Atasan dan rok, Friederich Herman
Musik dan bernyanyi menjadi kesenangan gadis kecil asal Sumedang satu
ini. Kecintaannya pada dunia tarik suara berhasil membuat pendengar
musik Tanah Air mengenal dan terus mengingat Rossa. Mulai dari lagu
Pudar hingga Ayat-Ayat Cinta, layar kaca hingga layar
lebar, lantunan nada khas Rossa menjadi salah satu karya yang dekat
dengan telinga banyak orang.
Sejak pertama kali melangkahkan kaki sebagai seorang penyanyi pada
1997, karya-karya Rossa selalu terdengar familier bagi masyarakat
luas, termasuk anak-anak muda saat ini. “Mungkin itu yang dilakukan
generasi Z sekarang, suka dengan berbagai lagu tanpa mempermasalahkan
siapa penyanyinya atau kapan dirilisnya. Sebab, memang musik menembus
usia dan generasi,” ungkap Rossa. Ia juga menceritakan bahwa dalam
banyak kesempatan, Rossa tampil tak hanya di festival musik tetapi
berbagai pentas-pentas seni SMA.
Penggemar Rossa terus bertambah, tak hanya jumlah tetapi keragaman
kepribadian dan generasi. Bagi Rossa, konsisten tak fokus terletak
pada karya-karya yang diciptakan, tetapi juga bagaimana ia terus
mencari inspirasi dan berevolusi.
Dress, Friederich Herman
“Untuk tetap relevan, mungkin salah satu caranya dengan kolaborasi.
Saya sangat excited untuk mendengarkan penyanyi-penyanyi baru
dan cara mereka bernyanyi. Itu jadi inspirasi bagi saya untuk terus
belajar.” - Rossa
Jatuh Dalam Depresi
Dengan generasi berganti dan banyak musisi baru yang mewarnai
industri musik Tanah Air, Rossa masih jadi salah satu penyanyi yang
dinanti. Karya yang tak lekang zaman dan masih nyaman didendangkan
banyak orang, Rossa berhasil mengukir namanya agar tetap relevan
sampai saat ini. Ternyata, kunci Rossa bisa mengikuti perubahan
zaman dan generasi.
Dress, Sebastian Gunawan
“One of the keys is friends, karena saya berteman dengan banyak
orang, dari segala usia. Bagi saya, usia bukan lagi jarak. Jadi, saya
ikut mendengarkan apa yang mereka suka, semua yang saya alami setiap
hari menjadi inspirasi. Selalu ada hal-hal yang menjadi inspirasi,
mungkin itu salah satu kuncinya,” cerita Rossa.
Tak hanya hubungan pertemanan yang memperkaya Rossa sebagai pribadi
dan musisi, tetapi ruang eksplorasi yang terus ia perluas dengan
banyak kolaborasi. Mulai dari menggandeng penyanyi-penyanyi muda untuk
membawakan ulang beberapa lagu hits-nya hingga merilis banyak
karya dengan aransemen nada yang lebih segar, Rossa membuka pintu
lebar-lebar bagi semua penikmat musik Tanah Air.
Kemeja dan rok, Pamela Usanto
Rossa mengaku merasa beruntung lahir dan bisa berkarya di Indonesia.
Keragaman selera pendengar Tanah Air serta pemikiran terbuka para
penikmat musik memberi kesempatan bagi semua penyanyi maupun musisi
terus mengeksplorasi karya. “Saya rasa musik adalah sesuatu yang dapat
kita nikmati. Sudah pasti, kalau bagus itu sudah standar. Namun, jauh
dari pada itu, musik adalah sesuatu yang harus dinikmati,” jelas
Rossa. Kesempatan Rossa untuk tumbuh dalam musik pun kian luas dengan
banyak anak-anak muda yang kerap bernostalgia dengan lagu-lagu hits
masa, salah satunya lagu-lagu Rossa.
Warisan Karya Indah
Pada awal tahun 2000-an, Rossa mengajak para penikmat musik Tanah
Air untuk bernostalgia dengan membawakan kembali salah satu lagu
karya Fariz RM, Sakura. Dengan aransemen lebih segar dan
suara khasnya, Rossa berhasil menyegarkan ingatan banyak orang akan
salah satu karya legenda musik Tanah Air.
Kini, semakin banyak panggung-panggung musik yang kembali memainkan
lagu-lagu hits tahun 90an atau bahkan 80an, maupun karya-karya
terbaru dengan aransemen musik tempo dulu. Rossa pun antusias melihat
bagaimana tren musik terus berputar dan berubah, dengan banyaknya
generasi-generasi Z yang menikmati lagu-lagu lama. “Karya indah itu
jangan sampai berhenti hanya di satu era.
We have to pass it on, ke mana lagi. Harus mewariskan ke
generasi-generasi muda,” tegas Rossa.
Dress, Friederich Herman
Menjelang persiapan konsernya, Rossa pun tertarik untuk membuat
lagu-lagu serupa dengan Sakura [karya Fariz RM] yang sempat ia
bawakan. Keinginan tersebut kemudian ia wujudkan melalui
extended play (EP) bertajuk “Asmara Dansa”, menghadirkan empat
lagu hits seperti Serasa, Juwita,
Serasa x Juwita, dan Sinaran (yang berkolaborasi dengan
rapper asal Malaysia, MK K-Clique).
Eksplorasinya sebagai musisi, baik melalui performa maupun lagu-lagu
yang dirilis, Rossa menunjukkan bagaimana ia terus berkarya dan
relevan lintas generasi. Tak hanya konsisten untuk memikirkan karya
apa yang dapat dibuat, Rossa juga terus mencari bagaimana ia
menghadirkan kesegaran bagi setiap telinga yang mendengarkan
lagu-lagunya. “Dari suara saja, saya sudah menjadi Rossa. Justru, saya
merasa cara bernyanyi harus berbeda [setiap lagu]. Jadi, pendengar
merasa ada sesuatu yang baru dari perubahan-perubahan kecil tersebut
membuatnya [karya] jadi terdengar berbeda dan tidak membosankan,”
jelas Rossa.
Rossa adalah salah satu sosok yang berhasil bukti bahwa menjadi
relevan tak harus terus mengikuti tren – apalagi kalau tren tersebut
membuat identitas diri harus dikorbankan – tetapi bagaimana relevansi
bisa terjadi saat seseorang mau bertumbuh. Perbincangan dengan Rossa
mengukuhkan bahwa melalui adaptasi, kolaborasi, dan eksplorasi,
karya-karya terus bisa dinikmati lintas generasi.