Sepotong Cerita dari Ubud Village Jazz Festival


  • Sepotong Cerita dari Ubud Village Jazz Festival
    Ubud Village Jazz Festival 2018 memasuki gelaran yang ke-enam dan menghadirkan musisi jazz ternama dan juga panggung kolaborasi. (Foto: Dok/UVJF2018)


    Keluar dari anggapan bahwa musik jazz selalu ditampilkan di gedung-gedung mewah, Ubud Village Jazz Festival hadir dengan menyodorkan musik jazz dengan keindahan panorama alam Ubud.

    Tahun ini, gelaran musik itu kembali hadir memasuki tahunnya yang ke-enam, dan ARMA Resort & Museum Ubud, Gianyar yang menyajikan arsitektur tradisional Bali serta dikelilingi taman-taman tropis menjadi tempat pertunjukkan Jazz yang unik dan berkarakter.  



    Mengusung tema 'Freedom of Expression', terdapat tiga panggung pertunjukan yang mengusung tema berbeda, yakni panggung Padi, panggung Giri, dan panggung Subak. 

    (Baca juga: Ubud Village Jazz Festival 2018)

    Jazz dan Ubud

    Pada hari pertama gelarannya pada 10 Agustus, UVJF 2018 tampak sangat ramai dipadati wisatawan asing maupun domestik. Sejak sore hari, loket tiket telah ramai dipadati pengunjung. Mereka tampak antusias dan santai menunggu antrian panjang tiket. Akses masuk yang luas dan nyaman memberikan kemudahan bagi pengunjung terutama informasi acara dan lokasi panggung, terutama bagi mereka yang baru pertama kali ke ARMA. 

    Alunan suara Emilia Schnall diiringi Panji Baskoro Trio menjadi musik pembuka pada festival kali ini dan mendapat sambutan meriah dari penonton. Partisipasi musisi jazz asal Melbourne, Australia ini sebagai bagian dari dukungan Future Leaders di bidang kebudayaan.

    Disusul kemudian dengan penampilan dari Insula yang berkolaborasi dengan perkusi asal Medan, Affan Latanette yang semakin menambah kemeriahan festival. Lantunan mix aransemen bergaya Brazil, Algeria dan Mediterania disuguhkan secara khas oleh band yang didukung oleh Institute Francais Indonesia ini.


    (Suasana Ubud Village Jazz Festival 2018. Foto: Dok/UVJF)


    Sementara, pada penampilan lainnya, Ade Irawan, pianist jazz tuna netra, yang telah berkali-kali mendapatkan penghargaan MURI (Museum Rekor Indonesia) dan sederet penghargaan lainnya di luar negeri, tampil bersama Yuri Mahatma, co founder UVJF, dalam konsep Ade Irawa “Good Fellas”. Penampilan kolaborasi yang asik ini mendapatkan apresiasi yang tinggi dari penonton yang hadir.

    (Baca juga: Ubud Village Jazz Festival Datang Lagi)

    Ada beberapa highlight dalam gelaran Ubud Village Jazz Festival tahun ini. Salah satunya, termasuk penampilan sederet musisi jazz kenamaan lain seperti Judith Nijland (Belanda) yang berkolaborasi dengan Astrid Sulaiman,Triple Ace - Colours in Jazz yang didukung oleh Kedutaan Austria, MLD Jazz Project Season 3, Pramono Adi Pamungkas, Nita Aarsen Eurasian Project bersama Olaf Keus (Belanda) dan Dian Pratiwi.

    Sementara, Idang Rasjidi Syndicate hadir menjadi band penutup UVJF 2018. Idang tampil bersama musisi-musisi belasan tahun asal Lampung yang sangat berbakat. Walaupun begitu, band ini menyuguhkan music jazz yang sangat berkelas melampaui umur musisinya yang masih muda belia.

    Secara keseluruhan, Ubud Village Jazz Festival dipadati ribuan penonton yang seperti disampaikan penggagas Ubud Village Jazz Festival Yuri Mahatma dan Anom Darsana telah sesuai dengan harapan. Sebanyak 3.500 pengunjung dapat hadir pada gelaran musik yang berlangsung dari 10-11 Agustus 2018 di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, Kabupaten Gianyar. Hujan yang sempat mengguyur, tidak menyurutkan semangat penonton dan musisi untuk bersama-sama menikmati UVJF.

    Gelaran musik ini disebutkan didukung Bekraf, dan Kementrian Koperasi dan UMKM yang turut ambil bagian dalam memeriahkan UVJF 2018. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below