Hiruk Pikuk di Balik Layar Pentas 'I La Galigo'


  • Hiruk Pikuk di Balik Layar Pentas 'I La Galigo'
    Bakti Budaya Djarum Foundation, Yayasan Bali Purnati, dan Ciputra Artpreneur berkolaborasi hadirkan lagi pentas I La Galigo. (Foto: Dok/YayasanBaliPurnati)


    Pementasan 'I La Galigo' kembali lagi hadir untuk kedua kalinya di Jakarta. Diusung Bakti Budaya Djarum Foundation dan Yayasan Bali Purnati, pementasan ini digelar di Ciputra Artpreneur pada 3,5,6 dan 7 Juli 2019. Terdiri dari 11 babak, pentas inimelibatkan setidaknya 50 penampil dan 13 orang musisi selama hampir dua jam.

    Dengan keterlibatan banyak pihak tak bisa dibayangkan bagaimana suasana riuh dibalik layar. Menurut catatan produksi tim yang diterima redaksi Herworld Indonesia, “lalu-lintas” di belakang panggung menghadirkan para aktor yang berlarian sambil “dikejar” petugas wardrobe yang harus memastikan mereka siap dalam 20 detik untuk muncul ke scene berikutnya. 



    Total pertunjukan ini menggunakan hampir 300 kostum dan 200 buah lebih props yang keseluruhan berat totalnya hampir satu ton. Semua itu harus digelar di belakang panggung, siap untuk dipakai, dijaga oleh para staf belakang panggung.

    (Baca juga: Kali Kedua, Pentas I La Galigo Hadir di Jakarta) 

    Merawat Wardrobe dan Props

    Ketika pementasan untuk hari itu berakhir, para petugas wardrobe dan props terus bekerja untuk membetulkan jika ada kerusakan, mencuci ketika ada kostum pemain utama yang basah oleh keringat, dan tidak lupa menyeterika sampai licin. Salah satu senjata para petugas wardrobe adalah bedak tawas. Bedak tawas ini berguna untuk mencegah bau ketiak agar kostum tidak berbau. Sebelum pementasan dimulai, semua aktor harus berbaris mengangkat tangan dan siap ketiak mereka diberi bedak tawas. 


    (Pentas I La Galigo. Foto: Dok/YayasanBaliPurnati) 


    Petugas wardrobe dan props pun menjadi orang terakhir yang pulang ketika pementasan selesai. Mereka masih harus membawa semua kostum untuk di-dry clean, memperbaiki semua yang rusak, dan membersihkan props agar semua siap dipakai untuk pertunjukan berikutnya. Sementara menunggu semua barang-barang ini masuk gudang penyimpanan khusus, sebisanya dilengkapi alat pendingin.

    Untuk alat musik, tidak kalah kreatif. Pak Panggah, panggilan akrab untuk Rahayu Supanggah, pernah berujar bahwa beliau sengaja “menciptakan” alat musik yang mudah dibawa-bawa, salah satunya adalah gong. Gong yang dibuat Pak Panggah adalah semacam gong tipis yang amat memudahkan logistik, tanpa harus mengorbankan kualitas bunyi.


    Usaha Komunikasi pada Semua Pihak

    Pentas 'I La Galigo' merupakan sebuah produksi pertunjukan berskala internasional. Berbagai ras dan suku bangsa berbaur dan harus bisa berkomunikasi, bagaimana pun caranya. Aktor, musisi, petugas belakang panggung berasal dari provinsi Papua, Sulawesi, Bali, dan Jawa.

    Tim kreatif anggotanya berasal dari beberapa negara, tak hanya dari Indonesia tapi juga asal Amerika Serikat, Italia, Perancis, Kanada, dan Singapura. Kemampuan untuk berkomunikasi yang harus bisa dimengerti semua pihak menjadi kemampuan yang amat dicari. Lalu-lalang di belakang panggung akan terdengar berbagai dialog dalam berbagai bahasa. Kesalahpahaman adalah wajar, dan berakhir saling memaafkan atau setidaknya kiriman tumpukan kotak pizza untuk dibagi-bagi.


