JFW 2020: Gebrakan 4 Desainer LPTB Susan Budihardjo


  • JFW 2020: Gebrakan 4 Desainer LPTB Susan Budihardjo
    Empat desainer dari LPTB Susan Budiardjo; Bella Shofie, Sonia Angela, Pretty Cia dan Abirani menampilkan karya rancangannya di JFW 2020. (Foto: Dok/TimMuaraBagdja)


    Selalu ada kejutan di pekan mode Jakarta Fashion Week (JFW), termasuk di gelarannya tahun ini. Kejutan itu bisa jadi menyenangkan, bisa juga mengerutkan dahi. 

    Salah satu yang memberi kejutan itu hadir lewat empat desainer lulusan LPTB Susan Budihardjo; Bella Shofie, Sonia Angela, Prettycia Haqni, dan Abirani. 



    “Seorang desainer dilihat dari koleksi yang dipresentasikan di muka publik. Saat itulah orang menilai kreativitas dan kemampuan desainer secara utuh," ungkap Susan Budihardjo, pimpinan LPTB Susan Budihardjo dalam pernyataan resminya terkait show yang hadir di JFW 2020, di Fashion Tent, Senayan City, Jakarta akhir pekan lalu, Jumat (25/10).  

    Seperti apa koleksi dan peragaannya? 

    (Baca juga: JFW 2020: 


    Mengusung tema besar bertajuk 'Time' atau Waktu, masing-masing desainer mengolah gagasan yang berbeda. Bellamengolah tema Awan dalam bentuk potongan gaun yang glamor, Angela memberikan koleksi busana kerja yang chic, Prettycia menghadirkan aneka mini dress biru-putih yang feminin, sementara Abirani bermain-main dengan potongan asimetris, bertumpuk dan tali aneka warna sebagai detail. 


    Bella Shofie 


    (Koleksi Bella Shofie. Foto: Dok/TimMuaraBagdja) 


    Lebih dikenal sebagai artis, kehadiran Bella sebagai desainer di panggung JFW 2020 tak pelak mencuri perhatian. Mengangkat tema 'Awan', koleksi yang dihadirkannya didominasi gaun yang glamor, penuh warna, dan agak sedikit 'nyeleneh'. Awan secara harfiah ditampilkan dalam bentuk gumpalan 'awan' di atas kepala atau pundak. Pilihan warnanya yang abu-abu disesuaikan dengan busana. 

    Potongan busana yang bold, tak biasa dan mencolok menjadi ciri khas Bella. Ia juga menegaskan itu lewat pemilihan aksesori seperti sepatu yang juga berwarna neon menyala. Rentang palet warna yang dihadirkannya dari mulai putih, ungu, jingga, dan hitam. Di penghujung presentasinya, ia menyisipkan satu gaun panjang berupa gugusan awan yang memendarkan cahaya dengan bantuan formula khusus “glow in the dark” pada busana. Lagi-lagi, kesan glamor dan 'serba lebih' seperti sengaja dihadirkan Bella. 

    Hanya saja, koleksi ini masih belum dieksekusi dengan baik, setidaknya pada satu dua potong busana ada yang lemah dalam detail. Bahkan, sempat membuat salah satu model mengalami 'malfunction' busana. Di luar itu benang merah koleksi ini masih sulit untuk diuraikan. 


    Sonia Angela


    (Koleksi Angela. Foto: Dok/TimMuaraBagdja) 


    Diiringi musik menghentak, koleksi Angela memberi kejutan gamblang dengan dominasi warna merah legam serta off-white. Ia menghadirkan 13 koleksi office wear yang chic, stylish, sekaligus elegan. 

    Potongan busana yang rapi menjadi imej yang mengena yang dihadirkan Angela. Koleksinya terdiri dari busana dua-potong, dan tiga-potong; blus dengan padanan rok, serta blus, vest, dengan celana panjang. Ia juga menyematkan detail melengkung pada ujung blus atau celana sebagai penanda ciri khas desain.

    Penempatan lining dan pola terstruktur di atas bahan wol dan satin mempertegas ide yang ingin disampaikannya. Sehingga tak heran jika sebagai pelengkap ia hanya menghadirkan scarf warna senada dan atau stocking bermotif abstrak. Meski terkesan seolah 'bermain aman', koleksi yang dihadirkan Angela cukup menarik untuk diulas. 


    Prettycia 


    (Koleksi Pretty Cia. Foto: Dok/TimMuaraBagdja) 


    Sapuan kombinasi warna putih dan biru serta deru ombak di awal peragaan mengungkapkan secara gamblang dari mana inspirasi koleksi Prettycia ini berasal. Selain laut, Cia disebutkan terinspirasi dari warna Santorini yang gedung-gedungnya juga didominasi putih dan biru. Mengangkat tema 'Struktur', ia menghadirkan koleksi gaun dan koktail dalam warna sama. 

    Interpretasinya akan Santorini tak hanya lewat warna, tap juga potongan gaun yang ia wujudkan dalam bentuk kubah atau lonceng gedung pada bagian bawah gaun. Penggunaan bahan duchess yang agak tebal berhasil mempertegas bentuk. Cia juga menggunakan dominasi pleats yang diolah dari bahan sifon dalam warna gradasi biru. 

    Salah satu yang cukup menarik dari koleksi ini adalah hadirnya gaun tiered dress yang disusun tumpuk dalam potongan A tanpa lengan. Sematan payet pada beberapa bagian busana juga menjadikannya menarik. Sebagai pelengkap peragaannya, Cia berkolaborasi dengan Noma jewelry berupa anting dan mahkota. 

    Meski begitu, masih terdapat satu dua potong busana yang agak 'janggal' dan patut mendapat eksekusi lebih matang dari lainnya. 


    Abirani


    (Koleksi Abirani. Foto: Dok/TimMuaraBagdja)


    Jadi penutup dari peragaan, Abirani menghadirkan 13 set busana dalam gaya constructed-edgy yang diberi judul 'Emotion'. Didominasi potongan-potongan busana asimetris, karya rancangannya hadir dalam warna yang bercerita, dengan warna terang yang bisa jadi simbol dari emosi. Yang menarik dari koleksi Rani adalah bagaimana ia memecah pola menjadi potongan-potongan tidak terduga, seperti puzzle, potongan itu harus disatukan dengan jahitan. 

    Sekilas satu potong busana rancangannya tampak sangat rumit dengan tekstur dan jenis kain yang digunakan. Konon, dalam satu set pakaian, Rani sampai memasukkan dua puluh unsur berbeda dengan embellishment yang tidak biasa seperti, pita, webbing, smock, kelingan, kaitan tas, dan mata itik untuk mengayakan desainnya. 

    Tali yang digunakan menjadi benang merah busana untuk menggambarkan bahwa tiap waktu saling berkaitan, tiap emosi saling berhubungan. Sebagai pelengkap dari koleksi ini, ia memadukannya dengan sentuhan modern, dari mulai tas, sepatu hingga kacamata. Karyanya menjadi satu yang cukup asik dan patut untuk mendapat perhatian lebih. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below