Moms, Kenali Masalah Gizi Pada Anak Yuk


  •  Moms, Kenali Masalah Gizi Pada Anak Yuk
    ilustrasi orang tua yang selalu terlibat dalam masalah anak saat memasuki masa remaja, (Foto: freepik)

    WANITA yang sedang memasuk masa remaja rentan mengalami berbagai masalah, dan peran orang tua sangat dibutuhkan di tengah masalah- masalah tersebut.


    Masalah itu sendiri karena faktor eksternal maupun internal, seperti menjamurnya makanan cepat saji dan makanan hits yang secara gizi sedikit, banyak tersebar kabar bohong tentang informasi gizi, dan games yang bikin mereka malas bergerak, plus dikondisi psikis mereka yang mudah dipengaruhi teman sebaya dan media sosial.




    Sehingga, membuat mereka terjebak dalam gaya hidup minim aktivitas -- yang seperti kamu ketahui kondisi itu mendekatkan orang terkena penyakit degeneratif (diabetes, hipertensi, stroke, atau penyakit jantung koroner)


    Solusi dari kondisi itu sendiri ialah orang tua harus memahami pentingnya memberi gizi seimbang pada anak dan masalahnya. Di bawah ini, Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek, mengungkap beberapa masalah kesehatan yang dialami dan mengancam masa depan remaja Indonesia.


    Adapun Paparan tersebut disampaikan oleh Plt. Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, dr. Pattiselano Robert Johan, MARS., dalam sebuah seminar kesehatan dan gizi remaja di Kantor Kemenkes, Jakarta (15/5). Berikut penjelasan lengkapnya.


    Remaja kurang zat besi (anemia)

    Salah satu masalah yang sering dialami remaja Indonesia ialah masalah gizi mikronutrien. Di mana  sekitar 12% remaja laki-laki dan 23% remaja perempuan mengalami anemia. Adapunsebagian besar diakibatkan kekurangan zat besi (anemia defisiensi besi).


    "Anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktifitas," kata Menkes.


    Apabila dibiarkan dalam kondisi lama bisa membuat berdampa serius, mengingat mereka adalah para calon ibu yang akan hamil dan melahirkan seorang bayi. Sehingga terjadi peningkatan risiko kematian ibu melahirkan, bayi lahir prematur dan berat bayi lahir rendah (BBLR) kalau kondisi anemia ini dibiarkan sampai dewasa. 


    Anemia sendiri dapat dihindari dengan konsumsi makanan tinggi zat besi, asam folat, vitamin A, vitamin C dan zink, dan pemberian tablet tambah darah (TTD). "Pemerintah memiliki program rutin terkait pendistribusian TTD bagi wanita usia subur (WUS), termasuk remaja dan ibu hamil," urai menkes.


    Remaja berbadan pendek

    Menurut Menkes, remaja Indonesia banyak yang tak menyadari bahwa mereka memiliki tinggi badan yang pendek atau stunting. Padahal, rata-rata tinggi anak Indonesia saja sudah lebih pendek dibandingkan dengan standar WHO, yaitu lebih pendek 12,5cm pada laki-laki dan lebih pendek 9,8cm pada perempuan. 


    Stunting ini dapat menimbulkan dampak jangka pendek, diantaranya penurunan fungsi kognitif, penurunan fungsi kekebalan tubuh, dan gangguan sistem metabolisme tubuh. Dan bisa menimbulkan risiko penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi, dan obesitas. 


    "Oleh karena itu, pencegahan dan penanganan stunting menjadi salah satu prioritas nasional sampai saat ini. Tujuannya mewujudkan cita-cita bersama yaitu menciptakan manusia Indonesia yang tinggi, sehat, cerdas, dan berkualitas" kata Menkes.


    Remaja alami tubuh kurus 

    Remaja bertubuh kurus bisa disebabkan karena kurang asupan zat gizi, baik karena alasan ekonomi maupun alasan psikososial. Dijelaskan Menkes, kondisi remaja meningkatkan risiko berbagai penyakit infeksi dan gangguan hormonal yang berdampak buruk di kesehatan. Namun demikian, sebenarnya tubuh kurus dapat dicegah asal anak selalu mengonsumsi makanan bergizi seimbang.


    Kegemukan atau Obesitas

    Dalam data Global School Health Survey tahun 2015, remaja cenderung menerapkan pola sedentary life atau kurang melakukan aktifitas fisik (42,5%). Padahal gaya hidup ini meningkatkan risiko seseorang menjadi gemuk, atau bahkan obesitas. 


    Obesitas sendiri meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi, penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus, kanker, osteoporosis dan lain-lain. Semau kondisi itu bisa mengakibatkan penurunan produktifitas dan komplikasi organ yang bisa nyawa meregang. 


    "Pada prinsipnya, sebenarnya obesitas remaja dapat dicegah dengan mengatur pola dan porsi makan dan minum. Misal, perbanyak konsumsi buah dan sayur, banyak melakukan aktivitas fisik, hindari stres dan cukup tidur," kata Menkes.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below