Nadya Hutagalung: Jaga Diri untuk Jaga Bumi

Model dan aktivis, Nadya Hutagalung, 51, berusaha terus prioritaskan keselarasan diri selagi tidak henti berjuang menjaga Bumi.
Nadya Hutagalung

Jaket dan jeans, Burberry.

Namanya di industri hiburan Tanah Air maupun Asia Tenggara tidak lagi asing. Sejak profesi pertamanya sebagai model di usia 12 tahun, ia terus berkelana mengeksplorasi berbagai peran dalam industri yang membesarkan namanya. Tidak hanya dunia hiburan, sudah lama sosoknya juga lekat dengan misi menjaga kelestarian Bumi yang terus ia gaungkan hingga kini.

Nadya Hutagalung. Perempuan yang terbiasa muncul di layar kaca, baik televisi maupun media sosial, kini duduk bersama Her World Indonesia. Perempuan yang pancarkan kekuatan dalam ketenangan, baik dalam tutur maupun aksinya, berbagi cerita tentang bagaimana ia mulai menjaga diri secara utuh sebagai prioritas selagi menjaga kelestarian Bumi dan isinya.

Nadya Hutagalung

Oversized monogram coat , jeans, sneakers, kalung dan tas Gucci.

Prioritas nomor satu [menjaga kesehatan mental]. Saya tidak dapat tampil baik bagi dunia, maupun orang lain, kecuali saya juga baik secara internal

Jatuh Dalam Depresi

Sejak 1996, Nadya mendedikasikan sebagai seorang aktivis lingkungan. Tanpa henti menggaungkan pentingnya menjaga kelestarian alam, terus berjuang untuk Bumi yang sehat dan asri untuk masa depan. Namun, pada 2018, Nadya duduk dengan isi hati diselimuti rasa kecewa, saat mendengar kondisi Bumi saat itu.

Saat membantu Perserikatan Bangsa-Bangsa meluncurkan Global Outlook [dokumen tentang kondisi Bumi terkini], Nadya berbincang dengan para ilmuwan yang menyusun dokumen tersebut. Kondisi Bumi tidak kunjung membaik, justru semakin parah. Kenyataan tersebut membuat Nadya melihat kembali akan semua hal yang ia lakukan untuk membicarakan tentang isu lingkungan melalui platform-nya.

“Kembali menilik apa yang sudah dilakukan dan mendapati kondisi Bumi justru semakin buruk, saya seperti berhadapan dengan dinding tanpa arah dan mengalami depresi. Saya menjalani hari tanpa semangat, tanpa motivasi, dan terus merasa lelah. Saat itu, saya tidak tahu apa yang harus dilakukan dan sesaat, berjalan tanpa arah,” ungkap Nadya.

Pengalamannya jatuh dalam depresi, Nadya tersadar bahwa tidak ada langkah yang dapat ia ambil untuk membuat perubahan sebelum ia jaga kondisi dirinya sebaik mungkin. Selama 20 tahun mendalami Buddhisme, Nadya tahu betul cara-cara untuk menjaga kesehatan, khususnya kesehatan mental.

Nadya Hutagalung

Blazer dan celana pallazzo linen, Max Mara.

Nadya Hutagalung

Kemeja dan celana satin, Alexander Mcqueen.


Kesehatan diri secara utuh jadi prioritas

“Prioritas nomor satu [menjaga kesehatan mental]. Saya tidak dapat tampil baik bagi dunia, maupun orang lain, kecuali saya juga baik secara internal,” tegas Nadya. Kondisi mentalnya yang sempat turun menyadarkan Nadya akan pentingnya menjaga kesehatan diri secara menyeluruh, fisik maupun psikologis. Sulit rasanya menjadi solusi bagi perubahan dunia, saat kondisi diri sedang tidak baik-baik saja. Dengan pengetahuan yang dimiliki, Nadya pun berusaha mencari cara untuk jaga kondisi mentalnya semaksimal mungkin.

Keheningan menjadi sahabat Nadya untuk kembali memusatkan perhatian pada diri sendiri. Sound healing, serta olah tubuh seperti yoga dan pilates adalah metode yang Nadya rutin lakukan selepas dari kesibukannya. Meski tetap aktif di industri hiburan maupun aktivismenya, Nadya bersyukur dapat memberi batas dan mengambil waktu rehat dari kesibukan yang dijalani.

“Semakin sederhana, semakin baik. Saya berusaha mendengarkan tubuh dan pikiran, mengetahui waktu untuk rehat, berusaha menemukan keseimbangan antara kehidupan spiritual dan sosial,” ungkap Nadya. Ia percaya kesehatan mental harus menjadi prioritas dalam hidup. Perlahan tapi pasti, Nadya konsisten menjaga agar kesehatan diri secara utuh bisa selaras dengan kelestarian planet dan lingkungan. Ia percaya bahwa keduanya saling berkaitan satu sama lain.

