Relevan Lintas Generasi, Konsisten Jadi Diri Sendiri

Cara Rossa (46) terus mengukir sukses melalui karya-karya yang selalu dinikmati lintas generasi tanpa melupakan diri sendiri.
Rossa

Atasan dan rok, Friederich Herman

Musik dan bernyanyi menjadi kesenangan gadis kecil asal Sumedang satu ini. Kecintaannya pada dunia tarik suara berhasil membuat pendengar musik Tanah Air mengenal dan terus mengingat Rossa. Mulai dari lagu Pudar hingga Ayat-Ayat Cinta, layar kaca hingga layar lebar, lantunan nada khas Rossa menjadi salah satu karya yang dekat dengan telinga banyak orang.

Sejak pertama kali melangkahkan kaki sebagai seorang penyanyi pada 1997, karya-karya Rossa selalu terdengar familier bagi masyarakat luas, termasuk anak-anak muda saat ini. “Mungkin itu yang dilakukan generasi Z sekarang, suka dengan berbagai lagu tanpa mempermasalahkan siapa penyanyinya atau kapan dirilisnya. Sebab, memang musik menembus usia dan generasi,” ungkap Rossa. Ia juga menceritakan bahwa dalam banyak kesempatan, Rossa tampil tak hanya di festival musik tetapi berbagai pentas-pentas seni SMA.

Penggemar Rossa terus bertambah, tak hanya jumlah tetapi keragaman kepribadian dan generasi. Bagi Rossa, konsisten tak fokus terletak pada karya-karya yang diciptakan, tetapi juga bagaimana ia terus mencari inspirasi dan berevolusi.

Rossa

Dress, Friederich Herman

“Untuk tetap relevan, mungkin salah satu caranya dengan kolaborasi. Saya sangat excited untuk mendengarkan penyanyi-penyanyi baru dan cara mereka bernyanyi. Itu jadi inspirasi bagi saya untuk terus belajar.” - Rossa

Jatuh Dalam Depresi

Dengan generasi berganti dan banyak musisi baru yang mewarnai industri musik Tanah Air, Rossa masih jadi salah satu penyanyi yang dinanti. Karya yang tak lekang zaman dan masih nyaman didendangkan banyak orang, Rossa berhasil mengukir namanya agar tetap relevan sampai saat ini. Ternyata, kunci Rossa bisa mengikuti perubahan zaman dan generasi.

Rossa

Dress, Sebastian Gunawan

“One of the keys is friends, karena saya berteman dengan banyak orang, dari segala usia. Bagi saya, usia bukan lagi jarak. Jadi, saya ikut mendengarkan apa yang mereka suka, semua yang saya alami setiap hari menjadi inspirasi. Selalu ada hal-hal yang menjadi inspirasi, mungkin itu salah satu kuncinya,” cerita Rossa.

Tak hanya hubungan pertemanan yang memperkaya Rossa sebagai pribadi dan musisi, tetapi ruang eksplorasi yang terus ia perluas dengan banyak kolaborasi. Mulai dari menggandeng penyanyi-penyanyi muda untuk membawakan ulang beberapa lagu hits-nya hingga merilis banyak karya dengan aransemen nada yang lebih segar, Rossa membuka pintu lebar-lebar bagi semua penikmat musik Tanah Air.

Rossa

Kemeja dan rok, Pamela Usanto

Rossa mengaku merasa beruntung lahir dan bisa berkarya di Indonesia. Keragaman selera pendengar Tanah Air serta pemikiran terbuka para penikmat musik memberi kesempatan bagi semua penyanyi maupun musisi terus mengeksplorasi karya. “Saya rasa musik adalah sesuatu yang dapat kita nikmati. Sudah pasti, kalau bagus itu sudah standar. Namun, jauh dari pada itu, musik adalah sesuatu yang harus dinikmati,” jelas Rossa. Kesempatan Rossa untuk tumbuh dalam musik pun kian luas dengan banyak anak-anak muda yang kerap bernostalgia dengan lagu-lagu hits masa, salah satunya lagu-lagu Rossa.


Warisan Karya Indah

Pada awal tahun 2000-an, Rossa mengajak para penikmat musik Tanah Air untuk bernostalgia dengan membawakan kembali salah satu lagu karya Fariz RM, Sakura. Dengan aransemen lebih segar dan suara khasnya, Rossa berhasil menyegarkan ingatan banyak orang akan salah satu karya legenda musik Tanah Air.

Kini, semakin banyak panggung-panggung musik yang kembali memainkan lagu-lagu hits tahun 90an atau bahkan 80an, maupun karya-karya terbaru dengan aransemen musik tempo dulu. Rossa pun antusias melihat bagaimana tren musik terus berputar dan berubah, dengan banyaknya generasi-generasi Z yang menikmati lagu-lagu lama. “Karya indah itu jangan sampai berhenti hanya di satu era. We have to pass it on, ke mana lagi. Harus mewariskan ke generasi-generasi muda,” tegas Rossa.

Rossa

Dress, Friederich Herman

Menjelang persiapan konsernya, Rossa pun tertarik untuk membuat lagu-lagu serupa dengan Sakura [karya Fariz RM] yang sempat ia bawakan. Keinginan tersebut kemudian ia wujudkan melalui extended play (EP) bertajuk “Asmara Dansa”, menghadirkan empat lagu hits seperti Serasa, Juwita, Serasa x Juwita, dan Sinaran (yang berkolaborasi dengan rapper asal Malaysia, MK K-Clique).

Eksplorasinya sebagai musisi, baik melalui performa maupun lagu-lagu yang dirilis, Rossa menunjukkan bagaimana ia terus berkarya dan relevan lintas generasi. Tak hanya konsisten untuk memikirkan karya apa yang dapat dibuat, Rossa juga terus mencari bagaimana ia menghadirkan kesegaran bagi setiap telinga yang mendengarkan lagu-lagunya. “Dari suara saja, saya sudah menjadi Rossa. Justru, saya merasa cara bernyanyi harus berbeda [setiap lagu]. Jadi, pendengar merasa ada sesuatu yang baru dari perubahan-perubahan kecil tersebut membuatnya [karya] jadi terdengar berbeda dan tidak membosankan,” jelas Rossa.

Rossa adalah salah satu sosok yang berhasil bukti bahwa menjadi relevan tak harus terus mengikuti tren – apalagi kalau tren tersebut membuat identitas diri harus dikorbankan – tetapi bagaimana relevansi bisa terjadi saat seseorang mau bertumbuh. Perbincangan dengan Rossa mengukuhkan bahwa melalui adaptasi, kolaborasi, dan eksplorasi, karya-karya terus bisa dinikmati lintas generasi.





Cover Digital | © 2025 Herworld Indonesia