    (Pentas I La Galigo. Foto: Dok/YayasanBaliPurnati) 


    Selain komunikasi dengan sesama manusia, pementasan yang inspirasinya diambil dari kitab sakral ini juga menuntut “komunikasi” yang baik dengan para leluhur. Untuk hal yang satu ini, komando berada di tangan para Bissu yang selalu hadir “menjaga” pementasan.

    Seperti Alm. Puang Matoa Saidi yang mengawal I La Galigo sampai 2011 berkata, ”Saya merasa bahwa hal terpenting yang saya lakukan selama persiapan I La Galigo adalah memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh para moyang saya kepada saya dipatuhi seluruhnya, seperti bagaimana upacara harus dilakukan dan mantra apa yang harus dilantunkan pada saat apa."

    "Bagi saya, terlibat dalam kerja teater ini bukan hal yang mudah karena, tak seperti pemain lain, saya tak bisa pulang begitu saja seusai pertunjukan dan melupakan segalanya sampai saat pertunjukan berikutnya. Saya tak bisa seperti itu. Saya merasa memiliki tanggung jawab untuk memastikan agar pertunjukan ini selalu mematuhi tradisi kita. Lalu, setiap malam saya masih melaksanakan upacara khusus untuk memohon keselamatan dan berkat untuk kerja di hari berikutnya dan kesehatan bagi semua yang tampil. Saya juga melaksanakan upacara di balik panggung sebelum pertunjukan dimulai.”

    Persiapan panjang 

    Dengan segala perlengkapannya, pentas I La Galigo membutuhkan persiapan panjang untuk dipentaskan. Kabarnya ini bukan kerja setahun, dua tahun, melainkan pengalaman setelah 15 tahun yang dapat membuat I La Galigo terus diminta untuk naik pentas. 

    (Pentas I La Galigo. Foto: Dok/YayasanBaliPurnati) 


    Sureq Galigo sendiri adalah wiracarita tentang mitos penciptaan suku Bugis yang terabadikan lewat tradisi lisan dan naskah-naskah; terekam dalam bentuk syair (circa abad ke-13 dan ke-15) dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno yang juga ditulis dalam huruf Bugis kuno. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima yang menceritakan kisah asal usul manusia. 

    Dalam versi adaptasi ke atas panggung ini, Sureq Galigo menjadi dasar dari sebuah kisah yang menggambarkan petualangan perjalanan, peperangan, kisah cinta terlarang, upacara pernikahan yang rumit, dan pengkhianatan. Semua ini merupakan plot cerita yang kemudian membentuk sebuah cerita besar yang begitu menarik, dinamis, dan ternyata masih memiliki relevansi dengan kehidupan modern di zaman sekarang.

    Selama ini, sejak pentas perdananya di Esplanade Theatres on the Bay (Singapura) pada 2003, lakon ini terus menuai pujian saat digelar di kota-kota besar dunia, seperti: Lincoln Center Festival (New York) , Het Muziektheater (Amsterdam), Fòrum Universal de les Cultures (Barcelona), Les Nuits de Fourvière (Rhône-France), Ravenna Festival (Italy), Metropolitan Hall for Taipei Arts Festival (Taipei), Melbourne International Arts Festival (Melbourne), Teatro Arcimboldi (Milan), sebelum akhirnya kembali ke Makassar untuk dipentaskan di Benteng Rotterdam. Baru-baru ini, I La Galigo juga dipilih sebagai pementasan khusus berkelas dunia pada saat Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 di Bali. Bahkan, media sekelas The New York Times pun tak segan menyebutnya "stunningly beautiful music-theater work" ketika I La Galigo menjadi pembuka pada Festival Lincoln Center 2005. 

    Selain kuat di cerita, pertunjukan berdurasi dua jam yang disutradarai oleh Robert Wilson ini juga akan dilengkapi dengan tata panggung dan tata cahaya yang spektakuler. Tiket pertunjukan dapat dibeli dengan harga mulai dari Rp 475.000 hingga Rp 1.850.000.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below