Woman Now

Dua Saudari Wariskan Nilai Hidup Bagi Generasi Muda

By : Vanessa Masli - 2026-09-01 12:00:01 Dua Saudari Wariskan Nilai Hidup Bagi Generasi Muda

Bagi sebagian orang, sebuah bisnis perlu dijalankan untuk mencapai kesuksesan, baik secara finansial maupun komersial. Namun, bagi mendiang Dr. Frans Bambang Siswanto dan pasangannya Prof. Anastasia Sulistyawati, definisi sukses dalam berbisnis adalah ketika apa yang dikerjakan dapat menghidupkan sebuah komunitas serta memberikan manfaat bagi banyak orang, tanpa terkecuali generasi muda untuk bertumbuh. 

Nilai ini yang, secara konsisten, diwariskan mereka kepada kedua putrinya, Made Ariani Siswanto atau akrab disapa Arie dan Nyoman Astari Siswanto atau biasa dikenal dengan Asta. Baik Arie dan Asta percaya betul bahwa warisan bukan hanya sekadar pemberian keluarga turun temurun, tetapi tentang nilai yang terus hidup, bertumbuh, dan memberi manfaat bagi banyak orang. 

Hal ini yang menjadi dasar Arie dan Asta dalam mengembangkan Nyanyi Bali. Berlokasi di pesisir Pantai Nyanyi, Tabanan, sebuah ekosistem dikembangkan dua saudari ini yang mempertemukan pendidikan, hospitality, sustainability, gastronomi, dan arsitektur dengan fokus menyongsong masa depan sekaligus menjaga identitas Bali.



(Made Ariani Siswanto & Nyoman Astari Siswanto. Foto: Dok. Nyanyi Bali)


Menariknya, saat banyak ekosistem dimulai dari infrastruktur yang terbangun kokoh, Arie dan Asta justru fokus membangun ekosistem ini dengan mengembangkan sumber daya manusianya. Pendidikan menjadi salah satu pilar dalam Nyanyi Bali dan menjadi langkah awal untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas. 

Di bawah naungan Bali International Training & Development Centre (BITDeC), Nyanyi Bali menghadirkan Bali Culinary Pastry School dan Politeknik Internasional Bali. Kedua inisiatif ini hadir untuk membekali generasi muda Indonesia dengan keterampilan berstandar internasional di bidang kuliner, hospitality, pariwisata, dan pembangunan berkelanjutan. 



(Bali Culinary Pastry School. Foto: Dok. Nyanyi Bali)


“Kami percaya aset terbesar Bali bukan pantai atau resornya, melainkan manusianya,” ungkap Arie. 

Bagi Arie maupun Asta, pendidikan juga menjadi salah satu cara paling penting untuk menjaga budaya. Dengan ruang yang lebih luas untuk belajar dan menggali pengalaman di industri internasional, keduanya berharap para lulusan tidak hanya memiliki kompetensi profesional tetapi juga kebanggaan terhadap akar budaya tempat mereka berasal.


Bertumbuh dalam Setiap Lini


“Dalam setiap langkah [mengembangkan Nyanyi Bali], kami selalu kembali pada satu pertanyaan: apakah ini bisa memberi nilai jangka panjang bagi masyarakat dan generasi berikutnya?” ungkap Asta. 

Pertanyaan ini yang menjadi landasan dasar Asta maupun Arie dalam mengembangkan Nyanyi Bali. Tidak hanya pendidikan, semangat yang sama juga mereka bawa ke industri gastronomi melalui kehadiran KORO. Destinasi kuliner ini dirancang sebagai ruang belajar hidup, tempat di mana pendidikan dan inovasi bertemu. 

Selain menjadi sebuah restoran, KORO juga menjadi ruang profesional bagi para siswa Bali Culinary Pastry School untuk belajar langsung bersama pelaku-pelaku industri berpengalaman, mengenal standar layanan kelas dunia, serta memahami disiplin di balik dunia kuliner. Semua hal yang dipelajari para siswa di ruang kelas dapat diaplikasikan dalam praktik industri. 


(KORO. Foto: Dok. Nyanyi Bali)


(KORO jadi destinasi kuliner yang dirancang sebagai ruang belajar. Foto: Dok. Nyanyi Bali)


Tak hanya praktik di dalam dapur, Arie dan Asta juga ingin memberikan ruang belajar di luar dapur dan restoran. Lahirlah Valrhona Cocoa Forest, hutan kakao pertama Valrhona di Asia, berkolaborasi dengan Valrhona, perusahaan cokelat asal Prancis. Hutan kakao ini memberi kesempatan untuk memperkenalkan biodiversitas Indonesia, praktik pertanian berkelanjutan, dan ruang untuk mempelajari perjalanan panjang di balik cokelat berkualitas. 



(N Residence padukan desain kontemporer dan karakteristik Bali. Foto: Dok. Nyanyi Bali)


Bagi Arie dan Asta, keberadaan KORO ini adalah bentuk komitmen keduanya untuk merawat talenta muda dan menunjukkan bahwa investasi pada manusia dapat menciptakan dampak yang bertahan lama. Setelah pendidikan dan gastronomi, Nyanyi Bali mengepakkan sayapnya ke arsitektur dengan menghadirkan N Residence.


N Residence mengusung konsep desain bangunan kontemporer yang tetap menghormati lanskap, ritme budaya, dan karakteristik Pulau Dewata. Arie maupun Asta menekankan bahwa desain yang baik harus mampu memperkuat hubungan antara manusia, komunitas, dan alam.


Warisan untuk Terus Tumbuh dan Berdampak


Di balik Nyanyi Bali yang terus berkembang, ada komitmen dan kepemimpinan dua saudari yang konsisten untuk membawa warisan kedua orang tua mereka. Cermin kepemimpinan Bali masa kini yang dekat dengan komunitas, berpegang pada nilai, dan memberi dampak tanpa harus banyak bersuara.


Setiap proyek yang dijalani, industri yang didalami, Nyanyi Bali berkembang menjadi sebuah ekosistem yang terhubung. Mulai dari pendidikan yang beri kesempatan generasi muda bertumbuh, gastronomi menjadi ruang merayakan budaya dari apa yang disantap, desain yang hadirkan pengalaman lebih bermakna, hingga pembangunan berkelanjutan untuk selaraskan hubungan dengan masyarakat dan lingkungan. Semua ini dilakukan Arie dan Asta untuk memastikan Bali terus berkembang tanpa kehilangan nilai yang membuatnya istimewa.


“Seiring semakin besarnya perhatian dunia terhadap Bali, kami berharap dunia dapat melihat pulau ini bukan hanya dari keindahan alamnya, tetapi juga dari orang-orang yang bekerja dengan tenang di balik layar untuk menjaga identitas budayanya,” ungkap Arie. 

Selama mengembangkan Nyanyi Bali, Arie dan Asta berusaha mewujudkan warisan kedua orang tua mereka melalui kepemimpinan yang diterapkan. Baik Arie maupun Asta memaknai kepemimpinan sebagai cara untuk memberi ruang bagi nilai-nilai yang diwariskan untuk tumbuh, merawat talenta-talenta baru, dan membangun tempat yang kelak dapat berdampak sampai generasi-generasi berikutnya.



Woman Now