Hari Diabetes Sedunia: Waspada Akan Komplikasi


  • Hari Diabetes Sedunia: Waspada Akan Komplikasi
    Gaya hidup yang tak sehat turut membuat diabetes kini juga menyerang anak muda. Waspada akan komplikasi yang turut mengintai. (Foto: Dok/Pexels.com)


    Tren saat ini menunjukkan jika usia pengidap diabetes tak lagi hanya pada mereka di usia tua, atau di atas 40 tahun, tapi juga anak-anak muda. Ini disebabkan gaya hidup yang mendorong angka obesitas naik, dan risiko kena diabetes pun kemudian juga meningkat. 

    Demikian disampaikan dr Dante Saksono Harbuwono, Kepala Divisi Metabolik Endokrin, FKUI, saat dihubungi di Jakarta, awal September lalu. Menurutnya, hal tersebut patut menjadi concern atau perhatian jika bicara mengenai penyakit diabetes, di samping perihal pengobatan dan masih kurangnya informasi diabetes dan komplikasi yang menyertanya pada publik. 



    “Konsen pengobatan juga patut jadi perhatian khusus saat ini. Tidak hanya mengobati gula darah yang naik tapi juga perhatian mesti diberikan pada komplikasi yang ditimbulkannya. Komplikasi terbesar dari diabetes jika diatasi bakal bisa menghemat biaya pengobatan. Contoh dari komplikasi ini diantaranya cuci darah, stroke dan atau serangan jantung,” ujarnya menegaskan. 

    (Baca juga: Mengenal Diabetes: Gejala, Sebab dan Pencegahannya) 

    Bertepatan dengan peringatan World Diabetes Day atau Hari Diabetes Sedunia yang jatuh setiap tanggal 14 November, informasi seputar diabetes dan komplikasi ini, kata dr Dante patut kembali jadi perhatian. Karena, selain memberi perhatian pada gula darah, seseorang juga mestinya menaruh perhatian akan efek atau komplikasi dari diabetes ini. 

    Mengenali gejala 

    Lebih jauh, menurut dia diabetes ada yang menunjukkan gejala, ada juga yang tidak. Dari sebuah studi yang pernah dilakukan di Jakarta, diketahui penderita diabetes tidak mengetahui dirinya mengidap gejala diabetes. Persentasenya lebih banyak dibanding yang tahu. 

    “Banyak orang yang tidak tahu akan gejala ini, dan oleh karenanya pemeriksaan rutin kemudian menjadi penting,” ujar dia. 

    Adapun gejala diabetes dapat dibagi atas dua, yang klasik dan non klasik. Gejala klasik, kata dr Dante, diantaranya seseorang sering lapar dan haus sehingga banyak makan dan minum, serta sering buang air kecil. Sementara gejala non klasik, diantaranya dapat diketahui dari seringnya mengalami kesemutan, pandangan kabur, keputihan, dan luka yang tidak mudah sembuh. 

    “Adalah penting untuk mengetahui ini supaya cepat dapatkan pemeriksaan dini,” ujarnya. 

    Lalu, apa penyebabnya? dr Dante mengatakan ada dua penyebab dari diabetes, yakni turunan dan pengaruh gaya hidup. Bagi mereka yang orangtuanya kena diabetes, anaknya berisiko kena diabetes juga. Jika bapak atau ibu yang diabetes, potensi bakal kena sekitar 30 persen, sementara jika keduanya bapak dan ibu adalah penderita diabetes, maka kemungkinan kena 70 persen. 

    Sementara, penyebab lain adalah pengaruh gaya hidup yang menyebabkan obesitas atau kegemukan sehingga insulin di dalam tubuh tidak bekerja efektif dan mengakibatkan kadar gula darah naik. Adapun gaya hidup ini, diantaranya kurang berolahraga, makan banyak karbohidrat, tidur berlebihan, dan lainnya. 

    Bagaimana mencegahnya? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan unutk mencegah agar tak terkena diabates. Jika itu turunan, yang harus dilakukan adalah berupaya untuk menurunkan berat badan agar tidak melebihi angka batas normal. Lalu, melakukan pemeriksaan rutin atau berkala setiap 6 bulan, diantaranya pemeriksaan gula darah puasa, gula darah dua jam atau pemeriksaan Hemoglobin A1C (HbA1c) yang digunakan untuk memantau glukosa darah. 

    Dengan pemeriksaan ini, dan sadar akan gejalanya membuat penanganan diabetes bisa dilakukan lebih dini dan risiko komplikasi pun bisa diatasi.  



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below