adalah salah satu tanda bahwa hubungan Anda hanya berjalan di tempat. Daripada selingkuh, sebaiknya tingkatkan romantisme bersama pasangan, ubah gaya hubungan sehari-hari, dan komunikasi perasaan Anda.