Ketika sedang bertengkar dengan pasangan, memilih diam sejenak memang dapat membantu menenangkan emosi. Namun, jika diam digunakan untuk menghindari komunikasi, menghukum, atau membuat pasangan merasa bersalah, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi silent treatment. Jika terus dibiarkan, pola ini bisa membuat hubungan terasa semakin jauh dan penuh ketidakpastian.
Silent treatment merupakan kondisi ketika seseorang sengaja berhenti berkomunikasi, mengabaikan, atau memberikan respons yang sangat minim kepada orang lain sebagai bentuk reaksi terhadap konflik atau perasaan tertentu. Dalam hubungan romantis, pertemanan, maupun lingkungan keluarga, perilaku ini cukup sering terjadi ketika seseorang merasa marah, kecewa, terluka, atau tidak tahu bagaimana menyampaikan emosinya. Berikut beberapa situasi ketika silent treatment sering terjadi:
- Saat terjadi pertengkaran
- Ketika merasa kecewa
- Saat sulit mengungkapkan perasaan
- Sebagai bentuk menghindari konflik
- Ketika digunakan untuk mengontrol orang lain
Agar konflik tidak berakhir dengan saling mendiamkan, berikut beberapa cara yang dapat kamu lakukan.
.jpg)
Saat emosi sedang tinggi, kamu tidak harus langsung menyelesaikan masalah. Namun, jelaskan kepada pasangan bahwa kamu membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Misalnya, kamu dapat mengatakan bahwa ingin mengambil waktu selama beberapa jam dan akan kembali membicarakan masalah tersebut setelah lebih tenang.
Pergi atau berhenti membalas pesan tanpa memberikan penjelasan dapat membuat pasangan merasa diabaikan. Jika kamu memang belum siap berbicara, sampaikan secara singkat. Komunikasi sederhana dapat mencegah kesalahpahaman yang lebih besar.
.jpg)
Tujuan dari komunikasi saat bertengkar seharusnya adalah menemukan solusi, bukan membuat pasangan merasa bersalah. Hindari menggunakan diam sebagai cara untuk mendapatkan perhatian, membalas kesalahan, atau membuat pasangan meminta maaf terlebih dahulu.
Ketika kembali berdiskusi, cobalah menggunakan kalimat yang berfokus pada perasaanmu. Daripada mengatakan, “Kamu selalu membuat masalah,” kamu dapat mengatakan, “Aku merasa kecewa ketika hal tersebut terjadi.” Cara ini dapat mengurangi kesan menyalahkan dan membuat percakapan lebih terbuka.
.jpg)
Memberi jeda bukan berarti menghindari masalah. Karena itu, sepakati kapan kamu dan pasangan akan kembali membicarakan konflik tersebut. Dengan begitu, keduanya memiliki kesempatan untuk menenangkan diri sekaligus tetap bertanggung jawab menyelesaikan persoalan.
Ketika pasangan menyampaikan perasaannya, cobalah mendengarkan sampai selesai. Kamu tidak harus langsung menyetujui semuanya, tetapi memahami sudut pandangnya dapat membantu menemukan akar masalah.
(Baca juga: Silent Treatment? Ini 4 Alasan Pria Mendiamkan Wanita)
Konflik dalam hubungan seperti silent treatment merupakan hal yang wajar. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kamu dan pasangan menghadapinya. Dengan memberikan ruang secara sehat, tetap menjaga komunikasi, dan bersedia kembali berdiskusi, pertengkaran tidak harus berakhir dengan saling mendiamkan.
(Penulis: Sania Zelikha)