Yogyakarta kembali dihadiri oleh berbagai seniman dan kurator independen, termasuk Farah Wardani untuk perhelatan seni rupa kontemporer ARTJOG 2026. Membawa payung tema "Ars Longa Trilogia" yang menekankan relevansi seni untuk terus berlanjut di tengah tantangan sosial, politik, teknologi, dan ekologis.
Tema tersebut akan dilanjutkan selama tiga tahun, yakni Generatio (2026), Legatum (2027), dan Mundus (2028). Sebagai awal mula, ARTJOG 2026 ARS LONGA: GENERATIO mempresentasikan karya dari 44 seniman individu maupun kolektif. Tema ARS LONGA: GENERATIO pun dipertegas melalui dua pendekatan, yakni Dialogus dan Practica.
Dialogus berfokus pada dialog antargenerasi melalui karya kolaboratif dan Practica menyoroti praktik seniman individu dalam respons terhadap semangat zaman. Sedangkan segmen Practica dapat menyelami beragam isu seperti sejarah, ingatan kolektif, hingga berbagai kondisi sosial-politik yang dipresentasikan oleh tiga seniman: Dita Gambiro, Restu Ratnaningtyas, dan Mira Rizki.
_-_Photographer_Danang_(1).jpg)
Salah satu seniman, Roby Dwi Antono, membawa karyanya yang dianggap sebagai siklus kelahiran-hidup-kematian yang terus beradaptasi dan bermutasi lintas zaman. Melalui figur yang ambigu dalam karyanya bertajuk Generatio: Cyclus Vitae, ia membawa gagasan bahwa identitas generasi selalu berada dalam proses yang tidak pernah selesai. Karya seninya terbentang menjadi tiga, dimulai dari Vulnera: Bekas Luka Antargenerasi, yang menceritakan pengalaman di dalam rahim ibu dan menjadi janin.
Ditutup dengan karya berjudul Generatio Continua: Kematian sebagai Katalis Kelahiran Kembali Sebuah Generasi, sebuah instalasi patung berwajah perempuan bertumpuk tiga yang terinspirasi oleh filsafat Aztec. Untuk memperluas pemahaman mengenai peradaban sebagai siklus panjang yang dibentuk oleh pengalaman, kerapuhan, dan warisan trauma.

(Karya Dita Gambiro di ARTJOG 2026, Foto: Dok, ARTJOG)
Dita Gambiro hadir dengan instalasi berjudul A Thousand Versions, Source of Fortune, Between Accounts, Exile Promises, 100%, Study of Security. Latar belakang kerusuhan Mei 1998 adalah tema utama instalasi beragam objek yang merekonstruksi rumah toko hasil amatannya. Karyanya menjadi sebuah situs ingatan mengenai tragedi dan kegagalan masa lalu, tetapi juga refleksi tentang sejarah sosial-politik dan ekonomi yang bertaut dalam membentuk identitas dan kesadaran sosial hari ini.
_(Mira_Rizki)_-_Photographer_Arex_(1).jpg)
(Grrrm (Muted) oleh Mira Rizki, Foto: Dok, ARTJOG)
Melalui karyanya yang berjudul Grrrm (Muted), Mira Rizki mengangkat arsip sebagai saksi atas ketidakberdayaan warga dalam menghadapi kekecewaan sosial. Karya ini merangkum 21 rekaman wawancara dengan pekerja kreatif, petani, dan staf institusi. Grrrm (Muted) tidak hanya merekam kecemasan satu generasi, tetapi juga menjadi medium reflektif untuk meninjau ulang residu kuasa dan ingatan kolektif.

Melalui karya Asah, Asih, Asuh, seniman Restu Ratnaningtyas memberikan visualisasi realitas sosial hari ini dari perspektif seorang ibu. Ia menyoroti cara negara mengintervensi struktur sosial dan ruang privat keluarga. Dalam pamerannya, Restu menghadirkan berbagai objek yang memuat kritik tajam hingga mengajak para pengunjung untuk berpartisipasi secara interaktif.
Seluruh kehadiran karya di ARTJOG 2026 menunjukkan bahwa seni adalah medium untuk visualisasi trauma sejarah yang dapat disuarakan secara artistik, cerdas, dan tanpa kompromi. Bagi kamu penggemar seni, mari datang ke ARTJOG untuk memahami keadaan dengan cara yang kreatif.
(Penulis: Alethea Kenisha Madjadikara)