Mulai memprioritaskan dan rutin menjaga kesehatan mental bukan berarti Nadya jauh dari kata stres. Perempuan berzodiak Leo ini menghadapi sumber-sumber stres yang terjadi dalam kehidupannya sehari-hari. Anak-anaknya, kepindahannya ke Negeri Kanguru yang membuatnya kembali beradaptasi, hingga kondisi Bumi yang semakin memburuk. Support System menjadi hal yang penting bagi Nadya.

“Memiliki komunitas yang baik itu penting dan saya mendapatkan itu di Australia. Sebab, saya pindah ke sana, tidak ada yang tahu siapa saya. Benar-benar saya bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya dan orang-orang yang saya temui di sana, sangat baik dan suportif. Sebuah pelajaran yang berharga,” cerita Nadya.

Bagaimana kita memberi label atau memandang sesuatu, pelan-pelan membentuk realita dalam diri kita. Cara kita memandang suatu hal atau keinginan untuk dipandang sebagai suatu hal, semua terletak pada kekuatan pikiran kita

Kekuatan pikiran & berbuat kebaikan

Dalam mempelajari dan menjalankan ajaran Buddha, banyak nilai yang Nadya pelajari, salah satunya adalah konsep impermanen. Sebuah pemahaman yang menekankan bahwa tidak ada satu fenomena dalam hidup seseorang yang tidak berubah. Peristiwa baik atau buruk, keberuntungan atau kemalangan, semua terus berubah sehingga penerimaan diri juga jadi cara Nadya untuk jalani hidup lebih selaras.

“Sebagai contoh, bagi saya, lebih cepat saya menerima kalau diri semakin tua, rasanya lebih sedikit kesulitan yang saya alami. Lagi-lagi, konsep impermanen. Tentu, saya merawatnya, tetapi menerima semua perubahannya. Saya rasa rambut yang berubah warna menjadi langkah awal dalam proses penerimaan diri saya,” ungkap Nadya.

Banyak hal yang berubah dari hari pertama nama Nadya Hutagalung dikenal. Teknologi yang terus berkembang, tren yang semakin cepat berganti, gaya hidup yang mulai beralaskan fear of missing out , pola pikir dan cara tiap-tiap orang memandang suatu hal adalah hal penting yang harus disadari. Nadya percaya betul akan kekuatan pikiran seseorang.

“Bagaimana kita memberi label atau memandang sesuatu, pelan-pelan membentuk realita dalam diri kita. Cara kita memandang suatu hal atau keinginan untuk dipandang sebagai suatu hal, semua terletak pada kekuatan pikiran kita,” jelasnya.

Nadya Hutagalung

Baloon sleeve shirt dress, Max Mara.

Kekuatan pikiran, bagi Nadya, menjadi salah satu faktor yang mendorong kita untuk secara konsisten berbuat baik. Ia percaya bahwa setiap orang pernah atau tengah melalui suatu hal, semua punya cerita dalam hidup masing-masing sehingga penting untuk memiliki kebesaran hati yang terus mengasah empati.

Ketika setiap orang mengambil waktu untuk coba mendengarkan kisah-kisah sesama, ada ruang lebih aman untuk tumbuhkan koneksi lebih dalam, bangun sebuah komunitasi yang dekat dan semakin tinggi empati. Pikiran memiliki kekuatan dan peran yang besar tentang perubahan lingkungan di sekitar manusia.

Nadya Hutagalung

Shirt dress, Balenciaga.


Sulit tapi bisa dilakukan

Pada akhirnya, dunia selalu berputar dengan segala realita dan tekanannya. Demi kesehatan diri yang utuh, jasmani maupun rohani, banyak cara dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan setiap orang. Salah satu cara yang Nadya coba lakukan adalah menentukan batas yang jelas dalam menjalankan hidup.

Dalam proses menentukan batas-batas hidup, tentu disertai dengan membangun kebiasaan untuk berkata “tidak” yang menjadi tantangan tersendiri. Nadya pun mengakui bahwa ia juga kerap temukan kesulitan menerapkan kebiasaan ini. Namun, ia merasa cara ini berdampak besar dalam kehidupannya meregulasi emosi, menjaga kesehatan diri, serta menikmati momen saat ini.

“Ketika saya mulai belajar tentang batas-batas hidup saya, mulai menentukan apa yang tidak perlu dilakukan. Semakin dalam saya belajar tentang menegaskan batas-batas tersebut, semakin mudah saya membangun sebuah kolaborasi dengan orang lain tanpa mengorbankan kesehatan mental diri,” ungkap Nadya.

Perbincangan singkat tetapi hangat bersama Nadya Hutagalung menjadi pelajaran penting bagi setiap orang untuk konsisten menjaga kondisi diri secara menyeluruh. Sebab, dengan merawat diri sendiri, setiap orang dapat menjadi versi terbaik untuk orang-orang yang mereka sayangi.





Cover Digital | © 2025 Herworld Indonesia