Bicara Corona Bersama Spesialis Paru Dari RSUP Persahabatan


  • Bicara Corona Bersama Spesialis Paru Dari RSUP Persahabatan
    Menjadi salah satu rumah sakit rujukan Covid-19, ini kisah menarik dari garda depan. (Foto: Dok. dr. Fanny Fachrucha SpP)

    Berbincang mengenai isu Covid-19 atau Corona nampaknya akan selalu menarik terutama saat dunia sudah mulai menunjukkan penurunan jumlah penderita. Oleh sebab itu, kali ini kami dapat kesempatan bertanya dengan dr. Fanny Fachrucha SpP (spesialis paru), salah satu dokter jaga di RSUP Persahabatan, yang termasuk salah satu rumah sakit rujukan para pasien Covid19 sejak awal.


    HW (Her World): Apa yg jadi kekhawatiran terbesar untuk para tenaga medis khususnya di rumah sakit rujukan seperti RSUD Persahabatan?



    dr. Fanny Fachrucha (dr. Fanny): Untuk pandemi kali ini, yang menjadi kekhawatiran terbesar kami adalah jumlah kasus yang semakin lama semakin meningkat namun RS rujukan kewalahan menampung para pasien baik dari segi jumlah tenaga medis, fasilitas rumah sakit, hingga kecukupan APD. Kami pun tidak tahu dan kerap bertanya-tanya mengenai kondisi ini. Lonjakan kasus dari hari ke hari akan seperti apa dan apakah kami semua siap untuk menghadapinya? Semua benar-benar tak bisa diprediksi pada saat itu.


    HW: Berarti sampai hari ini, ada berapa tim dokter yang setiap hari siap siaga berjaga di RS Persahabatan? Dalam menangani Covid-19, spesialis apa saja yg turun tangan selain spesialis paru?

    dr. Fanny: Penanganan Covid di RS Persahabatan terdiri dari dokter spesialis paru, dokter residen paru, dokter umum dan dokter spesialis lainnya seperti dokter spesialis anestesia, dokter spesialis mikrobiologi klinik, dokter spesialis patologi klinik, dokter spesialis radiologi, dokter penyakit dalam, dokter jantung, dan lain sebagainya. Semua tenaga medis di RS Persahabatan bekerja sebagai tim dalam menangani pasien covid termasuk tenaga medis lainnya seperti perawat, analis laboratorium dan tenaga non-medis seperti cleaning service.


    HW: Apa yang jd dorongan positif Anda untuk tetap bekerja jadi salah satu garda terdepan yang berurusan langsung dengan pasien? Apa yang menguatkan Anda untuk tetap fight for humanity selain dilandasi oleh kode etik kedokteran?

    dr. Fanny: Saya pribadi merasa memang ini sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai salah satu dokter spesialis paru di RS rujukan. Mau tidak mau saya memang sudah punya tanggung jawab moril dalam penatalaksaan pasien Covid-19 karena memang dominan permasalahan pasien Covid-19 ada di masalah pernapasan. Hal lain adalah melihat keluarga-keluarga yang menaruh harapan besar kepada kami, yang menyerahkan keluarga yang mereka cintai sepenuhnya ke RS dengan harapan yang setinggi-tingginya untuk bisa disembuhkan dan pulih kembali. Kami di RS Persahabatan setiap hari membuka kesempatan pada keluarga untuk ketemu dokter yang menangani pasien sehingga mereka bisa memantau perkembangan keluarganya. Dari situ saya beberapa kali bertemu dengan keluarga pasien yang selalu menaruh harapan besar kepada kami. Ini yang membuat kami tak berhenti mencurahkan segala yang terbaik yang bisa kami beri.


    HW: Dalam satu hari, berapa lama shift Anda dan mulai jam berapa mulai aktif bekerja? Bagaimana kesiapan APD pada saat itu?

    dr. Fanny: Sehari kami bekerja sekitar 8 jam per hari ditambah dengan jadwal jaga di malam hari. Jam kerja ini juga sudah dipikirkan oleh RS sehingga kami para dokter masih bisa memiliki jadwal istirahat yang cukup. Karena jadi rumah sakit rujukan, saya merasa sangat beruntung dan berterimakasih sampai saat ini APD cukup. Kami juga mendapat banyak donasi dari banyak donatur tidak hanya untuk APD tapi juga alat-alat penunjang medis lainnya. Namun, kita tidak tahu perjuangan kita akan sampai berapa lama dan APD yang kita pakai rata-rata sekali pakai. Lama kelamaan pasti jumlahnya tentu akan menipis. Sehingga saya selalu berharap pemerintah dapat menyediakan APD yang cukup untuk semua RS di Indonesia tidak hanya di Jakarta tapi juga di luar-luar daerah.


