Shareefa Daanish: Tenang Dalam Intensitas

Memainkan karakter psikopat di film Lift, Shareefa Daanish berbicara tentang kontrol diri, keberanian menolak validasi, dan kekuatan untuk tetap menjadi manusia.
Daanish - Photo1

Outer dan vest dalaman Tenun Bali, celana dan sepatu Mary Jane, Sapto Djojokartiko. Kaos kaki, milik model.

Di layar, ia bisa terlihat dingin, tajam, bahkan mengintimidasi. Dalam film Lift, Shareefa Daanish memerankan sosok psikopat, karakter yang menuntut kedalaman emosi sekaligus presisi kontrol. Namun di balik intensitas itu, ia berbicara dengan tenang. Tidak defensif, tidak dramatis. Seolah ia tahu betul batas antara peran dan dirinya sebagai manusia.

Bagi Shareefa, ketertarikan pada karakter-karakter yang “tidak nyaman” bukanlah kebetulan. Ia justru mencari ruang-ruang yang menantang. “Saya merasa tertantang dengan peran yang ber-layer dan tidak biasa. Saya ingin mengeksplor kemampuan akting saya,” ujarnya. Ada dorongan untuk terus menggali, bukan sekadar tampil.

Pilihan itu, dalam konteks industri yang sering mengotakkan perempuan pada karakter tertentu, adalah bentuk kekuatan. Bukan kekuatan yang riuh, melainkan yang sunyi dan konsisten. Sebuah keberanian untuk tidak selalu mengambil peran yang aman.


Daanish - Photo2

Blazer oversized bordir Sapto bahan drill bordir Turanga, dress warna emas muda, kemeja putih dan tassel, Sapto Djojokartiko. Stocking, milik model.

Mengingatkan Diri Sendiri

Memerankan sosok psikopat tentu bukan perkara sederhana. Intensitas emosi yang harus dihidupkan dapat melelahkan, bahkan berisiko mengaburkan batas personal. Namun, Shareefa memiliki ritual kecil yang terdengar sederhana, tetapi esensial. “Sebelum take atau sebelum pergi shooting, saya selalu mengingatkan diri bahwa apa yang saya lakukan hari itu adalah pekerjaan. Itu bukan saya yang sebenarnya,” katanya. Ia bahkan kerap berdialog dengan dirinya sendiri, baik di dalam hati atau di depan cermin, untuk meyakinkan bahwa karakter dan dirinya adalah dua entitas berbeda.

Di situlah kontrol bekerja. Power, baginya, bukan tentang mendominasi situasi, melainkan mengendalikan diri sendiri. “Kita harus bisa mengendalikan diri sendiri, tapi tidak bisa mengendalikan orang lain atau situasi. Itu sudah di luar kendali kita.”

Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi justru di situlah kedewasaannya. Di industri yang penuh ketidakpastian, seperti jadwal berubah, opini publik berfluktuasi, ekspektasi datang dari berbagai arah, memiliki kemampuan mengelola diri adalah fondasi yang tidak tergantikan.

Daanish - Photo3

Coat oversized bordir Sapto Ikat Cemplong bahan voal dan dalaman Songket Bali, Sapto Djojokartiko.

Melampaui Validasi

Ada masa ketika ia merasa perlu disukai. Ketika validasi terasa penting. “Dulu iya,” akunya jujur saat ditanya apakah pernah melawan ekspektasi agar tetap menjaga integritas. “Mungkin karena masih butuh validasi, masih ingin disukai orang.” Namun, waktu mengajarkan perspektif. Bertambahnya usia menghadirkan kesadaran bahwa berusaha memenuhi ekspektasi semua orang hanya akan melelahkan. “Saya yakin tidak semua orang akan suka sama kita, jadi just be yourself saja,” lanjutnya.

Dalam kalimat yang terdengar ringan itu, tersimpan proses panjang. Melepaskan kebutuhan untuk selalu diterima adalah bentuk pembebasan. Dan pembebasan adalah kekuatan yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat terasa. Menariknya, Shareefa menyadari bahwa sejak awal karier, keputusan tetap berada di tangannya. Ia memiliki kuasa untuk memilih peran, berbicara, atau menolak. “Semua pilihan sudah ada di saya,” katanya mantap. Kesadaran itu bukan kesombongan, melainkan kepemilikan atas arah hidupnya sendiri.

Daanish - Photo4

Jaket Tenun Songket Lombok dengan bahan linen dan tule dan rok gold lame quilted, Priyo Oktaviano.

Ketika ditanya tentang fase ragu atau takut, ia tertawa kecil. “Wow, ini pertanyaan sulit,” ujarnya. Namun, Shareefa memilih untuk menempatkan dirinya sebagai manusia terlebih dahulu. Manusia yang wajar merasa rapuh. Manusia yang tidak selalu harus kuat. “Kalau memang lagi rapuh, saya biarkan diri saya merasakan itu semua, selama masih dalam batasannya,” katanya.

Ada kedewasaan dalam kalimat itu. Ia tidak menyangkal emosi, tetapi juga tidak membiarkannya menguasai. Shareefa justru memberi ruang pada rasa, lalu menunggu hingga dirinya siap untuk bangkit kembali. Mengakui kerentanan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kejujuran. Dan kejujuran terhadap diri sendiri adalah dasar dari kekuatan yang autentik.

Daanish - Photo5

Gain songket Bali, scarf tassel, kemeja putih dan sepatu Mary Jane, Sapto Djojokartiko.

Tentang Waktu dan Bangkit

Saat berbicara tentang legacy, jawabannya tidak megah. Tidak tentang penghargaan atau pencapaian monumental. Ia justru berbicara tentang hal yang sederhana yaitu menghargai waktu. Dalam setiap produksi, ia berusaha datang tepat waktu. Baginya, itu bentuk respek pada tim, pekerjaan, dan komitmen. Legacy, bagi Shareefa, tidak selalu tentang hal besar, tapi juga tentang disiplin yang konsisten.

Ia pun ingin meninggalkan pesan lain bahwa tidak apa-apa jika kita sedang tidak perform. “Jangan merasa hancur,” ujarnya. Ukuran kekuatan bukan pada absennya kegagalan, melainkan pada kemampuan untuk bangkit. Bounce back. Bangkit lagi. Itu yang ia yakini.

Daanish - Photo6

Terusan Tenun Bali dengan luaran tulle dengan Sapto Embellishment, Celana denim motif garis, sepatu Mary Jane, Sapto Djojokartiko. Anting, milik stylist.

Berbicara dengan sosok Shareefa Daanish menghadirkan kesan yang tidak meledak-ledak. Ia tidak berusaha terdengar heroik. Justru ketenangan itulah yang terasa powerful. Di tengah peran-peran intens, karakter gelap, dan tekanan industri, ia memilih satu hal yang bisa ia kendalikan yaitu dirinya sendiri. Ia tidak lagi bernegosiasi dengan kebutuhan untuk disukai ataupun berpura-pura untuk tidak merasa rapuh. Ia tidak menyerahkan arah hidupnya pada opini luar.

Di akhir sesi wawancara bersama Her World Indonesia, Shareefa mengingatkan bahwa kekuatan bukan tentang seberapa keras kita terdengar, tetapi seberapa utuh kita mengenal diri. Bukan tentang menguasai panggung, melainkan tentang berdiri tegak ketika lampu sorot padam.





Cover Digital | © 2026 Herworld Indonesia