Kebebasan Seksual Wanita: Ya Atau Tidak?



  • Leslie Bell, penulis buku Hard to Get: Twenty-Something Women and the Paradox of Sexual Freedom, menyebut istilah "the paradox of sexual freedom". Berdasarkan wawancaranya dengan ribuan wanita dari berbagai usia (baik untuk riset maupun dari pengalamannya sebagai psikoterapis), Bell menemukan kalau wanita usia 20-an cenderung merasa bersalah jika memprioritaskan seks dan cinta di usia kepala dua. Mereka merasa kalau sudah banyak perjuangan yang dilakukan untuk wanita bisa mendapatkan persamaan derajat urusan edukasi dan karier, sehingga mereka hanya akan menghancurkan perjuangan ini jika mereka menunda karier mereka demi cinta. Lalu di mana paradoksnya?

    Ketika wanita muda mulai menetapkan kalau usia 20 adalah usia yang tepat untuk mencapai "segalanya" (work hard, play harder), mereka dianggap agresif secara seksual dan tak mampu menemukan pasangan yang bisa mapan dengan cara mereka. "Alih-alih merasa 'bebas', mereka merasa terbebani dengan referensi kultural mengenai seks dan jalinan cinta yang harusnya mereka dapatkan di usia 20," tutur Bell.

    Menurut Bell, it's OK to be horny. It's OK to have it all. "Having it all" ini mungkin saja Anda capai asalkan Anda dengan jelas mendefinisikan apa arti "all" untuk Anda sebagai seorang wanita. Bagi beberapa wanita, penting untuk mendapatkan orgasme terlebih dahulu, tapi bagi beberapa, lebih penting untuk menguasai teknik blow job yang bisa membuat pria berlutut tak berdaya. And there's nothing wrong with either of those choices.

     

    (TEKS: PUTRI SILALAHI / FOTO: STOCK EXCHANGE)


 

Related Articles