    HW: Boleh ceritakan sedikit suka duka dalam menghadapi wabah baru ini? Apakah Anda dan seluruh tim dokter langsung mencari tahu dan memelajari tentang Coronavirus di awal penyebaran serta bagaimana proses itu berlangsung?

    dr. Fanny: Bicara soal duka, mungkin banyak hal baru yang di luar ekspektasi kami sebagai tenaga medis saat menangani covid ini. Mulai dari perasaan khawatir terhadap rentannya kami tertular jika berhadapan langsung dengan pasien, perasaan tidak tenang setiap kembali pulang, apakah kami masih membawa virus ke rumah walau selalu dilengkapi APD dan membersihkan diri dl sebelum pulang ke rumah masing-masing, dan lain sebagainya yang biar bagaimana pun tetap meninggalkan rasa was-was.

    Belum lagi stigma masyarakat terhadap kami yang takut tertular karena kami adalah orang yang selalu berhadapan langsung dengan pasien. Duka lain yang sebenarnya paling berat adalah di saat beberapa pasien yang dalam keadaan berat tidak dapat tertolong nyawanya dan kami harus menyampaikan kabar buruk itu ke keluarga, terutama jika yang tidak bisa tertolong itu adalah teman sejawat kami, perasaan yang tidak bisa digambarkan saat sejawat kami satu persatu menjadi pasien Covid-19 dan tidak tertolong. Namun di balik semua duka, suka yang kami rasakan tentu ada, terutama melihat pasien yang bisa pulang dengan tersenyum karena sudah dinyatakan sembuh. Bagi kami ini adalah kegembiraan yang luar biasa dan dalam keadaan berat ini pun, kami juga merasakan kekompakan dalam tim medis yang semakin kuat untuk saling menguatkan antar sesama.


    (Selalu mengupayakan usaha maksimal untuk perawatan pasien pasien Covid-19. Foto: dr. Fanny Fachrucha SpP)


    HW: Bagaimana cara Anda dan tim dokter saling menguatkan mental setiap harinya?

    dr. Fanny: Kami selalu memberikan semangat ke sesama tim medis maupun non-medis. Jika ada yang mungkin perlu istirahat karena kelelahan, kami saling mem back up kerjaan. Kerjasama tim ini sangat dibutuhkan karena kami tidak pernah tahu “perang” Covid ini akan sampai kapan. Maka kami tidak boleh kalah karena “keegoisan” kami.


    HW: Boleh beri sedikit fakta positif tentang Corona yang bisa dijadikan dorongan positif?

    dr. Fanny: Tentu boleh!  Pertama, Covid-19 merupakan infeksi virus yang kita tahu sebagai self limiting disease. Jadi dengan pertahanan imunitas tubuh yang baik, virus ini akan sembuh dengan sendirinya. Sehingga diharapkan kepada masyarakat untuk tetap menjaga pola hidup bersih dan sehat, salah satunya mencuci tangan, makan makanan bergizi, istirahat yang cukup. Kedua, virus ini tidak dapat berpindah dengan sendirinya, dia berpindah karena ada yang membawanya, sehingga jika kita semua menyadari untuk tetap terus di rumah, menjaga jarak social (social distancing), menghindari kerumunan/keramaian, virus ini dapat diputus rantai penularannya. Terakhir, tetaplah waspada dan jangan panik.


    HW: Apa hal dan tantangan terberat yang dihadapi selama jadi bagian dalam tim dokter yang mengurus masalah ini?

    dr. Fanny: Saat kami harus berhadapan dengan situasi tidak bisa menolong nyawa pasien. Ada perasaan sedih, bersalah dan lainnya. Namun kami tahu, kami hanya perantara untuk menolong, kami selalu mengupayakan usaha maksimal untuk perawatan pasien pasien Covid-19. Belum lagi kadang jumlah kapasitas RS kami saat ini juga masih terbatas. Kami belum bisa menampung seluruh rujukan pasien yang ditujukan kepada kami. Karena tiap hari kami bisa mendapatkan puluhan rujukan dari berbagai RS. Ini juga merupakan tantangan yang berat, kami tidak bisa menolong pasien karena keterbatasan kapasitas RS.


    HW: Menerima begitu banyak perhatian dan cinta dari masyarakat, apa yang Anda dan tim rasakan?

    dr. Fanny: Saya sangat senang dan terharu mendapat begitu banyak perhatian dan cinta dari masyarakat. Baik yang memberikan donasi berupa makanan, APD, alat bantu kesehatan, maupun donasi berbentuk uang. Saya mengucapkan banyak banyak terima kasih. Perhatian dan cinta dari masyarakat jugalah yang membuat kami selalu kuat dalam menjalani tugas ini. Saya berharap kita bisa selalu bekerja sama dengan masyarakat dengan kami sebagai tim medis, garda terdepan melawan virus corona di RS dan masyarakat membantu dengan tetap berada di rumah.


    HW: Terakhir, apa persiapan kesehatan yang Anda lakukan tiap harinya supaya tidak drop saat bekerja?

    dr. Fanny: Pembagian jam tugas yang baik sehingga kami bisa memiliki waktu istirahat yang cukup. Makan makanan yang bergizi seimbang ditambah multivitamin. Melakukan olahraga secukupnya untuk menjaga daya tahan tubuh, dan terakhir selalu berdoa setiap saya akan berangkat kerja, setiap akan memulai kerja, dan pulang kerja. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kemudahan.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below