'Metamorfosis' Ay Tjoe Christine di Art Jakarta 2018


  • 'Metamorfosis' Ay Tjoe Christine di Art Jakarta 2018
    Di gelarannya yang ke-10 tahun ini, Art Jakarta memberi penghormatan pada perupa asal Bandung, Ay Tjoe Christine dengan sesi 'Metamorfosis'. (Foto: Dok/Harper's Bazaar Indonesia)

    Di dunia seni rupa kontemporer Indonesia, nama Ay Tjoe Christine (45) sudah tak asing lagi. Beberapa karyanya bahkan pernah masuk dalam daftar lukisan termahal tahun lalu yang diurut salah satu laman seni Indonesia, Sarasvati. Mengurut rekam jejaknya sejak dua dekade lalu, Art Jakarta 2018 lalu menghadirkan satu sesi khusus yang diberi tajuk 'Metamorfosis'. 

    Dalam sesi tersebut, publik diberi kesempatan untuk melihat kiprah Ay Tjoe sejak pertama kali berkarya hingga kini. Beberapa karya merupakan koleksi dari sejumlah kolektor Indonesia, dan memberi rentang waktu yang berbeda.



    Siapa AyTjoe Christine? Bagaimana bentuk karyanya? 

    (Baca juga: 17 Program Menarik di Pameran Seni Art Jakarta 2018)

    Lahir 27 Desember 1973,  di Bandung, Ay Tjoe Christine menamatkan studi seni grafis di Jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (1992-1997). Ia kemudian menerima beasiswa di Stiftung Kuenstlerdorf Schoeppinngen Germany, serta pernah pula diundang mengikuti residensi oleh STPI (Singapore Tyler Print Institute).

    Ketika masa awal berkarya, Ay Tjoe masih menggunakan teknik dry point, drawing di atas kertas hingga kemudian beralih menggunakan cat minyak dan kanvas, selain juga beberapa kali karya instalasi. Pameran 'Metamorfosis', menurut Direktur Kreatif Art Jakarta 2018, Rifky Effendy menghadirkan perkembangan artistik maupun pemikiran Ay Tjoe. 

    "Pada tiap karya Ay Tjoe selalu muncul kesan liris dan enigmatik, memperlihatkan garis-garis yang rumit saling berkelindan di antara goresan cat yang tebal-tipis," ungkapnya seperti pernyataan yang diterima HerWorld Indonesia, beberapa waktu lalu.



    Menurut Rifky, karya cetak grafis Ay Tjoe pada era 90-an memperlihatkan garis-garis tebal-tipis dominan yang disebabkan tekanan jarum baja di atas lempengan tembaga atau dry point maupun sketsa yang membentuk kemunculan figur.  

    Karakter dari teknis cetak ini memengaruhi watak kekaryaannya, walaupun kemudian terjadi perubahan-perubahan di dalamnya yang termutakhir seperti semakin memudarnya unsur bentuk figur atau abstraksi dalam karya-karyanya, terutama ketika ia beralih ke medium lukis.  

    Dalam dua dekade kiprahnya, Ay Tjoe pernah meraih sejumlah penghargaan berkat karyanya, sebut saja di antaranya pemenang 5 besar Philip Morris Indonesian Art Award pada 2007. Setahun berikutnya, ia menggelar pameran tunggal bertajuk Interiority of Hope, di Galeri Emmitan, Surabaya.  



    Di samping itu, Ay Tjoe juga pernah ikut berpartisipasi dalam pameran bersama baik di museum ataupun galeri, mulai dari gelaran di Jakarta, Singapura, Taipei, Hong Kong, Jepang, Inggris, hingga Perancis. Tahun ini, sejumlah karyanya akan menjadi salah satu highlight dari program Art Jakarta 2018, dan sayang untuk dilewatkan.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below