OLEH KIKI RIAMA PRISKILA
FOTO HADI CAHYONO
DIGITAL IMAGING RAGHAMANYU HERLAMBANG
PENGARAH GAYA PUTRI ARIFA MALIK & NATASHA FITRANDA
TATA RIAS DANIELLA KESYA
TATA RAMBUT FRANS POW
Babak baru Retno Marsudi, 63, melanjutkan dampak dengan cara yang lebih bermakna.
Keseluruhan busana, koleksi pribadi
Pagi itu, Retno Marsudi datang tanpa banyak protokol. Ia melangkah masuk ke studio MRA Media dengan langkah yang ringan, mengenakan busana yang rapi, dan sebuah buku di tangannya. Detail kecil yang terasa sederhana, namun justru menggambarkan dirinya dengan jelas sebagai sosok yang terukur, reflektif, dan grounded. It’s very her.
Kami menyapanya, dan percakapan langsung mengalir tanpa jarak. Retno berbicara dengan pilihan kata yang presisi dan alur yang jelas. Tidak ada upaya untuk terdengar dominan, tetapi kehadirannya tetap terasa kuat. Suasana yang tercipta jauh dari kesan kaku yang sering dilekatkan pada dunia diplomasi, semua terasa lebih cair, hangat, namun tetap menyisakan ketegasan.
Hari ini, ia berada di fase yang berbeda. Setelah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia pada 2014–2024, Retno memasuki babak baru dalam perjalanannya. Sebuah transisi yang bagi sebagian orang mungkin terasa seperti jeda, namun bagi Retno justru menjadi ruang untuk melanjutkan kontribusi dengan cara yang berbeda. Dari awal percakapan, terlihat jelas bahwa ia menjalani fase ini dengan kesadaran penuh, bukan sebagai akhir, melainkan sebagai perkembangan alami dari perjalanan yang telah ia bangun selama ini.
Keseluruhan busana, MASSHIRO & CO.
Saya tidak pernah melihat posisi sebagai tujuan. Itu adalah amanah.
“Saya tidak pernah melihat posisi sebagai tujuan. Itu adalah amanah,” ujarnya. Bagi Retno, jabatan tidak pernah menjadi identitas utama. Ia adalah ruang untuk bekerja, untuk memberi kontribusi, dan pada waktunya, untuk dilepaskan. Cara pandang ini yang membuat transisi terasa lebih utuh. Tidak ada narasi tentang berhenti, melainkan bergerak ke konteks yang berbeda.
Kini, ia melanjutkan perannya di panggung global sebagai UN Secretary-General Special Envoy on Water. Peran ini bukan sesuatu yang ia kejar secara aktif, melainkan bentuk kepercayaan yang datang atas rekam jejaknya selama ini. Retno ditunjuk langsung oleh Sekretaris Jenderal PBB pada 1 November 2024 untuk mengemban tanggung jawab tersebut, sebuah pengakuan atas pengalaman panjangnya di diplomasi internasional dan konsistensinya dalam membawa isu-isu kemanusiaan ke meja global. Sebuah isu yang mungkin terdengar teknis, tetapi bagi Retno sangat mendasar. “Ketika kita bicara soal air, kita bicara soal kehidupan,” katanya.
Ia melihat langsung bagaimana akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan di banyak tempat, dan dampaknya sering kali paling dirasakan oleh perempuan. Dari kesehatan hingga aktivitas sehari-hari, semuanya terhubung. Dalam beberapa kunjungan lapangan, Retno menemukan realitas yang jauh lebih kompleks dari sekadar isu infrastruktur. “Di beberapa tempat, warga harus berjalan sangat jauh hanya untuk mengambil air. Berdasarkan data, sebagian besar yang mengambil air itu adalah perempuan dan dalam proses itu, mereka juga menghadapi risiko kekerasan,” ujarnya. Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih serius, “Ini bukan hanya soal akses, tetapi juga soal keamanan.”
Cerita-cerita seperti ini yang membuat isu air baginya tidak pernah sekadar teknis. Ada lapisan sosial yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat nyata dirasakan oleh perempuan. Di titik ini, terlihat jelas bahwa motivasinya tidak berubah. Ia tetap seorang diplomat, bukan karena jabatan, tetapi karena cara berpikir dan komitmennya pada dampak.
