'Self-Love', Belajar Mencintai Diri Di Awal Tahun 2020


  • 'Self-Love', Belajar Mencintai Diri Di Awal Tahun 2020
    Waktunya belajar memberikan perhatian lebih bagi diri sendiri untuk memaksimalkan potensi di tahun baru 2020. (Foto: Dok. Pexels.com/Hassan OUAJBIR)


    Kita cenderung lebih sering memberikan rasa sayang yang berlimpah kepada pasangan, anak-anak, keluarga, bahkan sahabat. Tapi justru orang yang paling penting, yaitu diri kita sendiri, luput dari perhatian.

    Ironisnya kita justru memberikan waktu dan perhatian lebih banyak pada selebritas atau influencer, orang-orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita, melalui unggahan Instagram atau media sosial lainnya.



    Tanpa sadar, kehidupan kita berputar di sekitar urusan orang-orang terdekat, sahabat serta kalangan sosial yang dapat membangun jaringan dan reputasi kita. Belum lagi hal lainnya seperti pendidikan, karier, pekerjaan, bisnis, investasi, travel, dan masa depan.

    Saat ditanya mengenai prioritas hidup, kebanyakan kita menjawab – keluarga, kesuksesan, kesehatan, pendidikan, perjalanan – tapi kita lupa untuk memasukkan diri kita sendiri dalam daftar tersebut. Tanpa hadir di prioritas hidup, maka kita tidak akan belajar dan berusaha memberikan rasa cinta pada diri sendiri.



    (Merasa bersalah untuk mencintai diri. Foto: Dok. Pexels.com/Artem Beliaikin)

    Alasan kita menolak mencintai diri sendiri

    Urusan cinta diri ini kelihatan sederhana, tapi sebenarnya topik ini sangat serius karena menyangkut emosi negatif, yang bila tidak ditangani dapat dengan mudah menjurus ke depresi.

    Emosi ini termasuk rasa tidak bahagia dan cemas, selalu berkorban untuk orang lain, tidak dapat mengekspresikan diri secara tulus, merasa tidak dihargai, dan tidak mampu meraih hal-hal yang diinginkan dalam hidup.

    Menurut Helena Abidin, Corporate Director The Golden Space Indonesia, ada beberapa hal yang dapat menyebabkan kita merasa bersalah atau menolak untuk mencintai diri sendiri, seperti:

    1. Mengalami kegagalan dalam hidup,

    2. Dilecehkan, dikhianati, dan direndahkan,

    3. Menganggap masalah keluarga atau teman lebih penting dari diri sendiri,

    4. Merasa harus lebih banyak memberi dan berkorban,

    5. Kurang percaya diri, rendah diri, dan selalu merasa kurang,

    6. Selalu membandingkan diri dengan orang lain,

    7. Ketakutan untuk tidak bisa diterima atau dicintai orang lain,

    8. Tidak dapat mengekspresikan keinginan hati,

    9. Merasa egois jika menggunakan lebih banyak waktu pada diri sendiri.



    (Hindari membangun tembok untuk koneksi. Foto: Dok. Pexels.com/Daniel Xavier)

    Kapasitas untuk dapat menerima penghargaan dari orang lain sangat tergantung pada tingkat kecintaan kita pada diri sendiri. Emosi yang terpendam, rasa sakit di hati karena trauma masa lalu juga dapat menyebabkan kita merasa curiga atau membangun tembok saat orang lain ingin menjalin koneksi.


    Hal-hal yang bisa membantu kita belajar mencintai diri

    Banyak hal menyakitkan pada masa kecil yang turut memengaruhi persepsi kita terhadap cinta dan diri sendiri. Tanpa disadari hal-hal ini akan mempengaruhi karakter, sikap dan emosi kita dalam bergaul, dalam membina keluarga, melakukan pekerjaan maupun membangun bisnis. Lalu, bagaimana cara kita bisa memulai mencintai diri sendiri? 


    1. Terima diri sendiri

    Menerima diri sendiri dengan apa adanya dan berhenti mengkritik atau membandingkan diri dengan orang lain. Diri kita sempurna adanya, sayangi dan cintai seperti apa adanya.


    2. Jaga diri

    Menjadikan diri kita prioritas pertama dalam hidup dan juga berarti memberikan waktu yang lebih banyak untuk menjaga tiga hal utama dalam diri kita:

    - Tubuh (lakukan yoga, olahraga, makanan sehat, dan perawatan tubuh)

    - Pikiran (membaca, belajar hal baru, dan selalu berpikir positif)

    - Jiwa (berdoa, meditasi, liburan demi memperkaya dan menenangkan jiwa serta dekatkan diri dengan alam)


    3. Buat batasan

    Berani untuk berkata “tidak” dan menolak hal-hal yang tidak diinginkan, menyakitkan, melewati batas, serta melanggar nilai-nilai hidup yang kita pegang. Hal ini menunjukkan bahwa kita menghargai diri sendiri, sehingga mampu membuat orang lain lebih menghargai diri kita.



    (Meditasi bisa jadi cara menyembuhkan luka masa lalu. Foto: Dok. Pexels.com/Burst)

    4. Sembuhkan luka

    Dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa diri kita pernah terluka sekecil apapun itu. Rasa takut, trauma dan luka dalam hati adalah emosi negatif yang harus diproses dan dilepaskan dari pikiran dan hati agar dapat diisi kembali dengan rasa cinta.

    Meditasi dapat membantu kita memproses emosi negatif ini dengan lebih cepat, sehingga kita dapat memaafkan diri kita sendiri maupun orang lain, dan kembali memberikan rasa cinta dan bahagia. Penyembuhan luka yang tak terlihat ini sangat penting untuk mengembalikan rasa bahagia, respek, dan percaya pada diri sendiri.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below