Keseluruhan busana, koleksi pribadi
Perjalanan ini tidak dimulai dari posisi besar. Retno justru memulai dari titik yang sederhana. Ia tidak datang dengan jalur instan menuju panggung global. Tidak ada jalan pintas yang membawanya ke posisi tertinggi. “Saya memulai dari nol. Dari seorang nobody. Saya datang dari keluarga yang sangat sederhana,” ujarnya. Pengakuan ini tidak disampaikan dengan nada dramatis, tetapi justru terasa jujur. Perjalanannya dibentuk oleh proses panjang, langkah demi langkah, yang tidak selalu terlihat dari luar. Dalam proses itu, ada nilai-nilai yang ia pegang sejak awal, terutama dari keluarganya.
“Ibu saya selalu mengajarkan untuk bekerja keras dan tidak pernah merasa lebih dari orang lain. Beliau sering mengingatkan bahwa saya datang dari keluarga sederhana. Kenapa? Supaya bisa berpihak pada orang-orang yang kurang mampu. So, I can be there for them,” katanya. Nilai ini yang kemudian menjadi fondasi dalam cara ia membawa diri, bahkan ketika berada di posisi tertinggi. Tidak ada kesan berjarak, tidak ada kebutuhan untuk menunjukkan kekuasaan. Yang terlihat justru konsistensi dalam cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.
Dengan purpose, kita akan lebih mudah menjalani hidup dan tidak terdistraksi.
Perjalanan kariernya pun berjalan bertahap. Dari berbagai penugasan di luar negeri hingga posisi strategis di dalam negeri, setiap fase membawa tantangannya sendiri. Ia menghadapi tekanan, ekspektasi, dan dinamika yang tidak selalu mudah, apalagi ketika harus memimpin di area yang didominasi oleh laki-laki. “Ada banyak momen ketika kita merasa diuji,” ujarnya.
Sebagai perempuan, tantangan itu sering kali hadir dalam bentuk yang tidak selalu terlihat. Ia harus membuktikan diri, menjaga standar, dan tetap konsisten di tengah ekspektasi yang berbeda. Namun, ia tidak menjadikannya sebagai hambatan utama. Fokusnya tetap pada kualitas kerja dan komitmen terhadap tugas.
Pendekatan ini yang membawanya hingga ke posisi Menteri Luar Negeri. Ketika akhirnya ia berada di sana, cara Retno menjalani hidup tidak banyak berubah. Ia tetap melakukan hal-hal sederhana yang sudah menjadi bagian dari dirinya jauh sebelum menjabat. Pergi ke pasar, misalnya, atau makan di kaki lima, hal-hal yang mungkin terlihat biasa, tetapi baginya penting untuk menjaga koneksi dengan realitas sehari-hari. Ada kesadaran untuk tidak terlepas dari kehidupan yang nyata, di luar ruang-ruang formal yang selama ini ia jalani. Dan mungkin, di situlah letak keseimbangannya.
Keseluruhan busana, SukkhaCitta
Retno tidak pernah mengasosiasikan kekuatan dengan suara keras atau dominasi. Ia justru menunjukkan bahwa kekuatan bisa hadir dalam bentuk yang lebih tenang. “Ada banyak situasi sulit, tetapi kita harus bisa tetap grounded,” katanya. Dalam berbagai negosiasi internasional, ia terbiasa berada di ruang dengan tekanan tinggi. Namun, ia memilih untuk tidak reaktif. Ia mendengarkan, mempertimbangkan, lalu merespons dengan tepat. Ketegasan yang ia tunjukkan tidak datang dari emosi, tetapi dari kejelasan berpikir.
Bagi Retno, power juga tidak berarti menciptakan jarak. Justru sebaliknya, ia percaya bahwa kepemimpinan harus membuka ruang untuk diskusi. Terutama di dunia diplomasi, di mana setiap keputusan lahir dari proses panjang yang melibatkan banyak perspektif. “Diplomasi itu tidak bisa one way. Harus ada ruang untuk berdiskusi,” ujarnya. Ia terbiasa membangun lingkungan kerja yang membuat timnya merasa aman untuk berbicara, termasuk menyampaikan perbedaan pendapat. Bahkan, ia secara sadar mendorong anggota timnya untuk berani mengatakan tidak, ketika memang diperlukan. “Saya selalu bilang ke tim saya, kalau memang tidak setuju, sampaikan. Jangan hanya bilang iya,” katanya.
Pendekatan ini bukan hanya soal gaya kepemimpinan, tetapi juga tentang kualitas keputusan yang dihasilkan. Baginya, diskusi yang terbuka justru memperkuat posisi, bukan melemahkan. Perspektif ini terasa sangat relevan bagi perempuan profesional hari ini. Bahwa menjadi kuat tidak harus selalu terlihat keras atau dominan. Memberi ruang, mendengar, dan tetap terbuka justru menjadi bagian dari kekuatan itu sendiri. Dalam banyak situasi, ketenangan dan kejelasan arah menjadi hal yang lebih bertahan.
Kini, ketika ia tidak lagi memegang jabatan formal tersebut, definisi power itu terasa semakin jelas. Power tidak berhenti saat posisi berubah. Ia tetap ada, selama seseorang masih memiliki tujuan. “Saya hanya berpindah konteks, bukan berhenti,” ujarnya. Kalimat ini menegaskan bahwa perjalanan tidak berhenti pada satu titik. Ia hanya berubah bentuk, mengikuti arah yang lebih besar.
Keseluruhan busana, koleksi pribadi
Kalau bukan karena usaha saya sendiri, selain berkat Tuhan tentunya, saya enggak akan berubah, pada saat kita kuat, itulah saatnya kita membantu orang lain.
Di tengah semua itu, Retno tidak menutupi bahwa perjalanan panjang tersebut juga datang dengan rasa lelah. Ia mengaku, ada momen ketika energi terasa habis, sesuatu yang sangat manusiawi, bahkan bagi sosok dengan rekam jejak seperti dirinya. “Tentu saya pernah capek juga, siapa yang enggak pernah capek,” ujarnya. Namun, di titik-titik itu, ia selalu kembali pada satu kesadaran yang menjadi pegangan utamanya bahwa perubahan dalam hidupnya tidak akan datang dari siapa pun selain dirinya sendiri.
“Kalau bukan karena usaha saya sendiri, selain berkat Tuhan tentunya, saya enggak akan berubah,” katanya. Cara pandang ini yang membuatnya terus bergerak, bahkan di saat tidak mudah. Bagi Retno, kekuatan bukan berarti tidak pernah lelah, tetapi tentang bagaimana tetap melangkah setelahnya. Dan ketika kekuatan itu sudah dimiliki, ia melihatnya sebagai tanggung jawab yang lebih besar. “Dan pada saat kita kuat, itulah saatnya kita membantu orang lain.”
Menjelang akhir percakapan, kami menanyakan satu hal yang lebih personal, jika bisa kembali ke masa awal kariernya, apa yang ingin ia katakan pada dirinya yang lebih muda? Retno tersenyum sejenak, seolah mengingat perjalanan panjang yang telah ia lalui. “Kok bisa ya? Hahaha… tapi mungkin saya juga akan bilang untuk lebih percaya diri dan tidak terlalu khawatir,” katanya. “Karena pada akhirnya, semua proses itu akan membentuk kita.”
Lalu, usai menghadapi perjalanan panjang karier tersebut, apakah ia lebih memilih impact atau meaning? Retno kembali berhenti sejenak, sebelum menjawab dengan tenang, “Keduanya tidak bisa dipisahkan.” Bagi Retno, dampak tanpa makna akan terasa kosong. Sebaliknya, makna tanpa dampak hanya akan berhenti sebagai niat. Keduanya harus berjalan beriringan dan menjadi alasan sekaligus arah dalam setiap langkah yang diambil. Namun, ada satu hal lagi yang justru memainkan peran penting, yaitu passion.
Bagi Retno, passion bukan sekadar hal yang disukai, tetapi kompas yang menjaga arah, terutama ketika situasi tidak selalu mudah atau jelas. Ketertarikannya pada isu-isu kemanusiaan, termasuk akses air dan dampaknya bagi perempuan, bukan sesuatu yang baru muncul, melainkan benang merah yang konsisten sepanjang kariernya. “Kalau kita punya passion, kita tahu kenapa kita melakukan sesuatu,” ujarnya.
Mendengar ini, ada sebuah kesadaran bahwa mungkin di situlah impact, meaning, dan passion bisa melebur. Bukan sebagai tiga hal yang terpisah, tetapi sebagai satu kesatuan yang membuat perjalanan tetap terasa relevan, ke mana pun arahnya.